Aroma Obsesi: Rahasia di Balik Loker

Bab 3: Bab 3 - Dira mengambil alat c**ur Aris dan membawanya k...

Pengaturan Membaca

Lampu neon di ruang loker itu berkedip sekali, menciptakan bayangan panjang yang menari di atas lant** porselen putih yang dingin. Aku berdiri mematung di depan loker nomor 42. Dadaku naik-turun, ritme napas yang tidak beraturan setelah sesi latihan beban yang intens bersama Aris. Biasanya, aku adalah definisi dari ketenangan—selalu punya jadwal, selalu punya kendali. Namun, saat ini, jari-jariku bergetar hebat.

Loker itu tidak terkunci sempurna. Hanya menyisakan celah tipis, mungkin kurang dari dua sentimeter, namun bagiku, itu adalah undangan yang berteriak nyaring. Aku tahu itu milik Aris. Aku melihatnya mema**kkan tas olahraga hitamnya ke sana sebelum kami memulai sesi pagi ini.

Suara air mengalir dari area pancuran di ujung lorong terdengar samar, diselingi oleh denting musik *chill-out* dari pengeras suara di langit-langit. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Kosong. Member lain mungkin masih sibuk di ruang sauna atau sudah kembali ke meja kantor mereka.

Tanganku bergerak sendiri. Logam dingin pintu loker itu terasa menyengat kulit telapak tanganku saat aku menariknya pelan. Bunyi derit halusnya terasa seperti ledakan di telingaku yang sunyi. Di dalam sana, tertata rapi—seperti pemiliknya—sebuah tas gim, botol minum, dan sebuah kotak kecil berbahan kulit sintetis yang terbuka sebagian.

Di sanalah benda itu. Alat c**ur elektrik berwarna abu-abu arang dengan aksen krom yang berkilau di bawah lampu redup.

Aku tidak tahu apa yang mera**kiku. Dorongan ini tidak ma**k akal. Sebagai seorang analis keuangan, setiap tindakanku biasanya didasari oleh logika dan proyeksi hasil. Tapi di sini, logika itu luruh. Aku meraih alat c**ur itu. Beratnya mantap di tanganku. Dan saat itulah aroma itu menyerangku—campuran *sandalwood*, jeruk nipis yang tajam, dan aroma maskulin khas Aris yang sulit didefinisikan. Aroma yang selama satu jam terakhir memenuhi ruang pribadiku saat dia membetulkan posisi punggungku atau menahan lenganku agar tidak goyah.

"Dira? Kamu masih di dalam?"

Suara itu datang dari arah pintu ma**k utama ruang loker. Itu suara Sarah, salah satu staf pembersih. Jantungku mencelos, seolah baru saja jatuh dari lant** dua puluh.

Tanpa berpikir, aku menyambar alat c**ur itu dan menyembunyikannya di balik lipatan handuk putih yang tersampir di bahuku. Aku menutup pintu loker Aris dengan dorongan pinggul yang cepat—terlalu keras—hingga menimbulkan bunyi *dentang* logam yang menggema.

"Iya, Sarah! Aku mau mandi!" teriakku, suaraku terdengar satu oktaf lebih tinggi dari biasanya. Aku mencoba mengatur nada bicaraku agar terdengar sant**, meski aku merasa seperti pencuri amatir yang baru saja merampok bank.

"Oh, oke. Jangan lupa kuncinya dibawa ya, Mbak," sahut Sarah dari balik deretan loker lain. Langkah kakinya terdengar menjauh, menuju area jemuran handuk kotor.

Aku tidak menunggu lebih lama lagi. Aku hampir berlari menuju bilik mandi paling ujung, yang paling jauh dari pintu ma**k. Begitu sampai di dalam, aku segera mengunci pintu bilik kayu tersebut. Ruangan kecil itu terasa sesak oleh uap air panas dari pengguna sebelumnya.

Aku bersandar pada pintu, memejamkan mata, dan mencoba menenangkan detak jantungku yang mengg***. Di tanganku, di balik kelembutan kain handuk, aku bisa merasakan bentuk alat c**ur itu. Permukaannya masih sedikit hangat, seolah baru saja dilepaskan dari tangan pemiliknya.

Perlahan, aku membuka lipatan handuk itu. Alat itu tampak begitu asing sekaligus intim di bawah cahaya lampu bilik mandi yang remang-remang. Aku melihat sisa-sisa halus rambut pendek di sela-sela kepalanya—bagian dari diri Aris yang tertinggal.

G***. Aku benar-benar sudah g***. Seorang wanita seperti aku, yang selalu memastikan semua berkas di mejanya sejajar satu milimeter pun, sekarang berdiri di bilik mandi gim dengan alat c**ur milik pelatih pribadinya.

Aku menyalakan pancuran. Bunyi air yang menghantam lant** ubin menciptakan tirai suara yang melindungiku dari dunia luar. Dalam privasi yang sempit ini, aku membawa alat c**ur itu mendekati wajahku. Aku menghirup aromanya sekali lagi, lebih dalam kali ini. Bayangan Aris—cara dia menatapku dengan mata tajamnya yang seolah tahu apa yang aku pikirkan, cara dia menyebut namaku dengan bariton rendah yang membuat bulu kudukku berdiri—memenuhi benakku.

Aku menekan tombol *power*. Suara dengungan halus mengisi ruangan. Getarannya merambat dari telapak tanganku, naik ke lengan, dan menyebar ke seluruh tubuhku seperti aliran listrik statis. Aku menatap pantulan diriku yang buram di cermin kecil yang terpasang di dinding bilik. Mataku terlihat berbeda—ada kilatan lapar yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki berat yang mema**ki ruang loker. Langkah itu mantap, tenang, dan sangat kukenali.

"Dira? Kamu masih di sana?"

Itu suara Aris. Dia berada di luar bilik mandi. Jantungku rasanya berhenti berdetak saat aku menyadari bahwa alat c**ur di tanganku masih mendengung keras, dan aku tidak tahu apakah dia bisa mendengarnya di balik suara air pancuran. Aku mematikan alat itu dengan gerakan panik, tapi keheningan yang mengikutinya justru terasa lebih mengancam. Aris berada tepat di balik pintu kayu ini, hanya berjarak beberapa jengkal dariku, sementara aku memegang bagian paling pribadi dari miliknya.

"Dira?" panggilnya lagi, kali ini lebih dekat. "Aku lupa sesuatu di loker tadi, tapi pintunya tertutup rapat sekarang. Kamu melihat orang lain ma**k ke sini?"

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca