Cahaya jingga yang memudar di ufuk Jakarta biasanya menjadi pemandangan yang Maya kagumi dari balkon penthouse lant** tiga puluh ini. Dulu, ia akan menyesap wine mahal sambil menunggu deru mobil Adrian mema**ki pelataran parkir bawah. Namun sekarang, warna langit itu tampak seperti memar yang membusuk. Penthouse ini bukan lagi simbol status; ini adalah peti mati berlapis marmer.
Maya menekan sakelar lampu di ruang tengah, namun nihil. Gelap tetap merajai. Aliran listrik untuk perangkat elektronik utama tampaknya telah diputus secara sengit dari pusat, kecuali untuk sistem keamanan dan pendingin ruangan yang berderu halus—suara yang kini terdengar seperti detak jantung monster yang mengawasinya.
Ia berjalan ke arah meja konsol, meraih gagang telepon kabel. Hening. Nada sapa yang biasanya terdengar datar kini benar-benar mati. Maya melempar gagang telepon itu kembali ke tempatnya dengan geram. Adrian tidak hanya memutus aksesnya ke dunia luar; pria itu sedang menghapus keberadaannya pelan-pelan.
"Br******," bisik Maya. Suaranya serak, memantul di dinding ruangan yang hampa.
Ia melangkah menuju jendela besar yang menghadap langsung ke jalan protokol. Di bawah sana, lampu-lampu kota mulai menyala, berkelap-kelip seperti janji palsu. Maya melihat sebuah sedan hitam terparkir tepat di seberang gerbang lobi gedung. Ia tahu siapa di dalamnya. Orang-orang suruhan Adrian, atau mungkin intelijen yang sedang menunggu momen tepat untuk menyeretnya ke ruang interogasi KPK.
Maya memeluk tubuhnya sendiri. Kemeja sutra yang ia kenakan terasa dingin di kulit. Ia teringat percakapan terakhirnya dengan Adrian tiga hari lalu. Pria itu mengelus pipinya dengan ibu jari yang hangat, tatapannya penuh duka yang dibuat-buat. *“Ini demi keselamatanmu, Sayang. Diamlah di sini, jangan hubungi siapa pun. Pengacaraku yang akan mengurus semuanya,”* kata Adrian saat itu.
Kini Maya sadar, 'mengurus semuanya' berarti memastikan Maya tetap terkunci sampai semua aset gelap atas nama Maya terdeteksi, menjadikannya tameng hidup bagi skandal korupsi proyek infrastruktur yang tengah meledak di berita.
Maya berbalik, matanya menyisir setiap sudut ruangan. Ia butuh celah. Ia tidak bisa hanya duduk menunggu sampai borgol melingkar di pergelangan tangannya. Pikirannya berputar cepat, memilah-milah memori tentang di mana ia menyembunyikan "a**ransi" nyawanya.
Ia melangkah ke kamar tidur utama, menuju lemari pakaian *walk-in* yang penuh dengan tas-tas desainer senilai miliaran rupiah. Dulu, tas-tas ini adalah piala kemenangannya. Sekarang, mereka tak lebih dari tumpukan kulit binatang yang mati. Maya berlutut di pojok paling belakang, menggeser deretan kotak sepatu berbahan beludru.
Tangannya meraba bagian bawah rak kayu yang tampak solid. Dengan kuku yang dicat merah marun—yang kini mulai mengelupas—ia mencongkel sebuah celah kecil di sambungan kayu. Detak jantungnya berpacu saat jemarinya menyentuh benda kecil keras yang dibungkus plastik klip.
Sebuah kartu memori dan sebuah ponsel lama yang layarnya sudah retak.
Maya duduk bersila di lant**, menyalakan ponsel itu dengan tangan gemetar. Logo merek ponsel lama muncul, cahayanya yang redup terasa begitu menyilaukan di kegelapan kamar. Begitu layar utama terbuka, ia segera menuju folder tersembunyi yang dilindungi kata sandi.
Jemarinya mengetikkan tanggal lahir Adrian—ironi yang pahit.
Layar itu menampilkan sebuah file video berdurasi sepuluh menit. Maya menekan tombol *play*. Gambar yang muncul goyang dan remang-remang, diambil dari sudut rak buku di kamar hotel di Singapura setahun lalu. Di sana, di atas ranjang yang berantakan, sosok Adrian terlihat jelas. Bukan Adrian sang politikus bersih yang diagung-agungkan di televisi, melainkan Adrian yang tengah meracau mabuk setelah memenangkan tender besar, membual tentang persentase "uang lelah" yang ia alirkan ke rekening-rekening luar negeri atas nama Maya.
*"Kamu adalah b**nkas terbaikku, Maya,"* suara Adrian di video itu terdengar parau dan penuh kemenangan. *"Siapa yang akan curiga pada mahasiswi cantik sepertimu? Kamu adalah masa depanku."*
Maya mematikan video itu. Air mata panas mulai mengalir di pipinya, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang membakar. Ia adalah b**nkas, bukan kekasih. Ia adalah tempat pembuangan sampah bagi dosa-dosa Adrian.
Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari pintu depan penthouse. Maya terlonjak, nyaris menjatuhkan ponselnya.
*Tok! Tok! Tok!*
"Nona Maya? Ini Handoko, tim hukum Pak Adrian," suara berat dari balik pintu terdengar mengancam meski nadanya sopan. "Kami tahu Anda di dalam. Kami perlu mengambil beberapa dokumen tambahan untuk keperluan audit. Tolong buka pintunya, atau kami terpaksa menggunakan kunci cadangan dari manajemen gedung."
Maya membeku. Audit? Itu bahasa halus untuk pembersihan bukti. Mereka datang untuk melenyapkan apa pun yang bisa menyeret Adrian lebih dalam, terma**k dirinya jika perlu.
Maya bangkit berdiri, menyeka air matanya dengan kasar. Ia menatap ponsel di tangannya, lalu menatap jendela balkon yang gelap. Ia tidak punya akses internet, tidak ada sinyal seluler di dalam ruangan yang tampaknya sudah dipasang *jammer* ini. Namun, ia ingat satu hal. Gedung ini memiliki sistem *smart home* yang terintegrasi. Jika ia bisa meretas ma**k ke panel kontrol di dapur, mungkin—hanya mungkin—ia bisa memicu alarm kebakaran gedung yang akan memaksa semua pintu terbuka secara otomatis dan memanggil bantuan pihak keamanan luar yang bukan orang-orang Adrian.
"Nona Maya? Saya hitung sampai tiga," suara di luar kembali terdengar, diikuti bunyi gemerincing kunci yang dima**kkan ke lubang pintu.
Maya menyelipkan kartu memori itu ke dalam lipatan kecil di balik b**-nya, tempat yang paling tidak mungkin digeledah secara kasar di tempat umum. Ia menggenggam ponsel retaknya erat-erat, lalu berlari menuju dapur dengan langkah tanpa suara.
Pintu depan berderit terbuka. Langkah sepatu pantofel yang berat menggema di atas lant** marmer ruang tamu.
"Cari dia ke semua ruangan," perintah Handoko dengan nada dingin yang tidak pernah Maya dengar sebelumnya. "Pastikan dia tidak membawa apa pun saat kita membawanya keluar dari sini."
Maya bersembunyi di balik *kitchen island*, dadanya naik turun dengan liar. Ia melihat panel kontrol digital di dinding dapur yang masih menyala redup dengan daya baterai darurat. Hanya ada satu kesempatan. Jika ia gagal memicu alarm ini sekarang, ia akan menghilang sebelum fajar menyapa Jakarta, dan video itu tidak akan pernah melihat cahaya siang.
Tangannya terulur menuju panel, jemarinya siap menekan tombol darurat, tepat saat sebuah bayangan besar muncul di ambang pintu dapur.
"Sedang apa di situ, Maya?" tanya Handoko, sebuah seringai tipis muncul di wajahnya yang kaku. Di tangannya, sebuah sapu tangan putih yang berbau menyengat sudah siap terbentang.
Maya menatap pria itu, lalu menatap tombol merah di panel. Senyum dingin muncul di wajah Maya yang pucat. "Aku sedang merancang kehancuran bosmu," bisiknya, tepat sebelum jemarinya menekan tombol itu dengan seluruh sisa tenaganya.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!