Lant** marmer Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat terasa sedingin es di bawah sepatu hak tinggi yang kupaksakan untuk tetap melangkah tegak. Suara jepretan kamera dari puluhan jurnalis yang berjejer di balik garis polisi terdengar seperti berondongan peluru. Kilatan lampu *flash* yang memb*** buta membuat mataku perih, namun aku dilarang menunduk. Pak Baskoro, pengacaraku, terus membisikkan instruksi agar aku tetap tenang dan menunjukkan wajah yang tabah, bukan wajah seorang kriminal.
"Pe***** negara!"
"Makan uang rakyat enak, ya, Maya?"
"Dasar simpanan tak tahu diri!"
Teriakan-teriakan itu menghantam telingaku, lebih tajam dari belati mana pun. Aku bisa merasakan keringat dingin merembes di balik blus putih yang kupakai. Tanganku gemetar hebat, memaksa aku untuk meremas tas tangan di pangkuan saat aku akhirnya berhasil duduk di kursi terdakwa. Ruangan itu penuh sesak. Udara terasa tipis, pengap oleh aroma parfum mahal dan bau keringat kecemasan.
Pintu besar di sisi lain ruangan terbuka. Suasana yang tadinya bising oleh caci maki seketika berubah menjadi gumaman simpati yang tertahan. Adrian ma**k.
Dia tidak mengenakan rompi oranye sepertiku. Dia datang sebagai saksi mahkota, namun penampilannya lebih mirip seorang martir yang baru saja turun dari kayu salib. Kemeja putih bersih tanpa dasi, lengan yang digulung sedikit hingga menonjolkan kesan pria yang bekerja keras, dan wajah yang sengaja dibuat kuyu namun tetap karismatik. Dia tidak melirikku sedikit pun. Langkahnya mantap, penuh wibawa yang telah dipoles bertahun-tahun di depan kamera politik.
"Lihat dia," bisik Pak Baskoro pelan. "Dia sedang memenangkan hati publik sebelum hakim mengetuk palu."
Sidang dibuka dengan ketukan palu yang menggema, memecah kesunyian yang mencekam. Jaksa Penuntut Umum mulai membacakan dakwaan. Setiap kata yang keluar—pencucian uang, suap proyek infrastruktur, pengalihan aset—semuanya dihubungkan dengan namaku. Rekening bank atas namaku, apartemen atas namaku, mobil mewah atas namaku. Di atas kertas, aku adalah dalang tunggal, pusaran di mana semua uang haram itu bermuara.
Saat tiba giliran Adrian memberikan pernyataan awal sebagai saksi, dia berdiri dengan bahu yang sedikit merosot, seolah memikul beban dunia.
"Majelis Hakim yang mulia," suara Adrian terdengar berat, serak oleh emosi yang sangat meyakinkan. "Saya berdiri di sini dengan hati yang hancur. Bukan karena jabatan saya yang terancam, tapi karena pengkhianatan dari seseorang yang sangat saya percayai, seseorang yang saya cint** dengan tulus."
Dia sempat terdiam, menarik napas panjang yang terdengar lewat mikrofon. Aku menatapnya, gigiku gemertak. Aktingnya sempurna.
"Saya mengakui keteledoran saya. Saya terlalu sibuk melayani rakyat hingga saya tidak menyadari bahwa kedekatan saya dengan Saudari Maya telah dimanfaatkan. Saya memberikan akses, saya memberikan kepercayaan, dan ternyata... semua itu digunakan untuk membangun kerajaan kecil di atas nama saya tanpa sepengetahuan saya. Saya adalah korban dari ambisi buta seorang wanita muda yang saya kira mencint** saya apa adanya."
Riuh rendah suara penonton di galeri sidang pecah. Hakim harus mengetuk palu berkali-kali untuk menenangkan massa. Aku melihat beberapa ibu-ibu di barisan depan menyeka air mata, menatap Adrian dengan iba dan menatapku dengan kebencian yang murni.
Adrian menoleh sedikit, hanya sekejap, memberikan tatapan yang begitu dingin hingga mampu membekukan darahku. Tidak ada jejak pria yang dulu memelukku di bawah remang lampu apartemen sambil membisikkan janji-janji manis. Yang ada hanyalah predator yang sedang menguliti mangsanya untuk menyelamatkan kulitnya sendiri.
"Saudara Saksi," tanya Jaksa, "Apakah Anda menyatakan bahwa semua aliran dana ke rekening Saudari Maya adalah murni inisiatifnya?"
"Sepanjang yang saya tahu, ya," jawab Adrian tegas. "Dia sering meminta saya menandatangani dokumen yang dia katakan sebagai administrasi yayasan sosial atau investasi masa depan. Saya percaya padanya. Saya tidak menyangka itu adalah dokumen pengalihan aset hasil korupsi yang sedang diselidiki ini. Saya naif, dan saya memohon maaf kepada seluruh rakyat I****esia atas kelalaian saya dalam memilih orang terdekat."
Aku merasakan dorongan kuat untuk berdiri dan berteriak, untuk mencakar wajah tampan yang penuh kebohongan itu. Namun, tangan Pak Baskoro menahan lenganku dengan kuat, mencengkeramnya sebagai peringatan.
"Sabar, Maya," bisiknya tajam. "Jangan biarkan mereka melihatmu kehilangan kendali. Itu yang dia inginkan."
Aku mengatur napas, dadaku naik turun dengan cepat. Mataku kini beralih pada tas kerjaku yang diletakkan di bawah meja pengacara. Di dalamnya, tersimpan sebuah *flashdisk* kecil yang tersembunyi di dalam lipatan kain rahasia. Di sana tersimpan rekaman yang tidak pernah Adrian duga masih ada—sebuah dokumentasi intim yang tidak hanya berisi gairah, tapi juga percakapan jelas di mana Adrian menginstruksikan aku untuk menyembunyikan uang 'setoran' dari para kontraktor.
Adrian masih terus berbicara, menyusun narasi tentang bagaimana dia adalah pahlawan yang dikhianati, seorang politikus bersih yang menjadi korban tipu daya wanita penggoda. Publik menelannya mentah-mentah. Di luar sana, di media sosial, namaku pasti sudah menjadi sampah.
Namun, saat Adrian duduk kembali dan melemparkan senyum tipis—hampir tak terlihat—kepadaku, sebuah keberanian baru muncul dari dasar keputusasaanku. Dia pikir dia sudah menang. Dia pikir pion ini tidak punya cara untuk memukul balik raja.
Aku menatap lurus ke arah matanya yang kelam, tidak lagi dengan ketakutan, melainkan dengan api yang mulai menyala. Jika aku harus ma**k ke dalam neraka penjara, aku tidak akan membiarkan dia tetap duduk di singgasananya yang berkilau.
"Maya, kau baik-baik saja?" tanya Pak Baskoro, menyadari perubahan ekspresiku.
Aku tidak menjawabnya dengan kata-kata. Aku hanya meraih tas tangan itu, jemariku menyentuh permukaan *flashdisk* yang terasa hangat di bawah ujung kuku. Aku tahu, setelah aku mengeluarkan benda ini, hidupku tidak akan pernah sama lagi. Martabatku akan hancur berkeping-keping di depan seluruh negeri, tapi aku akan memastikan Adrian terbakar bersamaku.
Sidang diskors untuk istirahat makan siang. Saat Adrian berjalan melewatiku menuju pintu keluar khusus pejabat, dia berbisik sangat pelan, hampir seperti desiran angin, "Menyerahlah, Sayang. Jangan buat ini lebih sulit untuk dirimu sendiri."
Aku menatap punggungnya yang menjauh dengan rasa mual yang meluap. Di saat itulah, aku menyadari satu hal: Adrian tidak hanya ingin memenjarakanku secara hukum, dia ingin menghapus keberadaanku dari sejarahnya. Dia mengira aku adalah kartu yang bisa ia buang kapan saja.
Dia lupa, bahwa seorang wanita yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan adalah musuh yang paling berbahaya. Saat sidang dilanjutkan nanti, aku tidak akan lagi menjadi pendengar yang pasif. Aku akan menjadi badai yang menghancurkan kariernya.
Tanganku merogoh ponsel di dalam tas, mengetik sebuah pesan singkat kepada seorang jurnalis investigasi yang sejak lama mengincar ka**s ini.
*“Aku punya bukti asli. Temui aku di toilet lant** dua, sekarang.”*
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!