Udara malam di vila terpencil di kawasan Rancamaya ini terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku merapatkan parit wol krem yang melilit tubuhku, mencoba mencari sisa-sisa kehangatan yang tampaknya telah menguap sejak surat pangg***n dari KPK mendarat di atas meja riasku dua hari yang lalu.
Di depanku, Adrian berdiri membelakangiku. Ia menatap ke arah kerlip lampu kota di kejauhan melalui jendela kaca setinggi langit-langit. Bahunya tegak, posturnya masih sesempurna saat ia memberikan pidato politik di layar televisi. Ia menyesap wiski dari gelas kristal di tangannya, es batu di dalamnya berdenting pelan—suara yang biasanya menenangkanku, namun kini terdengar seperti lonceng kematian.
"Kau datang, Maya," suaranya rendah, berwibawa, namun tanpa kehangatan yang dulu selalu menyert** setiap sapaannya.
"Aku butuh penjelasan, Mas," suaraku bergetar, meski aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk terdengar tegar. "Pengacaraku bilang... semua aset itu. Apartemen di Sudirman, rumah atas namaku di Bali, rekening-rekening luar negeri itu... semuanya adalah aliran dana proyek infrastruktur yang sedang diselidiki. Kenapa namaku, Mas? Kenapa bukan namamu?"
Adrian berbalik perlahan. Tidak ada guratan penyesalan di wajahnya. Wajah tampan yang dulu kupuja itu kini terasa seperti topeng porselen yang dingin. Ia meletakkan gelasnya di atas meja marmer dengan dentuman pelan yang membuat jantungku mencelos.
"Kau pintar, Maya. Itulah yang membuatku tertarik padamu sejak awal," ia berjalan mendekat, langkah sepatunya berbunyi ritmis di atas lant** kayu ek. "Kau ambisius. Kau ingin dunia, dan aku memberikannya padamu. Bukankah itu kesepakatan kita?"
"Kesepakatan?" Aku tertawa getir, air mata mulai menggenang namun kutahan agar tidak jatuh. "Aku mencint**mu! Aku mengira semua kemewahan ini adalah tanda kasih sayangmu, caramu melindungiku karena aku tidak bisa muncul secara resmi di sampingmu sebagai istrimu. Tapi ternyata... aku hanya tempat sampah untuk uang harammu?"
Adrian berhenti tepat di depanku. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang dingin menyentuh pipiku. Aku ingin menghindar, tapi tubuhku seolah membeku. "Jangan naif, Sayang. Di dunia politik, cinta adalah variabel yang paling tidak relevan. Kau adalah *nominee* yang sempurna. Mahasiswi cantik, berasal dari keluarga biasa, tidak punya rekam jejak kriminal. Siapa yang akan curiga?"
Ia menarik tangannya, lalu berjalan mengelilingiku seperti singa yang sedang mengamati mangsa yang sudah terpojok. "Semua dokumen yang kau tanda tangani, semua surat kuasa itu... itu adalah surat jaminan keselamatanku. Jika badai ini datang—dan sekarang ia memang datang—maka kaulah yang akan berdiri di garis depan. Kaulah pemilik sah aset-aset itu, Maya. Kau yang harus menjelaskan dari mana uang itu berasal, bukan aku."
Rasa mual tiba-tiba naik ke kerongkonganku. Oksigen di ruangan luas ini seolah tersedot habis. "Jadi, kau tidak pernah mencint**ku? Sedikit pun?"
Adrian menghentikan langkahnya dan menatapku langsung ke dalam mata. Untuk pertama kalinya, aku melihat kekosongan yang mengerikan di sana. Tidak ada gairah, tidak ada kasih sayang, hanya kalkulasi dingin.
"Cinta adalah kemewahan yang tidak bisa kumiliki, Maya. Aku membutuhkan wadah. Wadah yang cantik, yang haus akan validasi, dan c**up bodoh untuk percaya pada janji-janji manis tentang masa depan. Kau memenuhi semua kriteria itu dengan sangat baik."
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada tamparan fisik mana pun. *C**up bodoh.* Kata-kata itu bergema di kepalaku, menghancurkan sisa-sisa harga diri yang masih kucoba pertahankan. Aku teringat bagaimana aku dengan bangganya memamerkan tas-tas bermerek di media sosial, bagaimana aku merasa lebih tinggi dari teman-teman kuliahku karena memiliki akses ke lingkaran kekuasaan ini. Ternyata, semua itu hanyalah rant** emas yang dipasang Adrian untuk menyeretku ke liang lahat bersamanya.
"Lalu bagaimana denganku?" bisikku, nyaris tak terdengar. "Aku bisa dipenjara, Mas. Masa depanku... hidupku..."
Adrian mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. "Pengacaraku akan membantumu menyusun skenario. Katakan saja itu semua hasil investasi atau warisan. Tapi jika kau berniat menyeret namaku..." Ia melangkah maju, wajahnya hanya terpaut beberapa inci dariku. Aroma parfum *oud* yang mahal sekarang tercium busuk bagiku. "Ingatlah, aku punya kekuatan untuk membuatmu menghilang bahkan sebelum kau sempat ma**k ke ruang sidang."
Ia kemudian mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari saku jasnya dan melemparkannya ke sofa. "Itu untuk biaya hidupmu selama proses penyelidikan. Jangan hubungi aku lagi. Kita selesai."
Tanpa kata lagi, Adrian berjalan menuju pintu keluar. Suara langkah kakinya menjauh, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam vila itu. Aku berdiri terpaku, menatap amplop cokelat itu dengan rasa jijik yang luar biasa.
Tanganku merogoh ke dalam saku paritku, menyentuh permukaan dingin ponselku. Di dalamnya, tersimpan sebuah file tersembunyi—rekaman berdurasi empat puluh menit yang kuambil secara sembunyi-sembunyi di tempat tidur suatu malam, saat ia dalam keadaan mabuk dan meracau tentang "proyek besar" dan "persentase jatah" untuk para petinggi part**. Saat itu aku menyimpannya hanya sebagai kenang-kenangan nakal, bukti bahwa pria paling berkuasa di negeri ini bertekuk lutut di bawahku.
Aku tidak pernah menyangka rekaman itu akan menjadi satu-satunya peluru yang tersisa di senjataku.
Aku berjalan menuju jendela, menatap mobil hitam mewah Adrian yang mulai bergerak meninggalkan halaman vila. Air mataku akhirnya jatuh, tapi bukan karena sedih. Itu adalah air mata amarah yang membakar.
Dia pikir aku adalah pion yang bisa dibuang begitu saja setelah permainan usai. Dia pikir aku c**up bodoh untuk mati sendirian di balik jeruji besi.
Jariku gemetar saat membuka kunci layar ponsel, menatap ikon folder tersembunyi itu. Satu tekanan jari, dan dunia yang dibangun Adrian dengan penuh kelicikan bisa runtuh seketika. Namun, aku juga tahu, begitu video ini tersebar, wajahku akan terpampang di setiap layar gawai di seluruh negeri sebagai wanita simpanan sang koruptor. Martabatku akan hancur lebur, dan aku tidak akan pernah bisa kembali ke kehidupanku yang dulu.
Pilihannya hanya dua: menjadi martir yang diam dan membusuk di penjara, atau menjadi i**** yang membakar segalanya demi kesempatan untuk tetap bernapas.
Aku menarik napas panjang, menghapus air mata dengan punggung tanganku, dan menatap pantulan diriku di kaca jendela. Gadis naif itu sudah mati malam ini. Yang tersisa hanyalah Maya yang baru—seorang penyintas yang tidak lagi butuh dicint**, tapi butuh menang.
Di kejauhan, guntur menggelegar, membelah langit malam yang pekat. Aku mulai mengetik sebuah pesan singkat kepada seseorang yang selama ini diam-diam mengawasiku—seorang jurnalis investigasi yang pernah mencoba mewawancaraiku.
*“Aku punya sesuatu yang akan membuat karier Adrian berakhir besok pagi. Apakah kau tertarik?”*
Jariku tertahan di atas tombol kirim. Ini adalah titik tanpa jalan kembali. Begitu pesan ini terkirim, perang terbuka dimulai. Dan aku harus siap jika diriku sendiri ikut terbakar dalam api yang kusulut.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!