Aku memerhatikan Dira dari balik dinding kaca ruang instruktur, tempat di mana aku bisa melihat seluruh area *weight training* tanpa perlu terlihat. Dia sedang melakukan *RDL* dengan barbel yang beratnya naik sepuluh kilogram dari minggu lalu. Gerakannya presisi, punggungnya lurus sempurna, namun ada sesuatu yang berbeda. Ada ketegangan di bahunya yang bukan berasal dari beban besi itu, melainkan dari beban rahasia yang ia pikul sendiri.
Aku memutar-mutar kunci loker di jemariku. Kunci loker nomor 42. Loker pribadiku.
Dira tidak tahu bahwa aku selalu menghitung setiap mililiter isi botol parfumku. Dia tidak tahu bahwa aku menaruh helai rambut halus di sela pintu loker untuk mengetahui apakah ada yang membukanya. Dan dia pasti tidak menyangka bahwa aku sengaja meninggalkan alat c**ur elektrik itu di sana, sedikit berantakan, seolah-olah aku terburu-buru.
Umpan itu dimakan. Dan pemandangan di CCTV cadangan yang kupasang tersembunyi di sudut lorong menuju bilik mandiβbukan di dalam bilik, aku tidak sebodoh itu untuk melanggar hukum secara terang-teranganβmenunjukkan wajahnya yang memerah dan langkahnya yang goyah saat keluar dari sana.
Aku melangkah keluar dari ruangan, membiarkan pintu berderit pelan. Dira tersentak, hampir menjatuhkan barbelnya. Ia segera mengatur napas, mencoba kembali ke topeng perfeksionisnya yang dingin.
"Formasimu agak berantakan hari ini, Dira," ucapku datar, berjalan mendekatinya dengan langkah yang sengaja kuatur agar terdengar dominan di lant** karet yang sunyi.
Dira menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Hanya sedikit lelah, Aris. Pekerjaan di kantor sedang menumpuk."
"Oh, ya? Kupikir kau justru punya banyak energi tambahan akhir-akhir ini." Aku berdiri c**up dekat sehingga aku bisa mencium aroma tubuhnyaβcampuran keringat, sabun gym yang murah, dan... sesuatu yang sangat kukenal. Sesuatu yang seharusnya ada di dalam lokerku.
Aku melihat jakunnya naik turun saat ia menelan ludah. "Aku akan menyelesaikan set terakhir," gumamnya, mencoba menghindari tatapanku.
"Ikut aku ke kantor sebentar. Ada masalah dengan administrasi keanggotaanmu yang perlu kita bicarakan secara pribadi."
Ia ragu sejenak, matanya mencari-cari alasan di sekeliling ruangan yang mulai sepi karena jam operasional hampir berakhir. Namun, otoritas dalam suaraku tidak memberinya pilihan. Ia mengikuti di belakangku, dan aku bisa merasakan tatapannya tertuju pada punggungku. Aku tersenyum tipis. Dia menyukai apa yang dia lihat, dan dia membenci dirinya sendiri karena menyukainya.
Begitu pintu kantorku tertutup, aku tidak duduk di balik meja. Aku bersandar di tepinya, melipat tangan di dada, membiarkan keheningan menekan ruang sempit itu sampai Dira mulai gelisah.
"Dira," panggilku lembut, hampir seperti bisikan. "Kau tahu apa yang paling aku hargai dari seorang klien?"
"Kedisiplinan?" suaranya bergetar.
"Kejujuran." Aku merogoh saku celanaku dan mengeluarkan alat c**ur elektrik itu, meletakkannya di atas meja di antara kami.
Wajah Dira seketika pucat pasi. Ia tampak seolah oksigen di ruangan itu baru saja dihisap keluar. Matanya terbelalak, menatap benda perak itu seolah itu adalah bom yang siap meledak.
"Aku menemukannya di bilik mandi nomor tiga tadi pagi. Tertinggal di sudut yang agak tersembunyi," dustaku. Aku tahu persis dia mengembalikannya ke loker, tapi aku ingin melihat sejauh mana dia akan berbohong. "Anehnya, benda ini tercium sangat... spesifik. Seperti aroma parfum yang kau pakai sekarang."
Dira membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar. Jemarinya meremas pinggiran kaus olahraganya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku... aku tidak tahu apa maksudmu," bisiknya parau.
Aku berdiri, melangkah mendekat hingga ujung sepatu kami bersentuhan. Aku bisa merasakan panas yang memancar dari tubuhnya. "Jangan bohong padaku, Dira. Aku melihatmu. Aku tahu apa yang kau lakukan dengan benda milikku. Aku tahu bagaimana kau membawanya ke dalam sana, membayangkan kulitku saat kau menyentuh kulitmu sendiri."
Dira mundur selangkah hingga punggungnya menab**k pintu. "Aris, aku... aku bisa jelaskan. Aku tidak bermaksudβ"
"Sshh." Aku meletakkan jari telunjukku di bibirnya yang gemetar. Bibir itu terasa dingin namun lembut. "Aku tidak marah. Justru, aku merasa... tersanjung. Ternyata wanita sekaku dirimu punya imajinasi yang begitu liar."
Aku mendekatkan wajahku ke telinganya, membiarkan napas panas kusentuh lehernya. "Tapi kau tahu, Dira, setiap tindakan punya konsekuensi. Di gym ini, mencuri atau menyalahgunakan barang milik staf adalah pelanggaran berat. Aku bisa saja melaporkanmu, mencabut keanggotaanmu, dan memastikan reputasi 'wanita karier sempurna' milikmu hancur dalam semalam."
Dira terisak kecil, sebuah suara yang terdengar seperti patahan kaca. "Tolong, jangan."
Aku menarik diri sedikit untuk menatap matanya yang kini berkaca-kaca. Ketakutan itu nyata, tapi di balik ketakutan itu, aku melihat percikan gairah yang ia tekan dalam-dalam. Dia adalah mangsa yang sangat indah dalam kehancurannya.
"Aku punya tawaran," kataku, nada suaraku berubah menjadi lebih rendah, lebih gelap. "Aku tidak akan melaporkanmu. Aku akan merahasiakan obsesi kecilmu ini dari semua orang. Tapi sebagai gantinya, kau harus mengikuti 'program latihan' khusus dariku. Bukan di lant** gym, bukan di depan orang lain. Tapi di sini, di bawah kendaliku sepenuhnya."
Aku mengambil alat c**ur itu lagi, lalu menyalakannya. Bunyi dengungan halus mengisi ruangan. Aku mengarahkan alat itu ke pipinya, tidak menyentuh, hanya membiarkan getarannya terasa di udara.
"Kau ingin memiliki sesuatu dariku, kan, Dira? Sekarang, aku yang akan memutuskan bagian mana dari diriku yang boleh kau sentuh... dan bagian mana dari dirimu yang akan menjadi milikku."
Dira menatapku, bimbang antara rasa malu yang menghancurkan dan keinginan yang tak terbendung. Ia tidak menjawab, tapi tangannya yang perlahan terangkat untuk mencengkeram lenganku memberiku semua jawaban yang kubutuhkan.
"Bagus," bisikku. "Sekarang, berlutut."
Aku ingin melihat seberapa jauh dia bersedia tenggelam dalam obsesi ini sebelum aku menunjukkan padanya siapa predator yang sebenarnya di ruangan ini. Namun, saat dia mulai bergerak mengikuti perintahku, ketukan keras di pintu kantorku memecah ketegangan itu, diiringi suara satpam malam yang memanggil namaku.
"Mas Aris? Masih di dalam? Ada polisi di depan, katanya mau mengecek rekaman CCTV terkait laporan kehilangan barang di area loker pria."
Dira tersentak, matanya membelalak penuh horor. Aku hanya tersenyum tipis, mematikan alat c**ur di tanganku, dan menatap pintu dengan tenang. Permainan baru saja dimulai, dan Dira baru saja menyadari bahwa jebakan yang kupasang jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!