Layar monitor di hadapanku menampilkan barisan angka yang mulai tampak seperti kawanan semut hitam yang berbaris acak. Laporan keuangan kuartal ketiga yang biasanya kuselesaikan dalam waktu tiga jam, kini sudah teronggok di sana selama dua hari tanpa kemajuan berarti. Jemariku yang biasanya menari lincah di atas papan ketik, sekarang hanya diam, bertumpu pada dagu, sementara pikiranku melayang jauh melintasi beberapa blok menuju sebuah gedung kebugaran yang pengap namun memabukkan.
"Dira? Kamu masih bersama kami?"
Suara berat Pak Handoko memecah keheningan di ruang rapat. Aku tersentak, punggungku menegak seketika hingga menab**k sandaran kursi. Di hadapanku, lima pasang mata menatap heran. Pak Handoko, manajer senior yang terkenal galak, mengerutkan keningnya hingga kerutan di dahinya menyerupai lipatan kain yang tidak disetrika.
"Ya, Pak. Maaf. Saya sedang... memastikan korelasi antara biaya operasional dan margin laba bersih," jawabku cepat, suaraku sedikit bergetar. Kebohongan itu meluncur begitu saja dari bibirku yang mendadak kering.
"Pastikan korelasi itu beres sebelum jam makan siang, Dira. Kita butuh angka-angka itu untuk presentasi direksi sore nanti. Tidak biasanya kamu melamun seperti ini," sindir Pak Handoko sebelum menutup map di depannya dengan suara berdebam yang membuat jantungku mencelos.
Begitu pintu ruang rapat tertutup, aku kembali ke mejaku. Alih-alih membuka perangkat lunak akuntansi, jemariku justru membuka tab baru di peramban. Secara otomatis, aku mengetikkan nama pusat kebugaran itu, lalu mencari profil staf.
Wajah Aris muncul di layar. Foto profilnya yang profesional—menggunakan polo shirt hitam yang ketat, menonjolkan otot bisepnya yang kokoh—membuat napas kian memendek. Matanya di dalam foto itu seolah menatap langsung ke arahku, menembus dinding pertahanan yang selama ini kubangun dengan sangat rapi. Aku bisa merasakan aroma maskulin yang kucuri dari alat c**ur elektriknya tempo hari seolah kembali memenuhi rongga hidungku, mengalahkan aroma kopi saset yang menguap di meja kerjanya.
Obsesi itu bukan lagi sekadar getaran di bawah kulit; ia kini menjadi rasa lapar yang fisik.
Aku butuh sesuatu yang lebih. Satu sentuhan pada alat c**urnya saja tidak c**up. Aku butuh akses. Aku butuh tahu apa lagi yang dia simpan di balik pintu loker bernomor 104 itu.
"Dira, kamu mau ikut makan siang ke bawah? Ada promo ramen baru," suara Rina, rekan kubikel sebelahku, membuyarkan lamunan.
"Nggak, Rin. Aku harus menyelesaikan laporan ini," jawabku tanpa menoleh, mataku masih terpaku pada jadwal kelas Aris yang tertera di situs tersebut.
"Dira, wajahmu agak pucat. Kamu sakit? Belakangan ini kamu juga sering telat balik dari gym," Rina mendekat, matanya menyelidik dengan rasa ingin tahu yang menyebalkan.
"Aku cuma kurang tidur, Rin. Tolong, aku butuh konsentrasi," ketusku, lebih tajam dari yang kukira. Rina mengangkat tangan, tanda menyerah, lalu melenggang pergi dengan gumaman pelan tentang betapa anehnya perilakuku belakangan ini.
Aku tidak peduli. Aku tidak punya ruang di kepalaku untuk perasaan orang lain. Saat ini, kepalaku penuh dengan rencana. Aku memperhatikan pola jadwal Aris. Dia biasanya melatih klien dari jam lima sore hingga jam sembilan malam. Namun, di hari Selasa—yaitu hari ini—ada jeda satu jam antara jam empat hingga jam lima sore. Jam di mana dia biasanya membersihkan diri atau melakukan latihan mandiri.
Pukul dua siang, aku menutup laptopku dengan kasar. Laporan Pak Handoko masih berantakan, penuh dengan salah ketik dan angka yang tidak seimbang. Tapi rasa cemas akan pekerjaan kalah telak oleh dorongan impulsif yang mendidih di perutku. Aku mengambil tas tangan, merapikan blazer, dan berjalan menuju ruangan Pak Handoko.
"Pak, saya mendadak tidak enak badan. Maag saya kambuh parah. Saya ijin pulang lebih awal," ucapku dengan wajah yang dipaksakan terlihat kesakitan.
Pak Handoko tampak ingin memprotes, teringat laporan yang belum selesai, tapi melihat wajahku yang berkeringat dingin—sebenarnya karena adrenalin, bukan penyakit—dia hanya bisa menghela napas panjang. "Bawa pulang laporannya. Saya mau itu ada di email saya malam ini. Tanpa alasan lagi, Dira."
Aku mengangguk cepat, lalu hampir berlari keluar dari kantor.
Di dalam taksi, tanganku gemetar hebat. Aku membuka tas kosmetikku, mengeluarkan cermin kecil. Mataku terlihat berbeda—ada binar liar yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Aku bukan lagi Dira yang perfeksionis dan teratur. Aku adalah seseorang yang sedang berburu.
Sesampainya di gym, suasana masih sepi karena jam kerja belum usai. Aku langsung menuju ruang loker wanita untuk mengganti pakaian, namun tujuanku sebenarnya adalah koridor sempit yang menghubungkan ruang loker pria dengan area cuci pakaian staf. Aku tahu ada satu titik buta di sana, di mana kamera CCTV tidak bisa menjangkau secara langsung ke arah deretan loker pribadi pelatih.
Aku berjalan dengan langkah yang dibuat sealami mungkin, berpura-pura mencari toilet atau handuk bersih. Jantungku berdentum keras, suaranya seolah menggema di lorong yang sunyi itu.
Tepat di persimpangan menuju ruang loker pria, aku berhenti. Harum sabun mandi yang sangat kukenal mulai tercium. Itu aroma Aris. Dia ada di dalam.
Aku bersembunyi di balik pilar beton, mengintip sedikit. Aris baru saja keluar dari bilik mandi hanya dengan lilitan handuk di pinggangnya. Uap air mengepul di sekitarnya. Aku menahan napas, mataku terpaku pada tetesan air yang meluncur di punggungnya yang bidang dan berotot, mengikuti lekuk tulang belakangnya hingga menghilang di balik batas handuk.
Dia membuka loker nomor 104. Dia mengambil sebotol losion tubuh dan mulai mengoleskannya ke lengan. Gerakannya lambat, hampir seperti sebuah tarian yang menyiksaku.
Kemudian, sebuah keberuntungan—atau mungkin kutukan—terjadi. Ponsel Aris yang diletakkan di atas bangku panjang berdering. Dia mendengus, tampak kesal, lalu segera memakainya celana pendek dan kaos tanpa lengan dengan terburu-buru. Sambil berbicara di telepon dengan nada serius, dia menutup pintu lokernya.
*Klik.*
Suara itu seharusnya menandakan pintu terkunci. Namun, dari tempatku berdiri, aku melihat pintu besi itu tidak sepenuhnya rapat. Aris, yang tampaknya terganggu oleh percakapan di telepon yang terdengar seperti masalah keluarga yang mendesak, langsung menyampirkan tas olahraganya ke bahu dan berjalan keluar melalui pintu belakang, meninggalkanku sendirian di lorong itu.
Aku keluar dari bayang-bayang pilar. Kakiku melangkah maju seolah digerakkan oleh benang yang ditarik oleh takdir yang gelap. Tanganku terjulur, gemetar, menyentuh tepian dingin pintu loker 104.
Aku tahu ini salah. Aku tahu ini adalah titik di mana aku tidak bisa kembali lagi menjadi Dira yang dulu. Namun, saat pintu itu berderit terbuka di bawah sentuhanku, aroma tubuh Aris yang terperangkap di dalam ruang sempit itu menyergapku—lebih kuat, lebih intim, lebih nyata.
Di sana, di tumpukan pakaian kotornya, aku melihat sesuatu yang berkilau di pojok rak. Sebuah kunci cadangan dengan gantungan kunci bertuliskan nomor apartemen.
Napas hororku tercekat di tenggorokan. Ini bukan lagi soal alat c**ur atau loker gym. Ini adalah kunci menuju dunianya yang paling pribadi. Dan saat aku hendak meraih kunci itu, suara langkah kaki yang berat dari arah pintu ma**k ruang loker membuat darahku mendadak beku.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!