Bunyi air yang menghantam lant** keramik bergema di dalam bilik mandi yang sempit, menciptakan dinding suara yang mengisolasi diriku dari dunia luar. Uap panas mulai memenuhi ruangan, mengaburkan cermin kecil yang terpasang di dinding dan membuat napasku terasa sedikit lebih berat. Di tanganku, benda itu terasa dingin dan asing, namun sangat berharga. Sebuah alat c**ur elektrik berwarna hitam pekat dengan aksen perak, milik Aris.
Aku menyandarkan punggungku pada dinding keramik yang lembap, merasakan detak jantungku yang berpacu liar di balik tulang rusuk. Ini adalah keg***an. Sebagai seorang manajer proyek yang terbiasa dengan jadwal yang presisi dan logika yang tak tergoyahkan, apa yang kulakukan sekarang adalah sebuah anomali. Sebuah c**** dalam sistemku yang sempurna. Namun, saat aku mendekatkan alat itu ke wajahku, aroma itu menyerang indra penciumanku tanpa ampun.
Aroma *sandalwood* yang hangat, bercampur dengan sedikit sisa sabun maskulin dan aroma alami tubuh Aris yang tertinggal di celah-celah kecil pisau c**urnya. Itu adalah wangi yang sama yang selalu menguar dari lehernya saat ia berdiri terlalu dekat denganku untuk membetulkan postur *squat*-ku di gym. Aroma yang selama ini diam-diam kucuri lewat tarikan napas pendek, kini berada sepenuhnya dalam kendaliku.
Jemariku gemetar saat menekan tombol *power*. Suara dengungan halus mengisi bilik, getarannya merambat dari telapak tanganku hingga ke bahu. Aku tidak berniat menggunakannya untuk menc**urβtidak, itu terlalu berisiko. Aku hanya ingin merasakan sensasi getarannya, seolah-olah tangan Aris sendiri yang sedang menyentuh kulitku.
Aku memejamkan mata. Seketika, bayangan Aris muncul di kegelapan kelopak mataku. Aris dengan otot-otot lengannya yang menegang saat mengangkat beban, Aris dengan suara baritonnya yang rendah dan memerintah, Aris dengan tatapan mata tajam yang seolah-olah bisa melihat menembus topeng profesionalitasku.
"Dira, fokus. Atur napasmu," suaranya terngiang di kepalaku, begitu nyata hingga aku merinding.
Aku mengarahkan alat c**ur yang masih bergetar itu ke arah leherku, membiarkan permukaan logamnya yang dingin menyisir kulit sensitif di sana. Sensasinya seperti sengatan listrik kecil yang menyenangkan. Aku membayangkan itu adalah ujung jarinya, kasar dan hangat, yang sedang menelusuri garis rahangku. Aku bergerak turun, ke arah tulang selangka, membiarkan getaran itu memicu gelombang panas yang mulai menjalar ke seluruh tubuhku.
Rasa bersalah sempat muncul, sebentar saja, seperti interupsi yang tidak diinginkan. *Ini salah. Ini melanggar privasi. Kau sakit, Dira.* Namun, rasa itu segera tenggelam oleh gelombang dopamin yang jauh lebih kuat. Di dalam sini, di balik tirai plastik yang basah, aku bukan lagi Dira si perfeksionis yang selalu punya jawaban untuk segala hal. Di sini, aku adalah tawanan dari keinginanku sendiri.
Aku menempelkan alat itu lebih erat ke kulit di bagian dada, tempat jantungku berdebam tak keruan. Bayangan tentang Aris semakin liar. Aku membayangkan dia berdiri di sini, di balik uap air ini, memperhatikanku dengan senyum tipisnya yang misterius. Apakah dia akan marah jika tahu aku mencuri barangnya? Ataukah dia justru akan menyukainya? Memikirkan kemungkinan bahwa Aris memiliki sisi gelap yang sama denganku membuat perutku mulas oleh gairah yang menyesakkan.
Napas kian menderu, bersaing dengan suara air dan dengungan alat di tanganku. Setiap inci kulit yang tersentuh getaran itu seolah-olah terbakar. Aku kehilangan kendali. Logikaku lumpuh. Satu-satunya yang nyata hanyalah aroma *sandalwood* yang semakin kuat karena uap panas dan bayangan tangan Aris yang kini kurasakan seolah benar-benar menjamah pinggangku, menarikku mendekat ke dadanya yang bidang.
Puncak ketegangan itu menghantamku seperti ombak besar, membuat lututku lemas dan kepalaku terkulai ke belakang, membentur dinding keramik dengan bunyi pelan. Aku terengah-engah, membiarkan sisa-sisa getaran itu memudar saat aku akhirnya menekan tombol *off*. Keheningan yang mengikuti terasa m****akkan telinga, hanya menyisakan suara tetesan air dari *shower*.
Aku berdiri mematung selama beberapa saat, mencoba mengumpulkan kembali serpihan diriku yang baru saja hancur. Mataku terbuka, menatap alat c**ur di tangan yang kini terasa sangat berat. Apa yang baru saja kulakukan?
Dengan gerakan kaku, aku segera mematikan air dan menyeka tubuhku dengan terburu-buru. Aku harus mengembalikan benda ini. Loker itu. Aku harus memastikan loker itu masih tidak terkunci sebelum ada orang yang menyadari kehilangannya.
Setelah berpakaian dengan tangan yang masih sedikit gemetar, aku menyelinap keluar dari bilik mandi. Suasana ruang loker sudah sangat sepi karena jam operasional gym hampir berakhir. Aku berjalan cepat menuju deretan loker di pojok ruangan, tempat loker Aris berada. Aroma tubuhku sendiri kini bercampur dengan sisa-sisa aroma Aris, sebuah perpaduan yang membuat kepalaku pening.
Loker nomor 42. Masih sedikit terbuka, persis seperti saat aku menemukannya tadi.
Aku merogoh tas gym-ku, hendak mengeluarkan alat c**ur itu untuk diletakkan kembali ke tempat asalnya. Namun, saat jemariku menyentuh benda logam itu, sebuah suara langkah kaki yang berat dan mantap bergema dari arah pintu ma**k ruang loker.
Langkah itu tidak terburu-buru, namun setiap ketukannya di lant** marmer terasa seperti vonis mati bagiku. Aku membeku di tempat, punggungku menghadap ke arah pintu. Aku tahu persis pola langkah itu. Aku tahu berat dari setiap pijakannya.
"Dira? Kau masih di sini?"
Suara bariton itu. Aris.
Jantungku rasanya berhenti berdetak. Alat c**ur itu masih ada di tanganku, setengah tersembunyi di dalam tas, dan aku belum sempat menutup pintu lokernya yang terbuka lebar. Jika aku berbalik sekarang, dia akan melihat semuanya. Jika aku diam saja, dia akan mendekat.
Peluh dingin mulai bercucuran di pelipisku, lebih dingin daripada air shower tadi. Obsesiku baru saja membawaku ke tepi jurang, dan sekarang, Aris berdiri tepat di belakangku, siap untuk mendorongku jatuhβatau ikut terjun bersamaku.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!