Lampu-lampu di area utama gym sudah dipadamkan, menyisakan keremangan biru yang dingin dari lampu darurat di sudut ruangan. Udara terasa berat oleh aroma karet matras dan sisa-sisa keringat yang menguap, namun indra penciumanku hanya menangkap satu hal: aroma Aris. Ia berdiri tepat di depanku, memblokade jalan keluar menuju ruang ganti. Jarak di antara kami begitu tipis hingga aku bisa merasakan radiasi panas dari tubuhnya yang baru saja selesai berlatih beban sendirian.
"Kamu belum pulang, Dira. Sudah tiga puluh menit sejak jam operasional berakhir," suara Aris rendah, bergema di antara deretan alat treadmill yang membisu.
Aku meremas tali tas olahragaku hingga jemariku memutih. Jantungku berdentum liar, seolah-olah ingin melompat keluar dari tulang rusukku. "Aku... aku hanya merapikan barang-barangku. Ada yang tertinggal."
"Benarkah?" Aris melangkah maju satu tindak. Refleks, aku mundur hingga punggungku membentur barisan loker logam yang dingin. Bunyi *dent* yang dihasilkan terasa seperti lonceng kematian bagi ketenanganku. "Atau kamu sedang mencari sesuatu yang bukan milikmu lagi?"
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa seperti diampelas. Mata Aris yang biasanya tajam dan penuh perhitungan kini tampak lebih gelap, menatapku dengan intensitas yang membuat lututku lemas. Ia tahu. Getaran di tanganku tidak bisa lagi kusembunyikan. Topeng perfeksionisme yang selama ini kupakai dengan rapiβsebagai wanita karier yang disiplin dan terkendaliβmulai retak, hancur berkeping-keping di lant** gym yang kotor ini.
"Kenapa, Dira?" tanya Aris lagi, suaranya kini nyaris berupa bisikan di telingaku. Ia meletakkan satu tangannya di loker, tepat di samping kepalaku. "Kenapa kamu terus-menerus kembali ke lokerku? Kenapa aku menemukan bekas jari-jarimu di sana setiap kali aku membukanya?"
Pertanyaan itu merobek bendungan pertahananku. Rasa malu yang selama ini kupendam dalam-dalam meledak menjadi sesuatu yang jauh lebih panas dan berbahaya. Aku mendongak, menatap langsung ke dalam matanya yang kelam. Ketakutan akan penolakan itu ada, mencekik leherku, namun keinginan untuk jujur terasa jauh lebih mendesak.
"Karena aku tidak bisa berhenti," suaraku serak, hampir tidak terdengar. Aku menarik napas panjang, menghirup aroma maskulinnya yang tercampur sedikit sisa parfum kayu-kayuan dan aroma tubuhnya yang khas. Aroma yang selama ini menghantuiku di setiap malam yang sunyi. "Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, Aris. Bukan sebagai pelatihku. Bukan sebagai orang asing."
Aris tidak bergerak. Ia menungguku melanjutkan, matanya mengunci milikku seolah ia sedang membedah jiwaku.
"Aku mengambil alat c**ur itu," aku mengaku, air mata mulai menggenang di sudut mataku, bukan karena sedih, tapi karena tekanan emosi yang luar biasa. "Aku membawanya ke bilik mandi. Aku... aku mencium aromanya. Aku membayangkan kamu ada di sana, menyentuhku. Aku terobsesi dengan setiap inci privasimu yang bisa kujangkau. Aku tahu ini sakit. Aku tahu ini tidak normal. Tapi setiap kali aku mencium aromamu, aku merasa hidup. Aku merasa... dimiliki."
Aku memejamkan mata, menunggu tamparan kenyataan atau kata-kata penghinaan yang akan mengakhiri segalanya. Aku sudah te******* di depannya, bukan secara fisik, tapi secara mental. Aku telah menunjukkan sisi gelap yang paling kusembunyikan, bagian dari diriku yang haus akan keberadaannya hingga ke tahap yang mengerikan.
Keheningan yang mengikuti terasa abadi. Aku bisa mendengar deru napas Aris yang kini mulai tidak beraturan. Aku bersiap untuk ditertawakan, atau lebih buruk lagi, diusir dengan tatapan jijik. Namun, yang kurasakan bukanlah dorongan menjauh.
Sebuah tangan yang kasar namun hangat menyentuh rahangku, memaksa wajahku untuk kembali menatapnya. Aku membuka mata dan menemukan ekspresi yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya di wajah Aris. Tidak ada kejijikan. Tidak ada kemarahan. Yang ada hanyalah kilat pemahaman yang predatoris, sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar simpati.
"Kamu pikir kamu satu-satunya yang punya obsesi, Dira?" bisik Aris. Ibu jarinya mengusap bibir bawahku dengan tekanan yang membuat napasku tertahan. "Kamu pikir aku tidak memperhatikan bagaimana kamu menatapku dari balik cermin selama berminggu-minggu? Kamu pikir aku membiarkan loker itu tidak terkunci karena aku ceroboh?"
Mataku membelalak. Jantungku seolah berhenti berdetak sesaat. Sebuah kebenaran baru yang lebih mengerikan mulai merayap di benakku. Permainan ini... bukan aku yang memulainya.
Aris mendekatkan wajahnya, hidungnya bersentuhan dengan hidungku. "Aku ingin melihat sejauh mana kamu akan pergi untukku. Dan sekarang aku tahu."
Ia melepaskan tangannya dari loker dan beralih ke pinggangku, menarik tubuhku hingga menempel sempurna pada tubuhnya yang keras. Sentuhan itu seperti percikan api di atas genangan bensin. Aku gemetar, bukan karena takut, tapi karena gairah yang terlarang ini akhirnya menemukan wadahnya.
"Sekarang setelah kamu mengaku," Aris berbisik tepat di depan bibirku, "kamu tidak akan bisa lari lagi, Dira. Kamu sudah ma**k terlalu dalam ke dalam duniaku."
Tepat saat aku akan membalas ucapannya, lampu di lorong ruang ganti menyala otomatis karena sensor gerakan. Sosok bayangan seseorang terlihat di ujung koridor, diikuti suara langkah sepatu yang mendekat.
"Siapa di sana? Masih ada orang?" suara petugas keamanan gym memecah keheningan yang intim itu.
Aris tidak melepaskan dekapannya. Malah, ia semakin mempererat cengkeramannya pada pinggangku, matanya tetap terpaku padaku seolah menantangku untuk tetap diam atau membiarkan rahasia kami terbongkar malam ini juga. Terjepit di antara dinding loker yang dingin dan tubuh Aris yang membara, aku menyadari satu hal: pelarian yang kucari telah berubah menjadi penjara yang paling kuinginkan. Dan penjaga penjaranya baru saja menunjukkan taringnya.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!