Hujan menderu di luar jendela apartemen Aris yang terletak di lant** dua puluh, menyamarkan suara napas Dira yang pendek dan tersengal. Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu temaram di sudut meja, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jemari hitam yang merayap di dinding. Dira berdiri mematung di tengah ruangan, sementara Aris bersandar di ambang pintu menuju balkon, menyesap sisa kopi hitamnya dengan ketenangan yang mengintimidasi.
"Kau pikir aku tidak tahu, Dira?" suara Aris rendah, nyaris seperti geraman halus yang menggetarkan udara.
Dira meremas jemarinya sendiri hingga buku-bukunya memutih. "Aku... aku tidak mengerti apa maksudmu."
Aris meletakkan cangkirnya di atas meja kecil dengan denting pelan yang terdengar seperti ledakan di telinga Dira. Pria itu melangkah mendekat. Setiap langkahnya lambat, terukur, seolah dia sedang memojokkan mangsa yang sudah tidak punya tempat untuk lari. Aroma ituβcampuran kayu aras, keringat jantan, dan sesuatu yang tajam seperti logamβmenyerbu indra penciuman Dira. Aroma yang selama ini dia cari secara sembunyi-sembunyi di loker gym, kini ada di hadapannya dalam bentuk yang paling nyata.
"Alat c**ur itu," bisik Aris tepat di depan wajah Dira. "Kau mengembalikannya ke posisi yang sedikit miring. Kau sangat teliti, Dira, tapi kau lupa bahwa aku jauh lebih teliti darimu."
Jantung Dira seolah berhenti berdetak. Ia ingin memalingkan wajah, namun jemari Aris yang kasar dan hangat sudah lebih dulu mencengkeram dagunya, memaksanya menatap sepasang mata gelap yang tampak berkilat oleh sesuatu yang tidak bisa ia definisikan.
"Kenapa kau tidak jijik?" tanya Dira dengan suara bergetar. "Aku mencuri barang pribadimu. Aku... aku menciumnya. Aku menggunakannya untuk..." Kalimatnya menggantung, rasa malu yang membakar membuat wajahnya panas.
Aris terkekeh, suara yang dingin dan tanpa humor. Ia melepaskan dagu Dira, lalu berbalik menuju sebuah laci kayu di sudut ruangan. Dengan gerakan sant**, ia membukanya dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul hitam beserta sebuah ponsel tua yang layarnya retak.
"Kau merasa sakit karena obsesimu, Dira? Kau merasa seperti monster karena menginginkan bagian dariku?" Aris melemparkan buku catatan itu ke atas sofa. "Buka halamannya. Lihat tanggalnya."
Dengan tangan gemetar, Dira mengambil buku itu. Di dalamnya terdapat tulisan tangan Aris yang rapi namun tajam. Ia terbelalak saat membaca baris demi baris. Itu bukan sekadar catatan latihan fisik. Itu adalah observasi det**l tentang dirinya.
*14 Maret: Dira memakai parfum melati hari ini. Dia memperhatikan lokerku selama tiga menit sebelum ma**k ke kamar mandi.*
*22 Maret: Dia menyentuh gagang pintuku saat aku sedang mengajar kelas lain. Pupil matanya melebar. Dia lapar.*
*5 April: Aku sengaja meninggalkan loker nomor 42 tidak terkunci. Aku ingin melihat sejauh mana dia akan pergi.*
Dira menjatuhkan buku itu seolah benda itu baru saja membakar kulitnya. "Kau... kau menjebakku?"
Aris mendekat lagi, kali ini begitu dekat hingga Dira bisa merasakan panas tubuh pria itu merambat ke kulitnya. "Aku tidak menjebakmu. Aku memberimu umpan. Dan kau melahapnya dengan begitu cantik."
Aris mengambil ponsel tua itu, menyalakan layarnya, dan menunjukkan sebuah rekaman video singkat yang diambil dari sudut tersembunyi di koridor loker gym. Di sana, Dira terlihat sedang mendekap alat c**ur Aris ke dadanya dengan ekspresi yang penuh duka sekaligus gairah.
"Aku mematikan kamera CCTV gedung setiap kali kau melakukannya agar tidak ada orang lain yang melihatmu," bisik Aris di telinga Dira, napasnya terasa panas dan menggoda. "Bukan karena aku ingin melindungimu, tapi karena aku tidak sudi berbagi pemandangan itu dengan siapa pun. Kau adalah eksperimen pribadiku, Dira."
Dira merasa dunianya berputar. Selama ini ia merasa seperti predator yang mengint** Aris, merasa bersalah karena telah melanggar privasi pria yang ia kagumi. Namun kenyataannya, ia hanyalah seekor tikus yang menari di telapak tangan seorang pria yang jauh lebih terobsesi darinya.
"Kenapa?" tanya Dira, suaranya nyaris hilang.
"Karena aku juga kesepian dalam kesempurnaanku," Aris menarik Dira ke dalam pelukannya, sebuah dekapan yang terasa posesif sekaligus mencekik. "Aku bosan dengan wanita-wanita yang hanya memuja ototku. Aku menginginkan seseorang yang sama rusaknya denganku. Seseorang yang akan merangkak di lant** hanya untuk mencium aroma sisa kehadiranku."
Tangan Aris merayap ke belakang tengkuk Dira, menarik rambutnya pelan hingga Dira harus mendongak. Di mata Aris, Dira tidak melihat kemarahan. Ia melihat pantulan dirinya sendiriβsesuatu yang haus, gelap, dan tak terpuaskan.
"Sekarang katakan padaku, Dira," bisik Aris, bibirnya nyaris menyentuh bibir Dira. "Siapa di antara kita yang lebih sakit? Aku yang membiarkanmu mencuri, atau kau yang sangat ingin dicuri?"
Dira merasa ketakutan yang luar biasa, namun di saat yang sama, sebuah letupan gairah yang liar meledak di dalam dadanya. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi sendirian dalam kegelapannya. Namun, menyadari bahwa Aris adalah cermin dari obsesinya sendiri justru jauh lebih menakutkan daripada rahasianya yang terbongkar.
"Kau g***," desis Dira, meski tangannya kini justru mencengkeram kemeja Aris, menariknya lebih dekat.
"Memang," sahut Aris dengan senyum miring yang mematikan. "Dan permainan ini baru saja dimulai. Aku punya lebih banyak hal untuk ditunjukkan padamu di balik pintu ini, Dira. Hal-hal yang akan membuat alat c**ur itu terasa seperti mainan anak-anak."
Dira terengah, menyadari bahwa ia telah ma**k ke dalam sarang yang tidak memiliki jalan keluar. Saat Aris membimbingnya menuju sebuah pintu di balik rak buku yang tersembunyi, Dira tahu bahwa apa yang akan ia temukan di sana akan menghancurkan kewarasannya selamanya. Namun, ia tidak bisa berhenti. Kakinya terus melangkah, mengikuti aroma yang kini terasa seperti racun yang paling manis.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!