Lant** granit gym yang biasanya terasa dingin di bawah sepatuku, sore ini seolah memancarkan panas yang menjalar hingga ke ulu hati. Aku meremas tali tas olahragaku lebih erat saat melintasi deretan loker. Mataku secara insting melirik ke arah loker nomor 42βloker milik Aris. Pintu logam itu tertutup rapat, membisu, seolah tidak pernah menjadi saksi bisu atas keg***an yang kulakukan dua hari lalu.
Jantungku berdegup kencang, ritme yang tidak ada hubungannya dengan pemanasan kardio. Aku merasa seolah-olah aroma alat c**ur elektrik itu masih menempel di pori-pori kulitku, atau lebih buruk lagi, di dalam ingatanku yang paling dalam. Apakah orang lain bisa melihatnya? Apakah rasa bersalah dan gairah yang terlarang ini tercetak jelas di keningku seperti tanda lahir yang memalukan?
"Dira? Kamu melamun?"
Suara bariton itu memecah lamunanku. Aku tersentak, hampir menjatuhkan botol minumku. Aris berdiri di sana, di dekat area *power rack*, dengan kaos hitam ketat yang menonjolkan setiap lekuk otot di dadanya. Ia memegang sebuah *clipboard*, namun tatapannya tajam, menyelidiki wajahku.
"Oh, hai, Aris. Maaf, hanya... kurang tidur karena pekerjaan," aku berbohong, sebuah keahlian yang belakangan ini semakin sering kulatih.
Aris tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat. Setiap langkahnya terasa seperti dentuman drum di telingaku. Ketika ia berdiri di hadapanku, aroma itu kembali menyerang. Aroma maskulin yang bersih, campuran antara *cedarwood* dan sisa sabun mandi yang tajam. Itu adalah aroma yang sama dengan yang kuhirup dari alat c**urnya. Napasku tertahan di tenggorokan.
"Mari kita mulai dengan *squat*," katanya tenang, namun matanya tidak lepas dari mataku. "Fokusmu sepertinya sedang tidak di sini. Dan di bawah bimbinganku, aku tidak mengizinkan pikiran yang melantur. Itu berbahaya."
Aku mengangguk patuh, tidak berani bersuara. Kami bergerak ke arah barbel. Aku memposisikan diri di bawah batang besi yang dingin, merasakan beban itu menekan bahuku. Biasanya, aku menyukai tekanan iniβrasa sakit yang terukur dan logis. Namun hari ini, kehadiran Aris terasa berbeda. Ia berdiri terlalu dekat. Jauh lebih dekat dari biasanya.
"Turun pelan-pelan," perintahnya.
Aku turun, otot paha dan bokongku menegang. Saat aku berada di posisi terbawah, aku merasakan tangan Aris menyentuh pinggangku untuk membetulkan posturku. Sentuhan itu ringan, hanya ujung jari, namun rasanya seperti sengatan listrik yang merambat ke seluruh sarafku. Tubuhku berkhianat; aku gemetar bukan karena beban besi itu, tapi karena sentuhannya.
"Tahan di situ," bisiknya. Ia merunduk, wajahnya kini sejajar dengan bahuku. Aku bisa merasakan embusan napasnya yang hangat di dekat telingaku. "Napasmu pendek-pendek, Dira. Detak jantungmu di lehermu... aku bisa melihatnya berdenyut sangat cepat."
Aku menelan ludah dengan susah payah. "Ini... ini hanya karena bebannya berat, Aris."
"Benarkah?" Ia menarik tangannya, namun ia tidak menjauh. Ia justru melangkah ke depanku saat aku berdiri tegak kembali. Ia mengambil napas panjang melalui hidung, seolah-olah sedang menghirup udara di sekitarku. "Ada yang berbeda darimu hari ini. Kamu memakai parfum baru?"
Jantungku seakan berhenti berdetak. Apakah dia tahu? Apakah dia bisa mencium jejak rahasia itu? Aku merasa te******* di bawah sorot lampu neon gym yang pucat. "Tidak, aku tidak pakai parfum untuk latihan."
Aris memiringkan kepalanya sedikit, sebuah senyum tipis yang sulit diartikan muncul di sudut bibirnya. "Aneh. Aromanya sangat familiar. Seperti sesuatu yang sangat pribadi."
Keheningan yang mencekam menyelimuti kami di tengah kebisingan suara denting besi dari member gym lain. Aku merasa terjepit di antara keinginan untuk lari sekencang mungkin dan keinginan untuk menyerah pada ketegangan yang menyesakkan ini. Aris tidak bergerak, ia terus menatapku dengan intensitas yang membuat lututku lemas.
"Lanjutkan set berikutnya," perintahnya kemudian, suaranya kembali profesional, namun ada nada rendah yang menggetarkan. "Dan kali ini, jangan mencoba menyembunyikan apa pun dariku, Dira. Aku tahu kapan klienku tidak jujur pada tubuhnya sendiri."
Aku melakukan repetisi berikutnya dengan gerakan mekanis. Setiap kali ia mendekat untuk mengoreksi posisiku, aku merasa seolah-olah ia sedang melakukan permainan kucing dan tikus. Ia akan menyentuh bahuku, membetulkan letak tanganku di barbel, dan setiap kali itu terjadi, ia akan berlama-lama di sana, seolah-olah sedang mencari sesuatu di kulitku.
Setengah jam kemudian, sesi itu berakhir. Aku mandi dengan terburu-buru, mencoba memba**h rasa panas yang membakar kulitku. Saat aku keluar dari ruang bilik mandi, masih dengan rambut basah, aku melihat Aris sedang berdiri di depan deretan loker. Ia membelakangiku.
Tangannya bergerak membuka loker nomor 42.
Aku terpaku di tempat, bersembunyi di balik partisi dinding. Aku melihatnya mengambil tas olahraganya, lalu ia mengeluarkan alat c**ur elektrik itu. Ia tidak langsung mema**kkannya ke tas. Aris memegang alat itu, memutar-mutarnya di tangan, lalu ia melakukan sesuatu yang membuat jantungku nyaris copot.
Ia mendekatkan alat c**ur itu ke wajahnya, menutup mata, dan menghirup aromanya dalam-dalam. Persis seperti yang kulakukan dua hari lalu.
Lalu, tanpa menoleh, ia berbicara dengan suara yang c**up keras untuk kudengar di koridor yang sepi itu.
"Aku tahu kamu masih di sana, Dira."
Aku membeku. Napasku tercekat. Ia perlahan membalikkan tubuhnya, menatap langsung ke arah celah di mana aku berdiri. Alat c**ur itu masih ada di tangannya, digenggam erat.
"Kamu meninggalkan sesuatu yang tertinggal di sini," ucapnya pelan, sambil melangkah maju ke arah persembunyianku. "Atau mungkin... kamu mengambil sesuatu yang seharusnya bukan milikmu?"
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!