Pantulan di cermin buram ruang ganti wanita itu tidak lagi menampakkan Dira Amara yang biasanya. Tidak ada lagi wanita karier yang kaku dengan kerah kemeja yang dikancingkan hingga paling atas atau sorot mata yang selalu gelisah mencari persetujuan dunia. Sosok di depan sana memiliki binar yang berbedaβsesuatu yang tajam, lapar, dan yang paling mengejutkan, sesuatu yang tenang.
Dira menyentuh permukaan dingin loker nomor 114. Jari-jemarinya menelusuri goresan kecil di sudut pintu logam itu, tempat di mana obsesinya bermula. Beberapa minggu lalu, dia mungkin akan gemetar ketakutan jika membayangkan seseorang mengetahui apa yang dia lakukan di dalam bilik mandi dengan alat c**ur milik Aris. Dia akan merasa kotor, tidak normal, dan layak dikucilkan. Namun sekarang, saat aroma maskulin Aris yang samar masih tertinggal di ujung indranya, rasa malu itu terasa seperti kulit lama yang baru saja dia tanggalkan.
"Kau masih di sini, Dira?"
Suara berat itu memecah keheningan, bergema di antara deretan loker besi. Dira tidak melompat terkejut. Dia justru memejamkan mata sesaat, menghirup getaran suara itu seolah itu adalah oksigen yang dia butuhkan untuk tetap tegak.
Aris berdiri di ambang pintu penghubung antara area gym dan ruang loker. Lampu neon yang berkedip di atas kepala mereka melemparkan bayangan panjang yang membuat tubuh atletis pria itu tampak lebih mengancam sekaligus memikat. Aris tidak mengenakan seragam pelatihnya; dia memakai kaus hitam polos yang melekat ketat pada otot dadanya.
"Gym sudah tutup sepuluh menit yang lalu," lanjut Aris. Langkah kakinya terdengar mantap di atas lant** karet, mendekat ke arah Dira.
Dira berbalik perlahan. Dia membiarkan tas gym-nya tergeletak di bangku kayu. "Aku hanya sedang... merenung," jawabnya. Suaranya tidak lagi bergetar. Ada keberanian baru yang tumbuh dari pengakuan pribadinya bahwa dia bukanlah wanita 'baik-baik' yang selama ini dia perankan.
Aris berhenti tepat di depannya. Jarak mereka begitu dekat hingga Dira bisa merasakan panas tubuh pria itu. Aris menunduk, menatap loker di belakang Dira, lalu kembali menatap mata cokelat gelap milik wanita itu.
"Tentang apa?" Aris bertanya dengan nada rendah yang provokatif. "Tentang barang-barang yang hilang? Atau tentang alasan mengapa kau selalu memilih waktu paling akhir untuk berlatih?"
Dira merasa jantungnya berdegup kencang, namun bukan karena ketakutan. Itu adalah debaran kegembiraan yang murni. Dia tahu Aris tahu. Selama ini, permainan kucing dan tikus ini hanyalah sebuah tarian halus menuju titik ini.
"Tentang diriku sendiri, Aris," Dira melangkah maju, memangkas sisa ruang di antara mereka hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. "Tentang bagaimana aku merasa lebih hidup saat menyentuh sesuatu yang bukan milikku. Sesuatu yang milikmu."
Dia menunggu reaksi Arisβpenghinaan, kemarahan, atau mungkin kejijikan. Namun, Aris justru menarik napas panjang, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang tampak berbahaya. Dia mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar karena angkat beban membelai rahang Dira, memaksa wanita itu untuk terus menatapnya.
"Kebanyakan orang menghabiskan seluruh hidup mereka mencoba menjadi normal, Dira. Mereka membuang-buang energi untuk menekan kegelapan di dalam diri mereka sampai mereka menjadi kosong," bisik Aris. Wajahnya merapat ke telinga Dira. "Tapi kau... kau berbeda. Kau memiliki rasa lapar yang indah. Dan aku sudah memperhatikannya sejak hari pertama kau menginjakkan kaki di sini."
Dira merasakan sensasi panas menjalar dari leher hingga ke seluruh tubuhnya. Pengakuan itu adalah validasi yang selama ini dia cari di tempat-tempat yang salah. Dia tidak perlu disembuhkan. Dia hanya perlu diterima.
"Kau tidak merasa aku... g***?" tanya Dira, suaranya kini sedikit serak.
Aris tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan beludru. "G*** adalah istilah bagi mereka yang tidak berani mengakui keinginannya. Aku lebih suka menyebutnya... dedikasi. Dan aku punya rahasia untukmu, Dira."
Aris menarik diri sedikit, hanya c**up untuk menatap langsung ke dalam pupil mata Dira yang melebar. "Kau pikir kau satu-satunya yang mengawasi? Kau pikir loker itu tidak sengaja dibiarkan tidak terkunci hari itu?"
Dira tertegun. Napasnya tertahan di kerongkongan. Seluruh skenario yang dia bangun di kepalanya selama ini runtuh, digantikan oleh realitas baru yang jauh lebih gelap dan mendebarkan. Dia bukan sekadar pengamat; dia adalah umpan yang dengan senang hati memakan kail tersebut.
"Jadi..." Dira memulai, tangannya kini dengan berani menyentuh pinggang Aris, merasakan otot yang mengeras di bawah kain kaus. "Semua ini... kau menginginkanku melakukannya?"
Aris tidak menjawab dengan kata-kata. Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci kecil berwarna perak, lalu meletakkannya di telapak tangan Dira.
"Ini kunci kantorku. Di dalam sana, ada lemari yang tidak pernah aku kunci untuk umum. Ada banyak hal di sana, Dira. Hal-hal yang lebih pribadi daripada sekadar alat c**ur," Aris mendekatkan bibirnya ke dahi Dira, memberikan kecupan yang terasa seperti sebuah segel perjanjian. "Tunjukkan padaku seberapa jauh obsesimu bisa membawamu. Dan aku akan menunjukkan padamu apa artinya benar-benar dimiliki."
Dira menggenggam kunci itu erat-erat hingga pinggirannya yang tajam menekan kulit telapak tangannya. Rasa sakit itu terasa nyata, terasa benar. Dia bukan lagi Dira yang perfeksionis dan membosankan. Dia adalah wanita yang baru saja diberikan kunci menuju kegelapan yang selalu dia idamkan.
Saat Aris berbalik dan berjalan pergi meninggalkannya sendirian di ruang loker yang remang-remang, Dira melihat bayangannya kembali di cermin. Kali ini, dia tidak hanya melihat seorang wanita. Dia melihat seorang pemburu yang baru saja menemukan rekannya.
Dira mema**kkan kunci itu ke dalam sakunya, namun saat dia hendak mengambil tasnya, matanya menangkap sesuatu di celah bawah loker Aris. Sebuah benda kecil yang berkilau, yang tampaknya sengaja dijatuhkan untuk ditemukan. Dira berlutut, jantungnya kembali berpacu. Itu adalah sebuah botol sampel parfum kecil tanpa label, namun aromanya yang keluar dari tutup yang sedikit terbuka sangat dia kenaliβitu bukan aroma Aris yang biasanya. Itu adalah aroma parfum yang pernah hilang dari meja rias Dira sendiri satu minggu yang lalu.
Dira terpaku. Aris tidak hanya mengawasinya. Aris telah ma**k ke dalam dunianya jauh lebih dalam dari yang dia bayangkan. Permainan baru saja dimulai, dan taruhannya bukan lagi sekadar privasi, melainkan kewarasan mereka berdua.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!