Lampu neon supermarket yang terlalu terang memantul pada lant** marmer yang meng***p, menciptakan siluet putih yang menusuk mata. Aku membenci pencahayaan seperti ini; seolah-olah setiap pori-pori dan setiap rahasia yang kusembunyikan di bawah lapisan riasan tipis ini dipaksa keluar untuk diperiksa. Di luar, hujan rintik-rintik mulai membasahi Jakarta, meninggalkan aroma aspal basah yang merayap ma**k setiap kali pintu otomatis terbuka.
Aku sedang menimbang-nimbang antara dua kemasan yoghurt rendah lemak ketika sebuah aroma menghantamku. Bukan aroma pembersih lant** atau wangi buah-buahan segar di sekitarku. Itu adalah aroma kayu cendana yang bercampur dengan dinginnya udara malam. Aroma yang telah menghantui mimpiku sejak kejadian di bilik mandi itu.
"Pilihan yang sulit, ya?"
Suara bariton itu rendah, bergetar tepat di belakang tengkukku. Aku tersentak, hampir saja menjatuhkan wadah plastik di tanganku. Aku berbalik terlalu cepat, hampir kehilangan keseimbangan sebelum tanganku mencengkeram pinggiran rak pendingin yang dingin.
Aris berdiri di sana.
Dia tidak mengenakan seragam pelatihnya yang ketat. Malam ini, ia memakai jaket denim gelap di atas kaus hitam polos, dengan celana jin senada yang memberikan kesan jauh lebih sant**, namun entah bagaimana, jauh lebih mengancam. Rambutnya sedikit acak-acakkan, mungkin karena angin, dan ada sisa-sisa titik air hujan yang berkilauan di bahunya.
"Aris," bisikku. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri—terlalu tinggi, terlalu rapuh. Aku segera berdeham, berusaha memanggil kembali sosok Dira Amara yang perfeksionis, wanita karier yang selalu memegang kendali. "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini."
Aris tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak sampai ke mata, namun sanggup membuat perutku mulas. "Aku tinggal beberapa blok dari sini. Dan kau... kau tampak seperti sedang melakukan operasi bedah pada yoghurt itu."
Aku menunduk, menyadari bahwa aku masih memegang dua kemasan itu seolah-olah hidupku bergantung padanya. Aku segera meletakkannya kembali ke rak dengan gerakan yang diatur sedemikian rupa agar terlihat tenang, padahal ujung jariku bergetar. "Aku hanya memperhatikan label nutrisinya. Kebiasaan buruk."
"Disiplin yang bagus, maksudmu," koreksinya. Ia melangkah maju satu tindak, mema**ki ruang pribadiku. "Di dalam gym, kau adalah murid yang paling penurut. Aku tidak menyangka sisi teliti itu juga terbawa sampai ke supermarket."
Aku merasakan panas merambat ke pipiku. Pikiranku langsung melesat ke bayangan alat c**ur di dalam loker itu—bagaimana aku menyentuhnya, bagaimana aku menghirup aromanya, dan apa yang kulakukan setelahnya. Apakah dia tahu? Apakah dia menyadari ada yang berbeda dariku saat kami berlatih tadi pagi?
"Aku... aku selalu berusaha menjaga semuanya tetap teratur," kataku, berusaha menjaga nada suaraku tetap datar. Aku meraih keranjang belanjaanku, berniat untuk segera pergi. "Yah, senang bertemu denganmu, Aris. Sampai jumpa di sesi besok."
Namun, Aris tidak bergerak menyingkir. Ia justru memperhatikan isi keranjangku dengan tatapan menyelidik yang membuatku merasa te*******. Di sana ada salad kemasan, dada ayam, dan sebotol air mineral. Sangat membosankan. Sangat aman.
"Kau selalu menjaga semuanya tetap teratur, Dira," Aris mengulang kalimatku, suaranya kini lebih pelan, lebih intim. "Tapi terkadang, orang yang paling rapi di luar adalah orang yang menyimpan kekacauan paling besar di dalam. Benar begitu?"
Jantungku berdegup kencang, menghantam dinding dadaku dengan liar. "Aku tidak mengerti apa maksudmu."
"Kau tahu persis apa maksudku." Aris sedikit menunduk, matanya mengunci mataku. Di bawah cahaya neon yang kejam ini, aku bisa melihat kilatan aneh di pupil matanya—sesuatu yang gelap, sesuatu yang lapar. "Ada ketegangan dalam dirimu yang tidak bisa hilang hanya dengan latihan beban. Kau tampak... terobsesi dengan sesuatu."
Aku menelan ludah dengan susah payah. Topeng profesionalitas yang kubangun selama bertahun-tahun mulai retak. Aku bisa merasakan keringat dingin di pelipisku. "Aku hanya lelah karena pekerjaan, Aris. Jangan terlalu banyak menganalisis."
Aku mencoba melangkah melewatinya, namun lenganku tidak sengaja bersentuhan dengan jaket denimnya. Dinginnya kain itu dan hangatnya tubuh di baliknya menciptakan kontras yang menyetrum sarafku. Aku berhenti seketika, napas yang tertahan di paru-paruku terasa menyakitkan.
Aris berbalik mengikuti gerakanku. "Kau menjatuhkan sesuatu," katanya tiba-tiba.
Aku menoleh ke lant**, namun tidak ada apa-apa di sana. Ketika aku kembali menatapnya, ia sudah memegang sebuah benda kecil di antara ibu jari dan telunjuknya. Itu adalah selembar struk belanja lama yang entah bagaimana terjatuh dari sakuku—atau mungkin dia mengambilnya dari suatu tempat.
"Bukan milikku," kataku cepat, mencoba merampasnya.
Aris menjauhkan struk itu dengan gerakan tangkas, matanya membaca deretan angka di sana sebelum beralih kembali padaku. Senyumnya kini lebih lebar, lebih berani. "Bukan ini yang kucari. Aku hanya ingin melihat seberapa cepat reaksimu saat merasa terancam."
Ia mengembalikan struk itu padaku, ujung jarinya sengaja mengusap telapak tanganku c**up lama hingga aku bisa merasakan kasar kulitnya. "Kau sangat pandai bersembunyi, Dira. Tapi ingat, aku adalah seorang pelatih. Tugasku adalah mengenali kapan seseorang memaksakan diri melampaui batasnya."
Ia melangkah mundur, memberiku jalan, namun auranya masih terasa menjepitku di tempat. "Sampai jumpa besok pagi. Jangan telat. Kita punya banyak hal yang harus 'dibereskan'."
Aku tidak menjawab. Aku segera membalikkan badan dan berjalan menuju kasir dengan langkah terburu-buru, bahkan tidak berani menoleh ke belakang. Tanganku yang memegang struk itu masih bergetar hebat.
Saat aku berdiri di depan kasir, aku baru menyadari sesuatu. Aku merogoh tasku, mencari ponsel untuk membayar, namun jariku menyentuh sesuatu yang lain di kantong samping tas kerjaku. Sesuatu yang keras dan dingin.
Jantungku seolah berhenti berdetak.
Aku tidak pernah menaruh benda itu di sana. Aku perlahan mengeluarkan benda itu sedikit saja untuk melihatnya. Itu adalah tutup pelindung dari alat c**ur elektrik—jenis yang sama persis dengan milik Aris yang kutemukan di loker.
Kapan dia mema**kkannya ke sana? Dan yang lebih mengerikan... apakah ini sebuah peringatan, atau sebuah undangan untuk permainan yang lebih gelap?
Aku menoleh ke arah deretan rak tempat kami bertemu tadi, namun Aris sudah menghilang. Yang tersisa hanyalah aroma kayu cendana yang samar, mengejekku di tengah dinginnya udara supermarket yang mencekam.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!