Lant** marmer koridor belakang gym ini terasa jauh lebih dingin di bawah telapak kakiku, meski aku mengenakan sepatu lari bermerek yang empuk. Lampu neon di langit-langit berkedip ritmis, menciptakan bayangan panjang yang seolah-olah berusaha menangkap tumitku. Aku tahu aku seharusnya tidak berada di sini. Pintu abu-abu dengan tulisan "STAFF ONLY" itu seharusnya menjadi batas suci yang tidak boleh kulanggar.
Namun, aroma ituβcampuran antara kayu cendana, keringat tipis, dan *pomade* maskulin yang selalu tertinggal di kaus Arisβseperti benang tak terlihat yang menarik ujung hidungku. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Area ini sepi. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, tiga puluh menit sebelum gym ditutup. Para member lain sudah pulang atau sedang mandi di ruang ganti utama.
Tanganku yang gemetar meraih gagang pintu besi itu. Dingin. Aku menekan perlahan, berharap suara gesekan engsel tidak mengkhianatiku. Keberuntungan berpihak padaku; pintu itu tidak terkunci.
Di dalam, ruangan itu sempit dan pengap, dipenuhi loker-loker besi berwarna kusam yang berbeda dari loker mewah di depan. Aku menyusuri barisan nama yang tertempel di setiap pintu loker. *Budi, Satria, Rio...* dan di sana, di sudut paling ujung yang sedikit tersembunyi, tertulis sebuah nama yang membuat jantungku berdegup kencang: *Aris*.
Aku berdiri mematung di depannya. Napas membentur masker kain yang kukenakan, terasa hangat dan memburu. Aku tidak ingin mencuri. Aku hanya ingin... merasakan kehadirannya di ruang pribadinya. Tanganku gemetar saat menyentuh pintu loker nomor 14 itu. Ada sedikit karat di pinggirannya. Saat aku mendekatkan wajahku ke celah ventilasi loker, aroma itu menyeruak keluar. Lebih kuat. Lebih intim. Ini adalah aroma Aris yang tidak tercampur dengan parfum mahal atau udara segar di area *treadmill*. Ini adalah aroma rahasianya.
Aku memejamkan mata, menghirupnya dalam-dalam sampai paru-paru terasa penuh. Sensasi panas menjalar dari tengkuk hingga ke ujung jemari kaki. Dalam kegelapan di balik kelopak mataku, aku bisa membayangkan Aris berdiri di belakangku, tangan besarnya yang kasar karena beban besi mengusap bahuku...
"Puas, Mbak Dira?"
Suara itu datar, dingin, dan meledak seperti dentuman meriam di ruangan yang sunyi ini.
Aku tersentak hebat hingga punggungku menghantam loker besi di belakangku. Bunyi *dentang* keras menggema, m****akkan telinga. Jantungku serasa merosot ke perut. Aku membuka mata dan menemukan sesosok pria berdiri di ambang pintu yang kini terbuka lebar.
Bukan Aris. Itu Pak Hendra, manajer operasional gym yang dikenal karena wajahnya yang sekaku papan tulis. Di sampingnya, seorang petugas keamanan berseragam biru tua berdiri dengan tangan di belakang punggung, wajahnya tanpa ekspresi namun matanya menatapku seolah aku adalah tikus got yang tertangkap basah.
"S-saya... saya hanya tersesat," suaraku keluar seperti bisikan yang pecah. Aku mencoba merapikan kuncir kudaku yang sebenarnya sudah rapi, sebuah refleks saraf yang selalu muncul saat aku terpojok.
Pak Hendra tidak tersenyum. Dia mengangkat sebuah tablet digital di tangan kirinya. Layarnya menyala terang di keremangan ruangan. "Tersesat selama delapan menit di depan loker staf sambil mengendus-endus udara, Mbak? Itu navigasi yang sangat buruk untuk seseorang yang jenius di bidang audit perusahaan."
Darah seolah tersedot habis dari wajahku. Aku merasa pucat pasi. "Saya bisa jelaskan, Pak Hendra. Saya tadi mencariβ"
"Ikut ke ruangan saya. Sekarang," potongnya tanpa kompromi. Dia berbalik badan, membiarkan petugas keamanan itu memberiku isyarat dengan dagunya agar aku berjalan lebih dulu.
Setiap langkah menuju ruang manajer terasa seperti berjalan menuju tiang gantungan. Di sepanjang lorong, aku melihat bayanganku di cermin-cermin besar gym. Wanita di cermin itu tampak asing; matanya liar, wajahnya tegang, dan dia tidak lagi terlihat seperti Dira Amara yang perfeksionis dan selalu terkendali. Dia terlihat seperti seorang penguntit. Seorang wanita yang kehilangan akal sehatnya.
Di dalam ruangannya, Pak Hendra duduk di balik meja kayu besar. Dia memutar tabletnya sehingga menghadap ke arahku. Sebuah video terputar di sana. Hitam putih, namun sangat tajam.
Aku melihat diriku sendiri. Aku melihat betapa menyedihkannya aku saat menyandarkan dahi ke pintu loker Aris. Aku melihat bagaimana tanganku mengelus permukaan besi itu dengan penuh damba, seolah-olah itu adalah kulit manusia. Aku melihat diriku yang tampak... sakit.
"Kami memasang kamera tersembunyi di area staf setelah ada laporan kehilangan barang bulan lalu," kata Pak Hendra, suaranya tenang namun menghujam. "Saya tidak menyangka bahwa yang akan tertangkap justru adalah salah satu member *gold* kami yang paling teladan."
"Saya tidak mengambil apa pun! Sumpah!" seruku, suaraku meninggi karena panik. "Bapak bisa periksa tas saya. Tidak ada satu pun barang milik staf yang saya bawa!"
"Masalahnya bukan pada pencurian, Mbak Dira," Pak Hendra menyandarkan punggungnya, menatapku dengan tatapan menghakimi. "Masalahnya adalah perilaku obsesif dan pelanggaran privasi yang sangat serius. Ini adalah pelecehan terhadap kenyamanan staf kami. Jika Aris tahu tentang ini, dia bisa saja menuntut Anda. Dan bagi kami, reputasi gym ini adalah segalanya."
Dunia di sekitarku mulai berputar. Jika berita ini sampai ke kantor, atau jika namaku di- *blacklist* dari komunitas gym, seluruh hidupku yang kususun dengan rapi akan runtuh. Reputasi sebagai wanita karier yang disiplin akan hancur dalam semalam, digantikan oleh label 'wanita g*** yang mengendus loker'.
"Tolong, Pak," bisikku, mataku mulai panas karena air mata yang mendesak keluar. "Jangan laporkan ini. Saya... saya hanya sedang banyak tekanan di kantor. Saya tidak sadar apa yang saya lakukan."
Pak Hendra diam sejenak, membiarkan keheningan yang menyiksa itu menggantung di udara. "Sesuai prosedur, keanggotaan Anda harus dicabut malam ini juga. Anda dilarang berada dalam radius lima puluh meter dari gedung ini. Dan kami akan membuat laporan internal."
"Tolong..." aku terisak, harga diriku hancur total. "Jangan Aris. Jangan biarkan Aris tahu."
Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka tanpa diketuk.
Aroma itu ma**k lebih dulu sebelum sosoknya terlihat. Aris berdiri di sana, masih mengenakan kaus tanpa lengan yang memamerkan otot lengannya yang berkeringat. Dia memandang Pak Hendra, lalu beralih padaku. Matanya yang tajam dan gelap itu menatapku dengan intensitas yang sulit dibacaβantara kekecewaan, kejutan, atau sesuatu yang jauh lebih gelap.
"Ada apa ini, Pak Hendra?" tanya Aris, suaranya berat dan rendah.
Pak Hendra menghela napas, jarinya menunjuk ke arah layar tablet yang masih menampilkan rekaman wajahku yang sedang memejamkan mata di depan loker Aris. "Pelatihmu ini punya pengagum rahasia yang melintasi garis batas, Aris. Saya sedang menjelaskan pada Mbak Dira bahwa karirnya di gym ini sudah berakhir."
Aku menunduk dalam-dalam, berharap lant** ini terbuka dan menelanku hidup-hidup. Aku tidak sanggup melihat ekspresi jijik yang pasti ada di wajah Aris sekarang. Namun, keheningan yang mengikuti setelah itu justru lebih menakutkan.
"Biar saya yang bicara dengannya, Pak," ucap Aris tiba-tiba.
Aku tersentak, menoleh ke arahnya. Aris tidak tampak marah. Malah, ada garis tipis di sudut bibirnya yang menyerupai seringai dingin yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Aris, ini melanggar protokol," protes Pak Hendra.
"Dia klien pribadi saya selama enam bulan," Aris melangkah maju, mendekat ke arah kursiku hingga aku bisa merasakan panas tubuhnya. "Saya yang paling tahu bagaimana menanganinya. Berikan rekaman itu pada saya, dan biarkan saya yang memutuskan apakah akan membawa ini ke jalur hukum atau menyelesaikannya secara... pribadi."
Pak Hendra tampak ragu, namun entah mengapa, otoritas dalam suara Aris membuat sang manajer mengangguk pelan. Setelah beberapa instruksi tegas, Pak Hendra dan petugas keamanan itu keluar, meninggalkan aku berdua saja dengan pria yang menjadi pusat obsesiku.
Suasana ruangan mendadak terasa begitu sempit. Aris berjalan perlahan mengitari mejaku, lalu berhenti tepat di hadapanku. Dia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran kursiku, mengurungku dalam ruang sempit di antara tubuhnya.
"Jadi, Mbak Dira..." Aris berbisik tepat di telingaku, hembusan napasnya membuat bulu kudukku meremang. "Kamu suka aroma lokerku?"
Aku membeku. Ini bukan reaksi yang kuharapkan. Di balik rasa takutku, ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya mulai bergejolak: sebuah realitas bahwa Aris mungkin tidak sebersih yang kukira, dan permainan ini baru saja dimulai dengan aturan yang tidak lagi berada di tanganku.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!