Angin di ketinggian puluhan ribu kaki tidak hanya bertiup; ia mencabik. Begitu pintu palka darurat di sisi luar Lant** 82 terbuka, Zaki merasa seolah-olah seluruh atmosfer mencoba menyedot paru-parunya keluar. Suara menderu pelan dari dalam menara berganti dengan raungan liar angin yang menghantam pelat logam eksterior.
"Ingat, Zaki! Jangan pernah lepaskan kedua kait magnetikmu secara bersamaan!" Suara Maya terdengar pecah di dalam interkom helm Zaki, terdistorsi oleh gangguan statis yang mulai meningkat.
Zaki menarik napas pendek, merasakan uap dingin membeku di balik visornya. Di bawah kakinya, tidak ada apa-apa selain lapisan awan tebal yang menyerupai lautan kapas kelabu yang tak berujung. Jauh di balik lapisan itu, ia tahu ada daratan hijau yang menanti—sebuah janji yang selama ini dianggap dongeng. Namun, di antara dirinya dan kebebasan itu, terdapat ribuan ton logam alien dan gravitasi yang siap meremukkan tulang-tulangnya.
Zaki menempelkan sarung tangan magnetiknya ke dinding luar menara. *Klik.* Bunyi logam bertemu logam memberikan sedikit rasa aman yang semu. Ia mulai bergerak menyamping, merayap seperti serangga di atas tiang raksasa. Dinding menara ini tidak rata; permukaannya dipenuhi dengan sirkuit bercahaya biru redup dan tonjolan-tonjolan geometris yang aneh—khas arsitektur Valthar yang dingin dan efisien.
"Maya, kau di belakangku?" tanya Zaki. Suaranya terdengar berat karena usaha fisik yang luar biasa. Setiap gerakan menuntut otot bahunya bekerja keras melawan tekanan angin yang ingin melemparnya ke kehampaan.
"Tepat di bawahmu," jawab Maya. Zaki melirik ke bawah sebentar. Gadis itu bergerak dengan presisi seorang teknisi, meski tubuhnya yang lebih kecil tampak gemetar setiap kali embusan angin kencang menghantam. "Badai elektromagnetik itu... dia datang lebih cepat dari kalkulasiku, Zaki. Sensor-sensorku mulai g***."
Zaki mendongak. Langit yang tadinya hitam pekat kini mulai dihiasi oleh kilatan-kilatan cahaya ungu yang menari-nari di antara awan. Itu bukan petir biasa. Itu adalah efek samping dari mesin pendorong gravitasi Menara Langit yang berinteraksi dengan ionosfer. Bagi manusia di dalam menara, itu mungkin hanya dianggap fenomena alam. Bagi Zaki yang berada di luar, itu adalah hukuman mati yang bercahaya.
*Zzap!*
Sebuah busur listrik kecil menyambar antena di dekat Zaki, memercikkan bunga api yang menyilaukan. Zaki tersentak, tangannya nyaris terlepas. Jantungnya berdegup kencang hingga ia bisa mendengarnya di telinga.
"Tetap fokus!" teriak Maya, lebih kepada dirinya sendiri. "Kita harus mencapai lubang ventilasi di sektor 4-B sebelum denyut elektromagnetiknya mencapai puncaknya, atau sistem magnetik di sarung tangan kita akan mati total!"
Zaki mempercepat gerakannya. Otot-otot lengannya mulai terasa panas, seperti disiram cairan asam. Setiap kali ia memindahkan tangan, ia harus melawan tarikan magnet yang sangat kuat, lalu kembali menahannya agar tidak terhempas angin. Keringat mengalir di pelipisnya, perih saat mengenai mata, tapi ia tidak bisa menyekanya.
Tiba-tiba, getaran hebat merambat melalui dinding menara. Suara dengung rendah yang m****akkan telinga seolah keluar dari perut bumi.
"Apa itu?" teriak Zaki.
"Denyut pemanenan!" suara Maya terdengar panik. "Valthar mulai mengaktifkan sistem pengisap nutrisi di lant** atas. Mereka mempercepat prosesnya!"
Langit di atas mereka meledak dalam warna ungu yang menyakitkan mata. Udara di sekitar mereka mendadak terasa statis; rambut-rambut halus di tengkuk Zaki berdiri tegak. Kemudian, bencana itu datang. Sebuah gelombang elektromagnetik menyapu dinding menara.
*Bzzzt—tak!*
Lampu indikator di pergelangan tangan Zaki berkedip merah. "Maya! Magnetku melemah!"
"Gunakan kait manual! Cepat!"
Zaki dengan panik meraih pengait baja di pinggangnya, mencoba menghujamkannya ke celah antar pelat logam. Tangannya gemetar hebat. Di bawahnya, ia mendengar jeritan tertahan. Maya tergelincir. Salah satu sepatu magnetiknya kehilangan daya, membuatnya berayun di udara, hanya tertahan oleh satu tangan yang mencengkeram pinggiran sirkuit luar.
"Maya!" Zaki berteriak, badannya condong ke bawah, berusaha meraih tangan gadis itu.
"Jangan lepaskan peganganmu, Zaki! Kau akan jatuh!" Maya berteriak melawan raungan angin. Wajahnya di balik helm tampak pucat pasi, matanya membelalak melihat kedalaman ribuan meter di bawah kakinya.
Kilatan ungu kembali menyambar, kali ini lebih dekat, menghantam modul komunikasi di bahu Zaki. Rasa tersetrum menjalar ke seluruh sarafnya, membuatnya mengerang kesakitan. Pandangannya sempat memutih sejenak. Dunia seolah berputar. Di saat yang sama, ia merasakan getaran lain—sesuatu yang lebih buruk dari badai.
Dari balik lengkungan menara, sebuah objek metalik berbentuk cakram dengan lampu merah tunggal di tengahnya muncul. Unit patroli Valthar. Mesin itu mengeluarkan suara mekanis yang tajam, sensornya langsung mengunci posisi dua penyusup yang tergantung di dinding luar.
"Zaki... ada drone," bisik Maya, suaranya terdengar putus asa di sela deru badai yang kian mengg***.
Zaki menatap drone yang mulai mengisi daya senjatanya, lalu menatap Maya yang tergantung lemah, dan akhirnya menatap langit ungu yang siap melepaskan badai elektromagnetik pamungkas. Mereka terjebak di antara kematian karena jatuh, tersetrum badai, atau ditembak mati oleh penjaga alien.
"Pegang tanganku, Maya," desis Zaki, giginya gemeletuk karena dingin dan amarah. "Sekarang atau tidak sama sekali."
Tepat saat drone itu melepaskan tembakan laser pertamanya, petir ungu raksasa menyambar puncak menara, mengirimkan gelombang kejut yang mematikan seluruh sistem elektronik di area tersebut—terma**k magnet yang menahan mereka di dinding. Zaki merasakan sensasi perut yang mencelos saat gravitasi akhirnya menang, dan mereka berdua mulai jatuh bebas ke dalam kegelapan badai.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!