Uap panas menyembur dari katup pipa yang berkarat, menciptakan kabut tipis yang berbau tembaga dan minyak basi. Aku merangkak di belakang Maya, jemariku mencengkeram tepian besi yang licin oleh lumut sintetis. Di ruang sempit ini, gravitasi terasa sedikit goyah, seolah-olah menara ini sendiri sedang mual menelan keberadaanku.
"Sedikit lagi, Zaki. Jangan lepaskan peganganmu kalau kau tidak mau berakhir di penggilingan limbah Lant** 10," bisik Maya. Suaranya memantul pelan di antara dinding logam melingkar.
Aku tidak menjawab. Paru-paruku terasa sesak, bukan karena kurangnya oksigen, melainkan karena beban rahasia yang kubawa dari Lant** 99. Bayangan palka pembuangan yang hampa itu masih menghantui korneaku. Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat ribuan orang yang berharap akan 'surga' justru didorong menuju kehampaan untuk menjadi santapan ras Valthar.
Kami keluar dari lorong sempit itu dan mendarat di sebuah anjungan luas yang tersembunyi di balik jalinan pipa raksasa. Tempat ini adalah labirin besi yang kacau. Cahaya berasal dari pendaran lumut bioluminesen yang sengaja dikembangkan di sela-sela kabel. Di bawah sana, puluhan orang bergerak dengan senyap. Mereka tidak memakai seragam putih bersih seperti para elit di lant** atas. Mereka mengenakan pakaian dari serat tambalan, wajah mereka kusam oleh jelaga, tapi mata mereka menyala dengan kewaspadaan yang tidak kutemukan pada warga menara yang patuh.
"Selamat datang di Jantung Vena," kata Maya, merentangkan tangannya pelan. "Rumah bagi mereka yang dianggap mati oleh sistem."
Belum sempat aku mengagumi skala pemukiman rahasia ini, suara klik logam yang sangat kukenal terdengar tepat di belakang telingaku. Moncong laras senapan plasma yang panas menempel di tengkukku.
"Berhenti di situ, Tikus Menara," sebuah suara berat dan serak memerintah.
Maya tersentak dan segera mengangkat kedua tangannya. "Bara, turunkan senjatamu! Dia bersamaku. Dia yang melihat apa yang terjadi di puncak."
Seorang pria bertubuh tegap dengan parut luka bakar yang melintang di sepanjang rahangnya melangkah dari kegelapan. Ia mengenakan rompi pelindung yang dirakit dari plat baja bekas sektor keamanan. Matanya yang berwarna kelabu menatapku dengan kebencian yang murni, seolah-olah aku adalah wabah yang ma**k ke sarangnya.
"Dia bukan salah satu dari kita, Maya," geram pria bernama Bara itu. Matanya beralih ke pergelangan tanganku, menunjuk pada bekas memar berbentuk gelangβsisa dari borgol magnetik keamanan lant** atas yang sempat mengikatku. "Lihat tanda itu. Dia bau orang-orang Atas. Bagaimana kita tahu dia bukan pelacak hidup yang dikirim untuk memetakan koordinat kita?"
"Aku bukan mata-mata," kataku, berusaha menjaga suaraku tetap tenang meski jantungku berdegup kencang di dinding dada. Aku perlahan berbalik menghadapnya, membiarkan laras senjatanya sekarang menekan dadaku. "Kalau aku bekerja untuk mereka, pa**kan penjaga sudah meledakkan pipa ini sejak sepuluh menit yang lalu."
Bara mendengus, tawa kering yang tidak menyenangkan. "Atau mereka membiarkanmu ma**k agar kami merasa aman sebelum mereka menyemprotkan gas saraf ke seluruh sektor ini. Kau tahu berapa banyak kawan kami yang mati karena mempercayai orang 'asing' sepertimu?"
Beberapa orang lain mulai berkumpul di sekitar kami. Mereka membawa linggis, pisau laser pendek, dan alat-alat mekanik yang telah dimodifikasi menjadi senjata mematikan. Lingkaran itu menyempit. Aku bisa merasakan permusuhan yang pekat, sebuah insting bertahan hidup dari komunitas yang telah berulang kali dikhianati.
"Dia melihat palka pembuangan itu, Bara!" teriak Maya, melangkah di antara kami. "Dia melihat kebohongan Lant** 100 dengan matanya sendiri! Dia punya data navigasi yang bisa membantu kita mematikan sistem gravitasi."
Bara tidak bergeming. Ia justru menekan senjatanya lebih keras ke tulang selangkanganku. "Semua orang bisa mengarang cerita tentang puncak menara. Tapi hanya an**** peliharaan Valthar yang bisa kembali dari sana hidup-hidup. Katakan padaku, Pemanjat, berapa harga yang mereka tawarkan padamu untuk menjual kami? Posisi sebagai pengawas? Jatah nutrisi ekstra?"
Aku menatap tepat ke matanya. "Mereka menawariku hidup nyaman di atas sana sebagai pengkhianat. Mereka menyebutnya 'posisi elit'. Tapi aku menolak karena aku tidak ingin menjadi pelayan bagi makhluk yang memakan jenisku sendiri."
Suasana mendadak hening. Kata 'memakan' seolah menjadi racun yang membekukan udara.
"Kau berbohong," desis seorang wanita tua dari kerumunan, tangannya gemetar memegang kunci inggris besar. "Kenaikan adalah suci. Anakku naik tahun lalu... dia dikirim ke tempat yang lebih baik."
"Anakmu tidak pergi ke mana-mana, Nek," kataku dengan nada pahit yang tidak bisa kusembunyikan. "Dia hanya menjadi protein cair dalam tabung nutrisi Valthar. Menara ini bukan perlindungan. Ini adalah piring makan."
Kemarahan meledak di wajah Bara. Ia menyentakkan senjatanya, memukul bahuku hingga aku terjatuh berlutut di atas lant** logam yang dingin. Sebelum aku bisa bangkit, dua pria besar mencengkeram lenganku, menekan wajahku ke besi yang berkarat.
"C**up dengan dongeng mengerikanmu!" teriak Bara. "Kau mencoba menghancurkan satu-satunya harapan yang tersisa bagi orang-orang ini hanya untuk memicu kerusuhan yang menguntungkan tuanmu? Maya, kau melakukan kesalahan besar membawanya ke sini."
Bara memberi isyarat kepada bawahannya. "Bawa dia ke Ruang Pengasingan. Periksa setiap inci tubuhnya. Jika kau menemukan chip pelacak atau pemancar sekecil apa pun, potong lehernya dan buang ke pipa pembuangan."
"Bara, jangan!" Maya mencoba protes, tapi seorang pemberontak lain menahannya.
Aku tersengal, merasakan logam dingin menekan pipiku saat aku diseret paksa menyusuri lant**. Aku menoleh ke arah Bara, penglihatanku sedikit kabur karena benturan tadi. "Kau bisa membunuhku sekarang, Bara. Tapi itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa jam makan siang mereka akan segera tiba, dan kalian semua ada di menu berikutnya."
Bara berhenti melangkah, punggungnya menegang. Ia tidak berbalik, tapi aku bisa melihat tangannya yang memegang senjata gemetar karena amarahβatau mungkin ketakutan yang mulai merayap.
"Tutup mulutnya," perintah Bara dingin.
Saat mereka menyeret aku ma**k ke dalam ruangan gelap yang berbau apek, aku menyadari bahwa meyakinkan para pemberontak ini mungkin akan jauh lebih sulit daripada memanjat dinding luar menara. Di luar sana, armada Valthar sedang menunggu. Di dalam sini, manusia justru saling mencekik di tengah kebenaran yang terlalu menyakitkan untuk dipercaya.
Pintu besi berat itu berdentang menutup, mengunci aku dalam kegelapan total. Aku hanya bisa mendengar detak jantungku sendiri dan gema suara mesin menara yang terus menderu, menghitung mundur waktu menuju 'panen' berikutnya. Jika aku tidak bisa meyakinkan mereka dalam beberapa jam ke depan, kami semua akan berakhir menjadi debu di angkasa, tanpa pernah melihat hijaunya bumi yang selama ini mereka anggap telah mati.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!