Jantungku berdegup kencang, seirama dengan detak jarum jam dinding di kamar kos sempit yang kini menjadi tempat persembunyianku. Aroma lembap dan debu yang menyesakkan sangat kontras dengan wangi lilin aromaterapi vanila di apartemen mewah yang dulu kutinggali bersama Adrian. Di tanganku, sebuah ponsel prabayar murah terasa panas. Jemariku gemetar saat menatap layar yang menampilkan sebuah nama: B**mantyo Kusuma.
Dua tahun lalu, Adrian menyebut pria ini sebagai "kecoa pengganggu" yang mencoba menghancurkan karier politiknya dengan isu suap proyek infrastruktur. Saat itu, aku ikut tertawa di pelukan Adrian, menganggap B**mantyo hanyalah jurnalis haus sensasi yang iri pada kesuksesan kekasihku. Kini, pria yang paling dibenci Adrian adalah satu-satunya pelampung yang bisa menyelamatkanku dari tenggelam.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadaku. Mengenakan hoodie hitam kebesaran dan kacamata frame tebal, aku bercermin sejenak. Wajah di pantulan kaca itu tampak pucat, matanya cekung, jauh dari citra Maya Safira yang selalu tampil elegan di unggahan Instagram-nya. Aku bukan lagi mahasiswi primadona; aku hanyalah seekor kelinci yang sedang dikejar pemburu.
Langkahku terasa berat saat menyusuri gang sempit di daerah Cikini. Aku memilih kedai kopi tua yang riuh oleh suara mesin penggiling dan obrolan mahasiswa, tempat di mana kehadiran seorang wanita yang menyembunyikan wajahnya tidak akan terlalu mencolok. Di sudut paling belakang, dekat pintu keluar darurat, seorang pria dengan kemeja flanel kumal dan rambut acak-adakan sudah duduk menungguku. Di depannya ada asbak penuh puntung rokok dan sebuah buku catatan kecil yang sampulnya sudah mengelupas.
Aku duduk di hadapannya tanpa suara. B**mantyo tidak langsung menatapku. Ia menyesap kopi hitamnya yang tampak sudah dingin, lalu perlahan mengangkat pandangan. Matanya tajam, seperti elang yang baru saja menemukan mangsa yang menarik.
"Maya Safira," suaranya serak, penuh dengan nada sinis yang tidak berusaha ia sembunyikan. "Aku tidak pernah menyangka simpanan emas sang politikus muda akan mengirimiku pesan teks di jam tiga pagi."
Aku mengepalkan tangan di bawah meja, kuku-kukuku menekan telapak tangan untuk mengalihkan rasa takut menjadi keberanian. "Aku bukan simpanan emas lagi, Mas B**m. Aku adalah tumbal yang sedang disiapkan untuk disembelih."
B**mantyo terkekeh, suara yang terdengar seperti gesekan amplas. "Kalimat yang puitis. Tapi aku tidak butuh puisi. Aku butuh data. Kamu tahu berapa banyak orang yang datang padaku membawa cerita sedih tentang Adrian, hanya untuk kemudian menghilang karena sudah disumpal uang?"
"Aku tidak butuh uangnya," desisku, condong ke depan sehingga aroma kopi pahit di antara kami terasa lebih menyengat. "Aku punya semua dokumen aset yang dia atas namakan aku. Apartemen di Singapura, tiga mobil mewah, dan aliran dana dari kontraktor pelat merah yang ma**k ke rekening pribadiku tanpa pernah kusentuh. KPK sudah mulai mengendus, dan Adrian... dia sudah menyiapkan pengacara untuk memastikan akulah yang akan memakai rompi oranye itu, bukan dia."
Ekspresi B**mantyo berubah. Rasa sinis di matanya memudar, berganti dengan rasa ingin tahu yang profesional. Ia menutup buku catatannya dan mencondongkan tubuh ke arahku. "Kenapa aku? Kamu bisa pergi ke pengacara papan atas."
"Pengacara bisa dibeli, Mas. Adrian punya koneksi yang bisa menjangkau firma hukum manapun di Jakarta," kataku dengan suara bergetar namun tegas. "Tapi kamu... kamu punya dendam pribadi padanya. Kamu kehilangan pekerjaan di media lamamu karena investigasi ka**s Adrian yang dibungkam. Kamu ingin menghancurkannya sama besarnya dengan keinginanku untuk bertahan hidup."
B**mantyo terdiam c**up lama. Ia mengamati setiap inci wajahku, mungkin mencari tanda-tanda kebohongan atau jebakan. "Apa yang kamu punya selain aset-aset itu? Jaksa butuh sesuatu yang lebih personal, sesuatu yang menghubungkan Adrian secara langsung dengan perintah pencucian uang itu. Sesuatu yang membuktikan bahwa kamu hanya pion."
Aku menelan ludah. Memoriku melayang pada flashdisk yang kusembunyikan di dalam lipatan baju di tas ranselku. Video-video itu. Percakapan intim yang sesekali diselingi instruksi Adrian tentang bagaimana aku harus menandatangani dokumen-dokumen kosong. Dan tentu saja, rekaman panas yang seharusnya menjadi bukti cinta, kini menjadi senjata pemusnah massal.
"Aku punya lebih dari sekadar angka di atas kertas," bisikku. "Aku punya suaranya. Aku punya wajahnya saat dia merasa paling aman dan paling sombong. Aku punya kunci untuk meruntuhkan citra 'pria keluarga yang bersih' yang dia bangun dengan susah payah."
B**mantyo baru saja hendak membuka mulutnya ketika tiba-tiba ia melirik ke arah pintu ma**k kedai. Tubuhnya menegang. "Jangan menoleh," perintahnya dengan suara rendah dan tajam.
Aku membeku. Bulu kudukku meremang. "Ada apa?"
"Pria dengan jaket kulit hitam di dekat konter pemesanan. Dia tidak memesan kopi sejak tadi, dan dia terus memperhatikan pantulanmu di cermin besar itu," kata B**mantyo sambil berpura-pura menulis sesuatu di bukunya. "Kamu diikuti, Maya."
Rasa dingin merayap dari punggung hingga ke ujung kakiku. Adrian. Apakah orang-orangnya sudah menemukanku secepat ini? Atau ini adalah orang-orang dari pengacaranya yang ingin memastikan aku tidak bicara pada siapapun?
"Lewat pintu belakang. Sekarang," instruksi B**mantyo tanpa menatapku. Ia meletakkan selembar uang seratus ribu di meja. "Jangan lari, berjalanlah dengan tenang. Temui aku di parkiran stasiun dalam sepuluh menit. Kalau kamu tidak muncul, aku akan menganggap kamu sudah tertangkap."
Aku berdiri dengan kaki yang terasa lemas seperti jeli. Aku berjalan melewati deretan meja, mencoba mengatur napas agar tidak terlihat seperti orang yang sedang panik. Saat jemariku menyentuh gagang pintu keluar darurat yang dingin, aku memberanikan diri untuk melirik sekilas melalui sudut mataku.
Pria berjaket kulit itu sudah bergerak. Ia tidak lagi melihat cermin, melainkan berjalan cepat menembus kerumunan, matanya terkunci tepat ke arahku. Di tangannya, ia memegang ponsel seolah sedang memberikan laporan langsung.
Aku mendorong pintu besi itu dan disambut oleh udara panas gang sempit yang bau sampah. Aku berlari sekuat tenaga, mengabaikan rasa perih di paru-paruku. Namun, saat aku mencapai ujung gang, sebuah mobil sedan hitam dengan kaca gelap mendadak berhenti tepat di depanku, menghalangi jalan.
Pintu belakang terbuka perlahan, dan seorang pria dengan setelan jas rapi yang sangat kukenaliβasisten pribadi Adrianβmenyilangkan kakinya di dalam sana.
"Nona Maya," sapanya dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Bapak ingin makan malam dengan Anda. Jangan membuat ini menjadi sulit."
Aku mundur selangkah, namun di belakangku, langkah sepatu bot pria berjaket kulit tadi sudah terdengar mendekat. Aku terperangkap di tengah-tengah antara pengkhianatan yang kukenal dan kebebasan yang belum pasti. Terjepit di antara mulut serigala dan jurang yang menganga.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!