Cahaya biru dari layar laptop menjadi satu-satunya sumber penerangan di kamar apartemen yang kini terasa lebih mirip sel penjara daripada tempat perlindungan. Maya Safira duduk meringkuk di atas kursi kerja, jemarinya yang gemetar tertahan beberapa sentimeter di atas *trackpad*. Di hadapannya, sebuah folder tersembunyi terbuka, menampilkan ikon file video berdurasi sepuluh menit dengan tajuk yang netral, namun isinya mampu meruntuhkan pilar-pilar kekuasaan di gedung parlemen.
Tenggorokannya terasa kering, seolah-olah ia baru saja menelan segenggam pasir. Ia meraih gelas air di sampingnya, hanya untuk menyadari bahwa tangannya bergetar begitu hebat hingga air di dalamnya beriak kecil.
"Hanya satu klik, Maya," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiriβserak dan penuh ketakutan. "Hanya satu klik, dan kau bebas."
Namun, benarkah ia akan bebas?
Bayangan wajah Ibunya tiba-tiba melintas. Ibu yang selalu membanggakan Maya di depan tetangga desa di pelosok Jawa Tengah. Ibu yang sering bercerita betapa ia rajin mengaji di surau saat kecil, dan kini sukses menjadi mahasiswi berprestasi di Jakarta. Jika video ini beredar, video yang menampilkan dirinya dalam posisi paling rentan dan intim bersama Adrian, maka kebanggaan itu akan hancur menjadi debu yang paling kotor. Di desa, berita seperti ini tidak akan mati dalam satu malam. Ia akan menjadi legenda kelam yang diturunkan dari mulut ke mulut, meludahi nama baik ayahnya yang sudah almarhum.
Pikirannya berkecamuk. Ia bisa membayangkan judul berita esok hari: *Skandal Video Panas Simpanan Sang Politikus Muda.* Foto wajahnya akan terpampang di mana-mana, disandingkan dengan wajah Adrian yang klimis dan berwibawa. Dunia akan mengadilinya lebih kejam daripada hakim mana pun. Ia bukan lagi korban korupsi; ia akan dicap sebagai wanita murahan yang menghalalkan segala cara demi kemewahan.
*Tapi Adrian tidak memberiku pilihan,* batinnya tajam. Kemarahan mulai merayap, mencoba memadamkan rasa malunya.
Kemarin, pengacara Adrian mendatanginya dengan senyum palsu yang memuakkan, menyodorkan dokumen-dokumen yang isinya adalah pengakuan bahwa semua aliran dana korupsi itu adalah inisiatif Maya sendiri. Adrian ingin ia membusuk di penjara sendirian, sementara pria itu melenggang menuju kursi menteri yang ia incar. Adrian telah mengubah cinta yang ia puja menjadi jerat leher yang mencekik.
Maya menatap layar lagi. Kursornya bergerak pelan menuju tombol 'Upload' pada draf email yang sudah ia alamatkan ke tiga redaksi media massa terbesar di negeri ini.
"Maafkan Maya, Bu," gumamnya, air mata mulai menggenang di sudut matanya. Ia memejamkan mata sesaat, merasakan detak jantungnya yang berdebu menghantam rusuk. Ia membayangkan wajah Adrian saat video ini viral. Pria itu akan kehilangan segalanyaβkariernya, part**nya, citra 'keluarga harmonis' yang selama ini ia bangun dengan penuh kepalsuan.
Ia ingin melihat Adrian terbakar, meski ia sendiri harus ikut menjadi abu di dalamnya.
Tangannya kembali bergerak. Ia membuka ponselnya, melihat foto terakhir yang dikirim ibunya di WhatsAppβfoto sepiring nasi tiwul kesukaannya dengan tulisan: *"Kapan pulang, Nduk? Ibu kangen."*
Maya terisak. Dada sesak oleh dilema yang seolah membelah jiwanya menjadi dua. Di satu sisi, ada harga diri keluarganya yang suci; di sisi lain, ada keadilan dan kelangsungan hidupnya sendiri. Jika ia tidak merilis video ini, tim hukum Adrian akan menghancurkannya dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam. Ia akan diseret ke pengadilan sebagai tersangka utama korupsi, dan video itu tetap akan tersimpan sebagai kartu mati yang tak berguna.
"Kau bukan lagi Maya yang naif, jangan biarkan mereka menang," ia menyemangati dirinya sendiri dengan nada yang lebih keras.
Jempolnya menyapu air mata yang jatuh ke pipinya. Matanya kini menatap dingin pada layar laptop. Ketakutan itu masih ada, namun berubah bentuk menjadi tekad yang dingin dan beku. Ia memilih untuk menjadi badai yang menghancurkan, daripada sekadar daun kering yang diinjak-injak hingga hancur.
Tepat saat ia hendak menekan tombol kirim, sebuah notifikasi muncul di sudut bawah layar. Sebuah pesan ma**k ke email pribadinya dari pengirim anonim. Subjeknya singkat namun mampu membuat jantungnya berhenti berdetak sesaat: *"Kami tahu di mana ibumu berada sekarang. Pikirkan baik-baik sebelum menekan tombol itu, Maya."*
Darah seolah surut dari wajah Maya. Ia terpaku, menatap kalimat itu dengan mata terbelalak. Napasnya tersengal, pendek-pendek. Tangannya yang tadi sudah mantap kini kembali lemas. Mereka mengawasinya. Adrian tidak hanya ingin menghancurkan masa depannya, tapi juga mengincar satu-satunya hal yang ia cint**.
Ia menoleh ke arah pintu apartemen yang terkunci rapat, tiba-tiba merasa dinding-dinding ruangan itu mulai merapat, menghimpitnya. Suara langkah kaki sayup-sayup terdengar dari lorong di luar. Bukan langkah kaki biasa, melainkan langkah yang berat dan teratur.
Maya menatap kembali ke layar laptop. Jari telunjuknya gemetar di atas tombol *Enter*. Apakah ia harus bertaruh dengan nyawa ibunya demi kebebasannya? Atau haruskah ia menyerah dan membiarkan Adrian melumatnya hingga tak bersisa?
Suara ketukan pintu yang keras dan otoriter mengejutkannya.
"Maya Safira! Buka pintunya! Ini pihak kepolisian!"
Dunia seolah berputar. Maya menatap tombol 'Kirim' dan pintu apartemennya bergantian. Waktunya habis. Hanya ada satu detik untuk memutuskan: hancur dengan cara mereka, atau hancur dengan caranya sendiri.
Jari Maya menekan tombol itu dengan keras tepat saat pintu depan apartemennya didob**k paksa hingga hancur.
*Sent.*
Layar laptop menampilkan lingkaran berputar yang menyiksa. *Processing... 99%...*
"Jangan bergerak!" teriakan itu menggema di dalam ruangan, dibarengi sorotan lampu senter yang menyilaukan.
Maya mengangkat tangan, namun matanya tetap terpaku pada layar, menunggu satu kata yang akan mengubah hidupnya selamanya. Apakah pesan itu sempat terkirim sebelum koneksi internet ini diputus, atau ia baru saja menandatangani surat kematian bagi dirinya sendiriβdan ibunya?
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!