Telunjukku gemetar di atas tombol *enter*. Cahaya biru dari layar laptop memantul di bola mataku, membuat ruang apartemen yang remang-remang ini terasa semakin dingin. Di hadapanku, sebuah file video berdurasi tiga menit siap meluncur ke jagat maya melalui perantara akun anonim yang telah kusiapkan berhari-hari.
Ini bukan sekadar rekaman gairah. Di sela-sela desah dan tawa manja yang kini terdengar menjijikkan di telingaku, terselip percakapan sant** Adrian tentang aliran dana proyek bendungan di Jawa Barat—proyek yang kini sedang disisir KPK. Dalam video itu, ia berte******* dada, memelukku, dan dengan sombongnya menyebutkan bahwa semua aset itu aman karena "atas nama gadisku yang cantik".
"Maafkan aku, Adrian. Tapi aku tidak mau membusuk di penjara sendirian untuk dosa yang kau nikmati hasilnya," bisikku lirih.
Klik.
Satu ketukan jari, dan bom itu meledak.
Aku menyandarkan punggung ke kursi, memejamkan mata rapat-rapat. Jantungku berdegup kencang, seolah-olah baru saja berlari maraton menembus badai. Selama sepuluh menit pertama, sunyi menyelimuti. Namun, ketika aku menyegarkan laman media sosial, badai itu benar-benar datang.
Satu *retweet*. Sepuluh. Seribu. Dalam sekejap, tanda pagar #SkandalAdrian dan #SimpananPolitikus merayap naik ke puncak *trending topic*. Video itu menyebar seperti wabah, membelah opini publik dan menghancurkan citra "Politikus Muda Bersih" yang selama ini diagung-agungkan media.
Ponselku yang tergeletak di meja mulai bergetar tanpa henti. Notifikasi ma**k seperti rentetan peluru. Teman-teman kuliah, kerabat jauh yang sudah bertahun-tahun tidak menyapa, hingga nomor-nomor asing yang kuyakin adalah wartawan. Aku tidak berani menyentuhnya. Aku hanya menatap layar televisi yang sengaja kunyalakan dengan volume rendah.
Tepat satu jam kemudian, siaran berita interupsi muncul. Wajah Adrian—yang biasanya tersenyum karismatik di baliho-baliho besar—kini tampak pucat dan tegang dalam potongan video amatir saat ia dikerubungi wartawan di lobi sebuah hotel mewah.
"Pak Adrian! Bagaimana tanggapan Anda mengenai video a**sila yang beredar?!"
"Apakah benar wanita dalam video itu adalah pemilik aset yang sedang diselidiki KPK?!"
Adrian tidak menjawab. Ia dilindungi oleh barisan pengawal bertubuh besar, namun matanya menunjukkan kilatan amarah yang liar. Ia tampak seperti binatang buas yang tersudut.
Aku meraih ponselku, memberanikan diri membuka kolom komentar di bawah salah satu unggahan video tersebut. Seketika, ulu hatiku terasa diremas.
*“Cewek nggak tahu diri. Kuliah tinggi-tinggi cuma buat jadi pemuas nafsu koruptor.”*
*“Maya Safira, ya? Mukanya cantik tapi mentalnya murahan. Malu-maluin keluarga!”*
*“Pantas saja gaya hidupnya mewah, ternyata hasil jual diri dan uang rakyat.”*
Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga. Aku tahu ini konsekuensinya. Aku menghancurkan Adrian, tapi di saat yang sama, aku membakar diriku sendiri. Namaku kini disandingkan dengan kata-kata paling kotor yang bisa dipikirkan manusia. Foto-foto dari akun Instagram pribadiku yang sudah kuhapus, entah bagaimana, kembali beredar dengan sensor yang merendahkan.
Tiba-tiba, ponselku bergetar lebih lama. Sebuah nama muncul di layar: *Adrian*.
Tanganku dingin saat menggeser ikon hijau. Aku tidak bersuara.
"Kau pikir kau menang, Maya?" Suaranya rendah, serak, dan penuh ancaman. Tidak ada lagi pangg***n 'sayang' yang lembut. "Kau baru saja menandatangani surat kematianmu sendiri. Kau pikir rakyat akan membelamu? Kau hanya sampah di mata mereka, sama seperti aku sekarang."
"Setidaknya aku sampah yang bebas, Adrian," jawabku dengan suara bergetar namun tegas. "Aku tidak akan membiarkanmu menjadikanku kambing hitam. Video itu membuktikan kau yang mengatur semuanya."
"Lihat saja nanti," desisnya. "Aku punya tim pengacara yang bisa memutarbalikkan fakta bahwa kau memeras aku dengan rekaman itu. Kau akan membusuk di sel yang lebih gelap dari yang bisa kau bayangkan."
Sambungan diputus sepihak. Aku melempar ponsel ke atas tempat tidur, napas kian sesak. Aku merasa seperti sedang tenggelam di tengah lautan luas, sementara orang-orang di pant** hanya menonton dan melempari batu.
Aku berjalan menuju jendela apartemen, menatap lampu-lampu kota Jakarta yang biasanya tampak indah. Kini, lampu-lampu itu terasa seperti ribuan mata yang menghakimiku. Aku tahu, karier Adrian tamat malam ini. Part** politiknya akan membuangnya, konstituennya akan menghujatnya, dan KPK akan memiliki amunisi baru untuk menyeretnya ke pengadilan.
Namun, harganya sangat mahal. Aku kehilangan namaku, masa depanku, dan kehormatanku dalam satu malam yang g*** ini.
Saat aku mencoba untuk menenangkan diri dengan segelas air, suara ketukan keras di pintu apartemen mengejutkanku. Jantungku hampir melompat keluar. Itu bukan ketukan tamu biasa. Itu adalah ketukan yang menuntut, keras, dan berwibawa.
"Maya Safira! Buka pintunya! Kepolisian!"
Gelas di tanganku terlepas, hancur berkeping-keping di atas lant** marmer. Aku menatap pecahan kaca itu, melihat bayangan wajahku yang hancur di sana. Ternyata, serangan balik Adrian datang lebih cepat dari yang kuduga. Apakah ini akhir dari segalanya, atau justru babak baru dari neraka yang kubuat sendiri?
Aku berjalan perlahan menuju pintu, menyadari bahwa mulai detik ini, hidupku tidak akan pernah sama lagi. Di balik pintu itu, bukan hanya hukum yang menantiku, tapi seluruh dunia yang siap menudingkan telunjuk mereka.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!