Aroma Obsesi: Rahasia di Balik Loker

Bab 1: Bab 1 - Memperkenalkan rutinitas gym Dira dan ketertari...

Pengaturan Membaca

Lampu neon di langit-langit *Elite Fitness* memantul pada permukaan lant** parket yang dipoles sempurna, menciptakan siluet panjang yang mengikuti setiap langkah kakiku. Pukul delapan malam. Jam-jam di mana kerumunan orang yang hanya ingin pamer otot sudah pulang, menyisakan kesunyian yang diredam oleh dentum musik *techno* bervolume rendah. Aku menyukai jam ini. Aku menyukai keteraturan dalam kesunyian ini.

Aku menarik napas panjang, membiarkan aroma karet, pembersih lant** beraroma lemon, dan sedikit sisa keringat memenuhi paru-paruku. Di kantorku, semuanya harus presisi—laporan keuangan tanpa selisih satu sen pun, jadwal rapat yang tidak boleh bergeser semenit pun. Di sini, di atas *treadmill* nomor empat, aku mencari presisi yang berbeda. Kecepatan 8,5 kilometer per jam. Tidak lebih, tidak kurang.

"Terlalu tegang, Dira. Bahumu naik lagi."

Suara bariton itu muncul dari arah belakang, membuat detak jantungku melonjak lebih cepat daripada yang bisa dilakukan mesin lari ini. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aroma maskulin yang khas—campuran *sandalwood*, mint, dan sesuatu yang tajam seperti logam dingin—sudah mendahului kehadirannya.

Aris.

Aku menekan tombol *stop* secara perlahan, membiarkan mesin itu melambat hingga benar-benar berhenti sebelum aku turun. Aris berdiri di sana, bersandar pada pilar beton dengan tangan bersedekap di dada. Kaus hitam tanpa lengannya menunjukkan otot bisep yang padat, urat-urat halus menonjol di lengan bawahnya yang kecokelatan. Ia menatapku dengan tatapan yang selalu sulit kubaca—setengah menilai sebagai pelatih profesional, setengah lagi entah apa.

"Aku hanya fokus," kataku, berusaha menjaga suaraku tetap datar. Aku meraih handuk kecil di atas dasbor mesin dan menyeka keringat di leherku, sadar betul bahwa matanya mengikuti setiap gerakanku.

"Fokus dan obsesi itu beda tipis," sahut Aris. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak aman yang selalu aku pertahankan. "Kau berlari seolah-olah sedang melarikan diri dari sesuatu, bukan untuk kesehatan."

"Bukannya itu tugasmu? Memastikan aku mencapai target, apa pun alasannya?" Aku menantang tatapannya.

Aris terkekeh pelan, suara rendah yang bergetar di udara malam yang dingin. "Tugasku adalah memastikan kau tidak merusak dirimu sendiri. Mari, ke area *weight training*. Hari ini jadwalmu melatih otot *core*."

Aku mengikutinya, mataku tanpa sadar terpaku pada punggungnya yang lebar. Gerakannya luwes, hampir seperti predator yang bergerak di habitat aslinya. Aris adalah anomali dalam hidupku yang teratur. Dia tidak bisa diprediksi. Dia tidak ma**k dalam kolom-kolom *spreadsheet* yang biasa kubuat. Dan itu membuatku takut, sekaligus haus.

Di area matras, Aris memintaku melakukan *plank*. Aku mengambil posisi, menahan beban tubuhku pada lengan bawah. Ketegangan mulai merayap di perutku.

"Tahan. Jangan biarkan pinggulmu turun," perintahnya.

Aku menggertakkan gigi, keringat mulai menetes dari ujung hidungku ke matras hitam di bawahku. Tiba-tiba, aku merasakan sentuhan hangat di punggung bawahku. Hanya ujung jari, namun rasanya seperti aliran listrik yang menyengat kulitku melalui serat kain *legging* yang tipis.

"Angkat sedikit lagi," bisiknya, membungkuk di sampingku sehingga aku bisa merasakan embusan napasnya di dekat telingaku.

Aku menahan napas. Sentuhan itu tidak berlangsung lama, hanya beberapa detik, tapi sensasinya tertinggal di sana seperti tanda cap panas. Tangannya yang kasar namun terkontrol adalah satu-satunya hal yang nyata di ruangan ini.

"C**up," katanya setelah satu menit yang terasa seperti selamanya.

Aku jatuh terduduk, terengah-engah. Aris berdiri di atas seolah tidak terpengaruh, menyerahkan sebotol air mineral yang sudah terbuka tutupnya. "Kau terlalu keras pada dirimu sendiri, Dira. Sesekali, kau harus belajar melepaskan kendali."

Aku menerima botol itu, jemariku bersentuhan dengan jemarinya yang besar. Aku segera menarik tanganku kembali setelah botol itu berpindah tangan. "Aku tidak suka sesuatu yang tidak terkendali, Aris. Itu berantakan."

"Berantakan kadang-kadang indah," sahutnya dengan nada misterius yang membuat bulu kudukku meremang. Ia melirik jam tangannya. "Sesi kita selesai. Mandilah, jangan sampai ototmu kaku besok."

Aris berbalik dan berjalan menuju ruang instruktur tanpa menoleh lagi. Aku memperhatikannya sampai ia menghilang di balik pintu kayu gelap itu. Napasku masih belum stabil, dan itu bukan karena olahraga yang baru saja kulakukan. Ada dorongan aneh di dalam dadaku, sebuah rasa penasaran yang mulai terasa seperti rasa lapar yang tak terpuaskan.

Aku berjalan menuju ruang ganti wanita yang sudah sepi. Suara sepatuku menggema di koridor yang panjang. Di depan pintu ruang ganti, aku berhenti sejenak, melirik ke arah deretan loker pria yang letaknya tidak jauh dari sana.

Pintu salah satu loker di ujung barisan pria tampak sedikit terbuka, tidak terkunci dengan benar. Itu loker nomor 12. Aku tahu itu loker Aris. Aku sering melihatnya menaruh tas olahraganya di sana setiap pagi.

Logika di kepalaku menyuruhku untuk terus berjalan menuju ruang ganti wanita, mandi, lalu pulang ke apartemenku yang rapi dan tidur. Namun, tanganku seolah memiliki kemauannya sendiri. Kakiku melangkah menuju loker yang tidak tertutup rapat itu.

Jantungku berdegup kencang, menghantam rusukku dengan keras. Ini salah. Ini melanggar privasi. Ini bukan diriku yang perfeksionis dan taat aturan.

Namun, saat aku berdiri di depan loker itu, aroma Aris yang pekat langsung menyergap indra penciumanku. Itu bukan sekadar aroma parfum; itu adalah aroma tubuhnya, aroma otoritasnya, aroma rahasianya.

Tanganku gemetar saat aku menarik pintu loker itu sedikit lebih lebar. Di dalamnya, tidak ada banyak barang. Sebuah jaket *hoodie* hitam yang tergantung lemas, tas olahraga kulit yang sudah agak usang, dan sebuah benda kecil yang tergeletak di rak atas.

Sebuah alat c**ur elektrik berwarna perak.

Aku menelan ludah. Suasana gym yang sunyi membuat suara napasku sendiri terdengar seperti deru badai. Tanpa berpikir panjang, aku meraih alat c**ur itu. Benda itu terasa dingin di telapak tanganku, namun masih menyimpan sisa-sisa energi dari pemiliknya.

Aku membawanya mendekat ke wajahku. Di celah-celah pisau c**urnya, aku bisa melihat butiran-butiran halus rambut hitam—sisa-sisa dari rahang Aris yang selalu tampak tajam itu. Dan aroma itu... aroma sabun c**ur yang maskulin dan sisa panas mesin itu ma**k mera**ki kepalaku, mengaburkan kewarasanku.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki berat dari arah koridor.

Aku tersentak. Panik melanda seketika. Tanpa sempat berpikir untuk mengembalikan benda itu, aku menutup pintu loker dengan gerakan cepat dan menyelinap ma**k ke dalam ruang ganti wanita, jantungku berpacu seperti akan meledak.

Aku berdiri di balik pintu ruang ganti yang tertutup, mendekap alat c**ur itu di dadaku. Napasku tersengal. Aku baru saja mencuri sesuatu milik Aris. Sesuatu yang sangat pribadi.

Seharusnya aku merasa bersalah. Seharusnya aku merasa jijik pada diriku sendiri. Namun, saat aku mencium aroma yang tertinggal di benda di genggamanku, yang kurasakan justru letupan gairah yang gelap dan murni.

Ini baru permulaan, bisik sebuah suara di kepalaku. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak ingin mengendalikan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca