Udara di Sektor 90 terasa berbedaβterlalu bersih, terlalu steril, dan mengandung aroma ozon yang tajam hingga menusuk lubang hidung. Zaki meremas jemarinya yang kapalan, mencoba meredakan tremor halus yang merayapi lengannya. Di sini, di jantung administrasi para pengawas, cahaya lampu neon tidak pernah berkedip. Semuanya stabil, dingin, dan memuakkan.
"Ingat, Zaki," bisik suara Maya melalui earpiece mikro yang tersembunyi di balik liang telinganya. "Komandan Draken bukan manusia biasa lagi. Jangan tatap matanya terlalu lama. Ambil kartunya, dan keluar."
Zaki tidak menjawab. Ia hanya menyesuaikan kerah seragam perak yang terasa mencekik lehernya. Seragam ini adalah tiket ma**knya, sekaligus beban yang mengingatkannya pada pengkhianatan yang sedang ia pura-purakan. Ia berjalan menyusuri lorong panjang yang dindingnya memantulkan bayangan dirinya yang terlihat asing.
Di ujung lorong, pintu geser pneumatik terbuka dengan desisan halus. Ruang kerja Komandan Draken lebih mirip laboratorium daripada kantor. Di tengah ruangan, seorang pria berdiri membelakangi Zaki, menghadap jendela besar yang menampilkan pemandangan awan abadi yang menyelimuti Menara Langit.
"Kau terlambat dua menit, Rekrutan Baru," suara Draken berat, memiliki resonansi metalik yang tidak alami.
Zaki menelan ludah. "Navigasi di sektor ini c**up membingungkan, Komandan."
Draken berbalik. Pria itu bertubuh tinggi, namun proporsinya terasa salah. Bahunya terlalu lebar, dan lehernya terlihat diperkuat oleh serat karbon yang menonjol di bawah kulit pucatnya. Mata kirinya telah diganti dengan lensa optik berwarna merah redup yang terus berputar mencari fokus.
"Ketepatan waktu adalah satu-satunya hal yang membedakan kita dari ternak di lant** bawah," Draken melangkah maju. Setiap langkahnya menimbulkan bunyi dentuman berat yang seolah menggetarkan lant** logam. "Kau di sini untuk mengambil mandat patroli, bukan?"
"Benar, Komandan," Zaki berusaha menjaga suaranya tetap datar. Matanya melirik ke pinggang Draken. Di sana, tergantung sebuah kunci akses berbentuk silinder perakβsatu-satunya kunci yang bisa membuka gerbang menuju inti gravitasi.
"Ambil ini," Draken mengulurkan sebuah tablet digital.
Saat Zaki melangkah maju untuk meraihnya, ia sengaja menyenggol lengan Draken. Dengan gerakan yang telah ia latih ribuan kali di ruang-ruang sempit Lant** Bawah, jemari Zaki menyelinap ke arah ikat pinggang sang Komandan. Ujung jarinya baru saja menyentuh dinginnya logam kunci itu ketika sebuah tangan sekeras baja mencengkeram pergelangan tangannya.
Cengkeraman itu begitu kuat hingga Zaki bisa mendengar suara tulang sendinya yang berderit.
"Kau pikir aku tidak bisa merasakan aliran listrik dari sarafmu yang bergejolak, Zaki?" Draken menyeringai, menampakkan deretan gigi yang semuanya telah diganti dengan porselen industri. "Kau berbau ketakutan. Dan pengkhianatan."
Tanpa peringatan, Draken mengayunkan lengan satunya. Zaki berhasil merunduk, namun hembusan angin dari pukulan itu merobek udara di atas kepalanya. Zaki melompat mundur, jantungnya berdegup kencang seperti mesin yang rusak.
"Kau bukan manusia," desis Zaki, mengambil posisi rendah, kakinya mencari tumpuan di lant** yang licin.
"Aku adalah evolusi," raung Draken. Ia menerjang maju dengan kecepatan yang mustahil bagi ukuran tubuhnya.
Zaki menghindar ke samping, memanfaatkan kelincahannya sebagai pemanjat. Ia meluncur di bawah meja kerja Draken, lalu menendang kursi berat ke arah kaki sang Komandan. Namun, Draken hanya menepis kursi itu seolah-olah itu terbuat dari kardus.
Draken meraih kerah baju Zaki dan mengangkatnya dengan satu tangan. Tubuh Zaki menghantam dinding dengan dentuman keras. Paru-parunya seolah kempes, oksigen menghilang seketika.
"Valthar memberiku kekuatan ini sebagai imbalan atas kesetiaan," Draken mendekatkan wajahnya. Lensa merah di matanya membesar, memindai pupil Zaki. "Sementara kau... kau hanya akan menjadi nutrisi berkualitas rendah."
Zaki merasakan pandangannya mengabur, namun insting bertahannya mengambil alih. Ia tidak bisa menang dalam adu kekuatan, tapi ia tahu tentang titik lemah strukturalβbaik pada bangunan maupun makhluk hidup. Ia meraih pisau kecil pemotong kabel yang ia sembunyikan di dalam lengan bajunya.
Dengan sisa tenaga, Zaki menghujamkan pisau itu bukan ke jantung Draken, melainkan ke celah antara leher dan bahu, tepat di mana kabel serat optik menyambung ke saraf tulang belakang sang Komandan.
Percikan listrik biru meledak. Draken meraung, suaranya berubah menjadi distorsi elektronik yang menyakitkan telinga. Cengkeramannya mengendur. Zaki jatuh ke lant**, terbatuk-batuk mencari udara.
Draken terhuyung, sistem motoriknya mengalami malfungsi. Lengan kirinya bergerak-gerak liar tanpa kendali. Zaki tidak membuang waktu. Ia menerjang maju, merenggut kunci silinder dari ikat pinggang Draken dengan satu tarikan kasar.
"Zaki! Keluar dari sana sekarang! Sensor keamanan mendeteksi lonjakan energi di ruangan itu!" teriak Maya di telinganya.
Zaki melirik ke arah Draken yang mulai bangkit kembali, wajahnya memerah karena amarah yang murni, kabel-kabel di lehernya mengeluarkan asap hitam yang berbau plastik terbakar. Mata merah pria itu kini berkedip liar, menandakan sistem cadangannya mulai aktif.
"Ini belum selesai, Tikus Menara!" raung Draken, suaranya kini terdengar seperti dua logam yang saling bergesekan.
Zaki berbalik dan berlari menuju pintu keluar. Saat pintu terbuka, ia melihat koridor yang tadinya sepi kini dipenuhi oleh lampu peringatan berwarna merah yang berputar. Suara sirene mulai meraung, membelah kesunyian Sektor 90.
Ia berhasil mendapatkan kuncinya, tapi ia baru saja membangunkan seluruh sarang lebah. Saat ia berbelok di tikungan pertama, Zaki berhenti mendadak. Di ujung koridor, tiga penjaga dengan senapan plasma sudah menunggunya.
Zaki menatap kunci di tangannya, lalu ke arah para penjaga. Tidak ada jalan kembali. Ia baru saja memulai perang yang tidak mungkin ia menangkan sendirian.
"Maya," bisik Zaki sambil terengah-engah, "Katakan padaku kau punya rencana cadangan, karena aku tidak akan suka dengan apa yang akan kulakukan selanjutnya."
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!