Udara di dalam ruang kantor pribadi Aris terasa begitu tipis, seolah-olah oksigen telah habis disedot oleh ketegangan yang menggantung di antara kami. Hanya ada lampu meja kecil yang menyala, membiarkan sudut-sudut ruangan tenggelam dalam bayangan pekat. Aroma ituβperpaduan antara cendana, keringat yang mulai mendingin, dan sisa-sisa aroma logam dari alat c**ur yang tempo hari kutemukanβkini memenuhi indra penciumanku lebih nyata dari sebelumnya.
Aris berdiri terlalu dekat. Aku bisa merasakan radiasi panas dari tubuhnya, sebuah kontras yang tajam dengan telapak tanganku yang sedingin es. Dia tidak mengatakan apa-apa selama beberapa menit, hanya menatapku dengan mata gelap yang seolah bisa menguliti setiap lapisan rahasia yang kusembunyikan di balik setelan kantorku yang rapi.
"Kau tidak akan berhenti, kan, Dira?" suaranya rendah, nyaris menyerupai geraman yang tertahan di tenggorokan.
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering. "Aku... aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."
Kebohongan itu terdengar begitu payah di telingaku sendiri. Aris mendengus pelan, sebuah tawa hambar yang tidak mencapai matanya. Dia merogoh saku celana pendek lari yang ia kenakan dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah benda kecil, berkilau di bawah temaram lampu: penjepit kertas perak yang biasa kugunakan untuk menandai dokumen kantorku. Benda yang tanpa sadar kujatuhkan di depan lokernya dua hari lalu.
"Kau sangat teliti dalam segala hal, kecuali saat kau sedang terobsesi," gumamnya. Langkahnya maju satu tindak, membuatku terdesak hingga punggungku menab**k daun pintu yang tertutup rapat. "Kenapa, Dira? Apa yang kau cari di lokerku? Apakah aroma itu benar-benar sepadan dengan risiko yang kau ambil?"
Jantungku berdegup kencang, menghantam rongga dada seperti burung yang terperangkap dalam sangkar. Seluruh tubuhku gemetar. Aku sudah tertangkap. Inilah saatnya dia akan memanggil keamanan, atau mungkin tertawa dan mencemoohku sebagai wanita aneh yang tidak waras. Namun, saat aku mendongak untuk menatap matanya, aku tidak menemukan penghinaan. Yang kulihat adalah sebuah pantulan kelaparan yang sama.
"Aku tidak bisa mengendalikannya," bisikku, suaraku pecah. "Segala sesuatu di hidupku harus sempurna. Harus teratur. Tapi saat aku mencium aromamu... saat aku menyentuh barang-barangmu... keteraturan itu hilang. Dan aku menyukainya."
Aku memejamkan mata, bersiap untuk penolakan. Namun, alih-alih dorongan kasar, aku merasakan jemari Aris yang kasar menyentuh daguku, memaksaku untuk kembali menatapnya. Napasnya kini menerpa wajahku, beraroma mint dan maskulin yang memabukkan.
"Kau pikir kau satu-satunya yang sakit di sini?" Aris berbisik tepat di depan bibirku. Tangannya yang lain merayap ke dinding di samping kepalaku, mengunci posisiku. "Kau pikir aku tidak tahu setiap kali kau memperhatikanku dari balik cermin gym? Kau pikir aku tidak sadar saat kau sengaja pulang paling akhir hanya untuk memastikan kau bisa menghirup jejak kehadiranku di ruangan ini?"
Aku terkesiap. Selama ini aku mengira aku adalah sang pemburu, ternyata aku hanyalah mangsa yang dibiarkan bermain-main.
"Aku memiliki kamera kecil di sudut loker itu, Dira. Hanya untuk berjaga-jaga jika ada tangan jahil," Aris melanjutkan, suaranya kini lebih tenang namun jauh lebih berbahaya. "Dan apa yang kulihat... caramu memegang alat c**urku... caramu memejamkan mata saat menciumnya... itu membuatku sadar bahwa kita terbuat dari kegelapan yang sama."
Dunia seolah runtuh di sekitarku. Rahasia terburukku kini terpampang nyata di hadapan pria yang menjadi objek obsesiku. Namun, alih-alih rasa malu, yang kurasakan justru sebuah kelegaan yang mengerikan. Beban perfeksionisme yang kupikul selama bertahun-tahun luruh seketika.
"Jadi, apa sekarang?" tanyaku menantang, keberanian yang tak kukenal tiba-tiba muncul dari dasar jiwaku. "Kau akan melaporkanku?"
Aris mendekatkan wajahnya, hidungnya bergesekan pelan dengan hidungku. "Melaporkanmu berarti kehilangan satu-satunya orang yang bisa melihat sisi gelapku tanpa merasa jijik."
Dia menarik tanganku, menempelkan telapak tanganku ke dadanya. Di balik kaus tipisnya, aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat dan kuat. Dia tidak setenang kelihatannya. Dia sama hancurnya denganku.
"Aku punya rahasia lain, Dira. Sesuatu yang jauh lebih buruk daripada sekadar mengintip loker orang lain," Aris berbisik ke telingaku, membuat bulu kudukku berdiri. "Jika kau ma**k ke duniaku, tidak ada jalan kembali. Tidak ada lagi Dira yang perfeksionis. Hanya ada kau, aku, dan obsesi ini."
Aku menarik napas panjang, menghirup aromanya sedalam mungkin, membiarkan keg***an ini mengambil alih sisa-sisa kewarasanku. "Aku tidak ingin kembali," jawabku tegas.
Aris tersenyum, sebuah senyuman predator yang sangat menawan sekaligus mengerikan. Dia baru saja akan menyatukan bibir kami ketika sebuah suara keras terdengar dari koridor luarβlangkah kaki sepatu bot yang berat disert** bunyi gemerincing kunci.
"Cek terakhir! Ada orang di dalam?" suara satpam malam itu menggelegar, diikuti oleh sorot lampu senter yang menyapu celah di bawah pintu kantor.
Kami berdua membeku. Napas tertahan, tubuh kami saling menempel erat dalam kegelapan. Jantungku berpacu, bukan karena takut tertangkap melakukan kejahatan, tapi karena takut momen kejujuran yang murni ini akan dihancurkan oleh dunia luar yang membosankan.
Aris meletakkan jarinya di bibirku, mengisyaratkan diam total. Sorot lampu senter itu tertahan sejenak di pintu kami, lalu perlahan menjauh seiring dengan langkah kaki yang mengecil. Namun, sebelum aku bisa merasa lega, Aris merogoh laci mejanya dan mengeluarkan sebuah kunci kecil berwarna perunggu.
"Besok malam, setelah gym tutup. Datanglah ke alamat ini," bisiknya sambil menyelipkan secarik kertas ke dalam genggamanku. "Jangan lewat pintu depan. Ada pintu kecil di samping gudang."
Dia melepaskan dekapannya, menciptakan jarak dingin yang tiba-tiba membuatku merasa hampa. Aris kembali menjadi pelatih pribadi yang profesional dan dingin, seolah percakapan tadi hanyalah halusinasi.
"Pulanglah, Dira. Sebelum kau melakukan sesuatu yang akan benar-benar kau sesali," katanya dengan nada datar, namun matanya berkilat, memberikan janji akan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar rahasia di balik loker.
Aku melangkah keluar dari kantornya dengan kaki lemas, menggenggam kertas itu seolah-olah itu adalah nyawaku. Saat aku melewati koridor gym yang gelap, aku sadar bahwa aku baru saja menandatangani kontrak dengan i**** yang selama ini kupuja. Dan yang paling menakutkan adalah: aku tidak sabar untuk mengetahui apa yang menungguku di balik pintu gudang itu.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!