Cahaya lampu meja yang remang-remang memantul di permukaan kacamata Reza, menciptakan kilatan putih yang menyembunyikan tatapannya. Di hadapanku, tumpukan map cokelat dan kertas-kertas fotokopi yang tepiannya sudah agak lusuh berserakan seperti reruntuhan hidupku yang hancur. Bau apak kertas lama bercampur dengan aroma kopi hitam yang sudah dingin di sudut meja, menciptakan suasana mencekam di apartemen sempit ini.
“Kau yakin ingin melihat ini, Maya?” suara Reza rendah, hampir seperti bisikan. Jurnalis investigasi itu menatapku dengan sorot iba yang sangat kubenci. Aku tidak butuh dikasihani; aku butuh senjata.
Aku menarik napas panjang, membiarkan oksigen yang terasa berat memenuhi paru-paruku. Tanganku yang sedikit gemetar meraih lembaran teratas. “Aku sudah ma**k terlalu dalam, Rez. Berhenti sekarang hanya akan membuatku mati konyol di balik jeruji besi.”
Aku mulai membolak-balik berkas itu. Lembar demi lembar menampilkan grafik aliran dana yang rumit, menyerupai jaring laba-laba yang menjerat namaku di tengahnya. Ada salinan KTP-ku, tanda tanganku pada dokumen pembukaan rekening bank yang bahkan tidak kuingat pernah kudatangi, dan akta pendirian perusahaan cangkang bernama PT Sinar Abadi Raya. Di sana, aku terdaftar sebagai Komisaris Utama.
“Komisaris Utama?” Aku tertawa getir, sebuah suara parau yang terdengar asing di telingaku sendiri. “Adrian bilang itu hanya investasi masa depan untuk kami. Dia bilang itu kejutan agar aku punya kemandirian finansial.”
“Investasi yang digunakan untuk menampung *kickback* dari proyek pembangunan bendungan di Jawa Barat,” timpal Reza sembari menunjuk sebuah angka dengan pulpennya. “Lihat tanggalnya. Ini terjadi tepat seminggu setelah kau merayakan ulang tahun di Maldives dengan jet pribadi yang dia sewa.”
Mataku memanas. Kilasan ingatan saat Adrian mengecup keningku di atas pasir putih, membisikkan janji-janji manis tentang masa depan, kini terasa seperti sayatan pisau. Setiap kemewahan yang kunikmati—tas Hermes yang kini teronggok di sudut ruangan, jam tangan bertahtakan berlian, hingga apartemen *penthouse* tempat kami biasa bertemu—ternyata memiliki label harga berupa pengkhianatan.
Aku bukan ratunya. Aku adalah tamengnya.
Namun, saat aku membalik halaman berikutnya, jemariku membeku. Ada sebuah bagan struktur yang lebih besar. Nama Adrian berada di sebuah kotak kecil di bagian tengah bawah, namun di atasnya, ada garis-garis yang menghubungkan namanya ke kotak-kotak lain yang lebih tinggi. Beberapa nama di sana membuat jantungku berdegup kencang hingga terasa sakit.
“Tunggu,” gumamku, mendekatkan wajah ke kertas itu. “Kenapa ada logo Yayasan Dharma Nusantara di sini? Bukankah itu yayasan milik…?”
“Milik Bapak Hendra Soerardjo,” Reza menyelesaikan kalimatku. Suaranya kini lebih tajam, penuh kewaspadaan. “Mantan Menteri, sekaligus Ketua Dewan Pembina part** tempat Adrian bernaung. Dia adalah mentor politik Adrian.”
Aku menelan ludah yang terasa menyumbat di tenggorokan. Fokusku tertuju pada catatan kecil di pinggir dokumen—sebuah memo tulisan tangan yang difotokopi. Tulisan itu bukan milik Adrian. Huruf-hurufnya tegak dan kaku, sangat berwibawa.
*‘Pastikan pion ini tetap bersih sampai transaksi terakhir selesai. Setelah itu, putuskan talinya.’*
Darahku serasa berhenti mengalir. Pion. Kata itu terpampang nyata, mengejek kenaifanku selama ini. Aku bukan sekadar simpanan yang akan dikorbankan jika keadaan mendesak. Sejak awal, keberadaanku adalah bagian dari desain besar yang melibatkan orang-orang paling berkuasa di negeri ini. Adrian hanyalah perantara, seorang manajer yang bertugas mengelola aset kotor atas namaku agar tangan para raksasa itu tetap suci.
“Rez, ini bukan cuma soal korupsi Adrian, kan?” tanyaku dengan suara yang bergetar hebat.
Reza mengangguk perlahan, wajahnya pucat di bawah lampu meja yang berkedip. “Adrian terlalu kecil untuk memutar uang sebanyak ini sendirian, Maya. Dia hanya pintu ma**k. Skandal ini… ini bisa meruntuhkan koalisi pemerintah jika semua ini terungkap.”
Aku menyandarkan punggung ke kursi yang keras, menatap langit-langit apartemen yang mengelupas. Aku datang ke sini berharap menemukan celah untuk menekan Adrian agar dia mau melindungiku dari KPK. Tapi sekarang, aku sadar bahwa aku baru saja membuka kotak pandora yang jauh lebih mengerikan.
Jika aku menghancurkan Adrian, aku akan menarik perhatian para 'raksasa' yang berada di atasnya. Mereka tidak akan sekadar memenjarakanku. Mereka akan melenyapkanku seolah aku tidak pernah ada.
Tanganku meraba tas kecil yang kubawa, menyentuh permukaan keras *flashdisk* yang berisi rekaman video pribadiku dengan Adrian. Awalnya, kupikir itu adalah kartu as-ku. Sebuah video skandal yang bisa menghancurkan karier cemerlang sang politikus muda. Tapi kini, rekaman itu terasa seperti mainan anak-anak dibandingkan dengan tumpukan kertas di depanku.
“Maya, kau tidak boleh memegang dokumen ini sendirian. Ini terlalu berbahaya,” Reza mencoba meraih berkas-berkas itu, tapi aku segera menahannya dengan tangan yang tiba-tiba terasa kuat karena dorongan adrenalin.
“Tidak,” kataku tegas. Mataku berkilat, kemarahan mulai menggantikan rasa takut. “Jika aku akan tenggelam, aku tidak akan tenggelam sendirian. Adrian pikir dia bisa menggunakanku sebagai tempat sampah untuk dosa-dosanya.”
Aku menatap bagan itu sekali lagi, pada nama Hendra Soerardjo yang berada di puncak hirarki. Sebuah rencana g*** mulai terbentuk di kepalaku. Jika aku hanya menyerang Adrian, aku akan segera dihancurkan oleh mereka yang melindunginya. Tapi jika aku memegang sesuatu yang lebih besar… sesuatu yang melibatkan orang di atasnya…
“Reza, apakah kau punya akses ke manifes perjalanan dinas Hendra Soerardjo tahun lalu?” tanyaku dengan nada yang dingin dan penuh perhitungan.
Reza mengernyitkan dahi. “Mungkin. Kenapa?”
Aku teringat sebuah malam di sebuah vila tersembunyi di Puncak, enam bulan lalu. Adrian membawaku ke sana untuk pertemuan ‘bisnis’. Dia menyuruhku menunggu di kamar, tapi aku sempat mengintip dari celah pintu saat seorang pria tua datang. Saat itu aku tidak mengenali wajahnya karena pencahayaan yang minim. Tapi sekarang, deskripsi fisik pria itu mulai terhubung dengan foto-foto di berkas ini.
“Karena aku rasa,” ucapku pelan, mataku terpaku pada tanggal di salah satu kwitansi hotel mewah di Singapura atas namaku, “Adrian bukan satu-satunya orang yang menggunakan namaku untuk menutupi jejak mereka. Dan jika aku benar, aku punya sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar video p**** untuk menjamin keselamatanku.”
Tepat saat itu, ponselku yang tergeletak di meja bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama yang membuat perutku mual.
*Adrian.*
Aku dan Reza saling berpandangan. Getaran ponsel itu terasa seperti detak bom waktu di tengah kesunyian ruangan. Aku tahu, jika aku mengangkatnya, aku harus mulai memainkan peran paling berbahaya dalam hidupku. Aku bukan lagi kekasih yang patuh; aku adalah ancaman yang tengah menghitung langkah untuk menjatuhkan seluruh istana mereka.
Jariku gemetar di atas layar hijau, sesaat sebelum aku menggesernya. Namun, sebuah pesan teks ma**k mendahului pangg***nnya, muncul di baris notifikasi.
*‘Maya, KPK sudah mengeluarkan surat pencekalan atas namamu. Jangan pergi ke mana pun. Orang-orangku sedang menuju apartemenmu sekarang untuk menjemputmu.’*
Aku terpaku. Menjemputku? Atau melenyapkanku sebelum aku sempat bicara?
Keringat dingin mengucur di pelipisku saat aku mendengar suara derit ban mobil yang berhenti mendadak di depan gedung apartemen Reza. Kami tidak punya banyak waktu. Kesalahan kecil saja, dan aku hanya akan menjadi statistik dalam kolom berita kriminal besok pagi.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!