Skandal Sang Ambisius: Jerat di Balik Kemewahan

Bab 1: Bab 1 - Memperkenalkan kehidupan mewah Maya sebagai sim...

Pengaturan Membaca

Lant** tiga puluh lima apartemen *penthouse* di kawasan Sudirman ini menawarkan pemandangan Jakarta yang nyaris tidak nyata. Di balik jendela kaca setinggi langit-langit, kelap-kelip lampu jalanan tampak seperti taburan berlian yang tumpah di atas beludru hitam. Aku menyesap *Chardonnay* dari gelas kristal tipis, membiarkan cairan dingin itu membasahi tenggorokanku yang terasa kering karena penantian.

Malam ini aku genap berusia dua puluh tahun.

Aku melirik pantulan diriku di cermin besar yang membingkai ruang tengah. Gaun sutra merah rancangan desainer ternama membalut tubuhku dengan sempurna, menonjolkan lekuk yang selalu dipuja-puji oleh Adrian. Rambutku disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut di tengkuk. Aku tampak seperti wanita yang memiliki segalanya. Siapa pun yang melihatku pasti akan iri; seorang mahasiswi yang tinggal di istana awan, dikelilingi tas-tas kulit eksotis, dan koleksi sepatu yang harganya setara dengan biaya kuliah satu semester di kampusku.

Namun, di balik semua kemewahan ini, ada sunyi yang menyesakkan.

Jam dinding melangkah malas menuju angka sebelas. Harusnya Adrian sudah di sini dua jam yang lalu. Aku sudah menyiapkan makan malam romantis; *wagyu ribeye* yang kini mendingin di atas meja makan bertatahkan marmer, ditemani lilin-lilin aromaterapi yang mulai kehilangan sumbunya.

Ponselku yang tergeletak di atas meja kopi bergetar. Jantungku berdegup kencang, berharap itu adalah pesan dari Adrian yang mengatakan dia sudah di lobi. Aku segera menyambarnya.

*“Selamat ulang tahun, Sayang. Maaf, rapat koalisi malam ini berjalan lebih alot dari yang diperkirakan. Ada isu krusial yang harus diselesaikan sebelum pengumuman besok. Aku sudah mengirimkan sesuatu untukmu melalui kurir. Nikmati malammu. Aku mencint**mu.”*

Aku membaca pesan itu berulang kali sampai kata-katanya terasa hambar. Tidak ada emot***n hati, tidak ada janji untuk datang menyusul. Hanya kalimat baris-perbaris yang disusun rapi, seolah-olah ditulis oleh asisten pribadinya, bukan oleh pria yang baru seminggu lalu membisikkan janji manis di telingaku.

Ketukan di pintu depan memecah keheningan. Aku meletakkan gelas anggurku dengan sedikit terlalu keras hingga cairannya memercik ke meja. Aku berjalan menuju pintu, berusaha mengulas senyum di wajahku, mencoba meyakinkan diri bahwa kado ini setidaknya bisa menghibur kekecewaanku.

Seorang pria berseragam hitam berdiri di sana, memegang sebuah kotak beludru berukuran sedang. “Malam, Ibu Maya. Titipan dari Bapak Adrian.”

“Terima kasih,” jawabku singkat. Aku menerima kotak itu dan menutup pintu.

Aku membukanya di ruang tengah. Di dalamnya terdapat sebuah kalung berlian dengan mata zamrud yang berkilau tajam di bawah cahaya lampu gantung kristal. Sangat indah. Sangat mahal. Namun, saat aku menyentuh dinginnya permata itu, sebuah sensasi aneh menjalar di punggungku. Alih-alih merasa dicint**, aku merasa seperti baru saja menerima bayaran atas waktuku yang terbuang.

Aku teringat bagaimana Adrian pertama kali membawaku ke apartemen ini enam bulan lalu. *“Ini untukmu, Maya. Atas namamu. Aku ingin kamu merasa aman dan dihargai,”* katanya saat itu sambil menyerahkan kunci emas. Waktu itu, aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Aku, seorang gadis dari keluarga biasa yang ambisius, tiba-tiba mendapatkan akses ke dunia yang hanya bisa kulihat di layar televisi.

Aku berjalan menuju meja kerja di sudut ruangan, tempat tumpukan berkas yang dikirimkan pengacara Adrian kemarin sore berada. Berkas-berkas kepemilikan aset, saham di beberapa perusahaan cangkang, dan dokumen properti. Semuanya membutuhkan tanda tanganku. Adrian bilang itu adalah strategi investasi jangka panjang untuk masa depan kami berdua jika nanti dia sudah resmi bercerai atau setidaknya jika posisi politiknya sudah c**up aman untuk mempublikasikan hubungan kami.

*“Kamu adalah satu-satunya orang yang paling aku percayai, Maya,”* suaranya yang berat dan berwibawa terngiang kembali di kepalaku.

Aku mengambil salah satu dokumen. Namaku, Maya Safira, tertera jelas di sana sebagai pemilik tunggal sebuah perusahaan konstruksi yang bahkan aku tidak tahu di mana kantornya. Dulu, aku menandatangani apa pun yang dia sodorkan tanpa bertanya, karena cinta—atau mungkin karena aku terlalu terpesona dengan gaya hidup yang dia berikan.

Tiba-tiba, televisi yang sengaja kunyalakan tanpa suara di sudut ruangan menarik perhatianku. Sebuah *breaking news* menampilkan wajah Adrian yang sedang tersenyum percaya diri di podium, dikelilingi oleh wartawan. Judul berita di bawahnya membuat tanganku mendadak gemetar: **“KPK Geledah Kantor Kementerian Terkait Dugaan Suap Proyek Infrastruktur, Nama Politikus Muda Berinisial A Mencuat.”**

Aku tertegun. Pikiranku berputar liar. Aku melirik kalung zamrud di tanganku, lalu melihat tumpukan dokumen di meja. Untuk pertama kalinya, kemewahan di sekelilingku tidak terasa seperti pelukan, melainkan seperti jeruji yang mulai merapat.

Mengapa semua aset itu atas namaku? Mengapa dia sangat jarang menemuiku di tempat publik akhir-akhir ini? Dan mengapa malam ini, di hari ulang tahunku, dia lebih memilih bersembunyi di balik alasan "rapat koalisi" sementara namanya mulai diseret dalam pusaran ka**s korupsi?

Ponselku bergetar lagi. Kali ini bukan pesan dari Adrian. Itu adalah notifikasi dari sebuah nomor yang tidak kukenal.

*“Periksa b**nkas kecil di dalam lemari bajumu, Maya. Ada sesuatu yang Adrian sembunyikan darimu. Jangan sampai dia tahu kamu membukanya.”*

Napas daku tertahan. Siapa yang mengirimkan ini? Aku menoleh ke arah kamar tidur utama, di mana lemari *walk-in closet* besarku berada. Selama ini, aku tahu ada b**nkas kecil di sana, tapi Adrian bilang itu hanya berisi dokumen-dokumen lama miliknya yang tidak penting dan dia memegang satu-satunya kunci.

Firasat buruk yang sedari tadi mengint** kini meledak menjadi ketakutan yang nyata. Aku melangkah menuju kamar dengan kaki yang terasa berat. Setiap langkah yang kuambil di atas karpet mahal ini seolah-olah menenggelamkanku lebih dalam ke dalam lumpur yang tidak kulihat.

Aku berdiri di depan lemari, menatap pintu b**nkas yang dingin itu. Di luar, suara guntur menggelegar, diikuti rintik hujan yang mulai menghantam kaca apartemen dengan keras. Di tengah kemegahan ini, aku baru menyadari satu hal: aku tidak tahu siapa sebenarnya pria yang sedang tidur denganku selama ini, dan aku tidak tahu seberapa besar harga yang harus kubayar untuk semua berlian ini.

Tanganku terulur, mencoba menarik pintu b**nkas yang entah bagaimana, malam ini, tampak sedikit terbuka.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca