Dira Amara tidak pernah seberantakan ini.
Dari sudut cermin besar yang memantulkan deretan mesin beban, aku memperhatikan gerak-geriknya. Biasanya, Dira adalah definisi dari presisi. Setiap repetisi *squat*-nya dilakukan dengan ritme yang nyaris matematis, punggung tegak, dan pandangan lurus ke depan. Namun pagi ini, ia kehilangan fokus. Napasnya pendek-pendek, dan sepasang matanya yang biasanya jernih itu terus-menerus menghindari tatapanku.
"Tiga lagi, Dira. Jangan turunkan bahumu," ucapku, sengaja merendahkan nada suaraku hingga tepat berada di ambang pendengarannya di tengah dentum musik *techno* yang m****akkan telinga gym.
Ia tersentak kecil. Bahunya menegang, dan aku bisa melihat butiran keringat meluncur dari pelipisnya, melewati garis rahang yang kaku, lalu menghilang di balik kerah kaosnya yang basah. Ada getaran halus di jemarinya saat ia menggenggam barbel. Getaran yang tidak berasal dari kelelahan otot, tapi sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang bersifat psikis.
Aku melangkah mendekat, berdiri tepat di belakangnya. Aku bisa mencium aroma tubuhnyaβcampuran antara detergen mahal, keringat tipis, dan sesuatu yang manis, mungkin parfum vanila yang mulai memudar. Aku meletakkan tanganku sedikit di atas pinggangnya, tidak menyentuh, hanya memberi isyarat ruang.
"Kamu gelisah," bisikku.
Dira hampir menjatuhkan bebannya. Ia meletakkan barbel kembali ke rak dengan bunyi denting besi yang keras. Ia berbalik, dan untuk sesaat, aku melihat kilatan ketakutan yang murni di matanya, bercampur dengan gairah yang berusaha keras ia tekan.
"Aku cuma kurang tidur, Aris. Pekerjaan di kantor sedang g***," jawabnya cepat, terlalu cepat. Ia menyambar handuknya seolah-olah benda itu adalah pelindung dari pandanganku.
"Benarkah? Karena tubuhmu menceritakan kisah yang berbeda," aku tersenyum tipis, tipe senyum yang sering kugunakan untuk membuat klien merasa nyaman sekaligus terintimidasi. Aku tahu posisiku. Aku adalah otoritas di sini. Aku adalah orang yang mengatur napasnya, yang menentukan batas rasa sakitnya. Dan aku sangat menyukai kendali itu.
Dira tidak menjawab. Ia hanya mengangguk singkat dan bergegas menuju ruang ganti wanita tanpa menoleh lagi.
Aku memperhatikannya pergi, merasakan sebuah tarikan aneh di dadaku. Dira Amara yang pendiam dan perfeksionis mulai menunjukkan retakan. Dan aku selalu tertarik pada hal-hal yang mulai retak.
Setelah sesi berakhir dan area gym mulai sepi, aku berjalan menuju loker khusus staf di bagian belakang. Ruangan itu dingin, hanya diterangi lampu neon yang berkedip di pojok langit-langit. Aku membuka pintu loker besiku yang sedikit berdecit.
Awalnya, semuanya tampak normal. Tas olahragaku, botol suplemen, dan beberapa pasang sepatu cadangan. Namun, saat tanganku meraih kantong kecil di bagian dalam untuk mengambil dompet, jemariku menyentuh sesuatu yang lain.
Alat c**ur elektrikku.
Aku terdiam. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat, bukan karena terkejut, melainkan karena kejanggalan yang kurasakan. Aku adalah pria dengan kebiasaan yang kaku. Aku selalu meletakkan alat c**ur itu di dalam kotak plastiknya, dalam posisi horizontal, sejajar dengan garis tas.
Sekarang, alat itu tergeletak begitu saja di atas lipatan baju ganti, miring empat puluh lima derajat. Dan tutup pelindung matanya tidak terpasang dengan sempurna.
Aku mengambil alat itu, merasakannya di telapak tanganku. Benda itu masih terasa sedikit hangat, atau mungkin itu hanya imajinasiku. Aku membawanya mendekat ke wajahku.
Aroma itu.
Bau maskulin dari sabun c**urku masih ada, namun ada lapisan lain di sana. Bau vanila yang samar. Aroma yang sama yang kucium dari leher Dira beberapa menit yang lalu.
Aku memejamkan mata, membiarkan pikiranku merangkai potongan teka-teki itu. Bayangan Dira yang menyelinap ma**k ke area loker pria, jemarinya yang gemetar menyentuh barang-barang pribadiku, mungkin ia bahkan menempelkan alat ini ke kulitnya sendiri... Pikiran itu seharusnya membuatku merasa terlanggar. Seharusnya aku merasa marah karena privasiku dicuri.
Namun, yang kurasakan justru sebaliknya. Sebuah gelombang panas merambat naik dari tengkukku.
Aku membayangkan wajah Dira yang biasanya kaku dan terkontrol, berubah menjadi liar dalam kegelapan bilik mandi, terobsesi pada sisa-sisa diriku yang menempel pada benda mati ini. Wanita itu, yang selalu tampak begitu teratur, ternyata menyimpan keg***an yang sama besarnya dengan apa yang selalu kusembunyikan di balik seragam pelatih ini.
Aku teringat bagaimana ia menghindari tatapanku hari ini. Itu bukan karena benci. Itu adalah rasa malu dari seseorang yang telah mencicipi buah terlarang dan menginginkannya lagi.
Aku menyalakan alat c**ur itu. Suara dengungan rendah memenuhi ruangan yang sunyi. Aku menatap pantulan diriku di cermin kecil yang tertempel di pintu loker. Aku melihat predator yang sedang mengenali mangsanya, atau mungkin, aku melihat seseorang yang akhirnya menemukan lawan main yang sepadan.
Ternyata, Dira Amara tidak hanya ingin dilatih secara fisik. Dia ingin memiliki sesuatu yang lebih. Dia ingin ma**k ke dalam ruang yang tidak seharusnya ia ma**ki.
Aku mematikan alat c**ur itu dan meletakkannya kembali, tapi kali ini aku tidak meletakkannya dengan rapi. Aku membiarkannya berada di posisi yang mencolok, seolah-olah memberikan izin diam-diam baginya untuk menemukannya lagi.
"Jadi, itu permainanmu, Dira?" gumamku pada kesunyian.
Aku menutup pintu loker dengan dentuman pelan. Jika dia ingin bermain dengan api, aku tidak keberatan menjadi orang yang menyulut bensinnya. Sekarang aku tahu rahasianya, dan aku tidak akan membiarkannya lolos begitu saja. Besok, aku akan memastikan latihannya jauh lebih berat. Aku ingin melihat sejauh mana dia bisa bertahan sebelum dia benar-benar hancur dalam obsesinya sendiri.
Saat aku melangkah keluar, aku melihat botol minum Dira tertinggal di dekat bangku latihan. Aku mengambilnya, merasakan sisa kelembapan di permukaan botol itu, lalu tersenyum gelap. Permainan ini baru saja dimulai.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!