Skandal Sang Ambisius: Jerat di Balik Kemewahan

Bab 2: Bab 2 - Penggeledahan apartemen oleh pihak berwenang

Pengaturan Membaca

Gelas kristal berisi jus jeruk yang baru saja kuteguk berdenting pelan saat aku meletakkannya di atas meja marmer. Pagi ini, apartemen di lant** 35 ini terasa begitu tenang, bermandikan cahaya matahari yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit. Aku merapikan piyama sutra merah mudaku, mengagumi pantulan diriku di cermin besar ruang tamu. Di usia dua puluh tahun, aku memiliki segalanyaβ€”kemewahan yang hanya bisa diimpikan teman-teman kuliahku. Semua ini berkat Adrian.

Namun, ketenangan itu pecah oleh gedoran pintu yang kasar dan beruntun. Jantungku berdegup kencang, seirama dengan suara logam yang beradu di luar sana.

"Buka pintunya! Komisi Pemberantasan Korupsi!"

Duniaku seolah berhenti berputar. Tanganku gemetar saat aku berjalan menuju pintu. Melalui lubang intip, aku melihat lima pria berseragam rompi cokelat dan biru gelap, beberapa di antaranya membawa map besar dan kamera. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadaku, lalu memutar kunci.

Begitu pintu terbuka, mereka merangsek ma**k tanpa menunggu undangan.

"Maya Safira?" salah satu dari mereka, seorang pria paruh baya dengan tatapan setajam elang, menyodorkan selembar kertas bertuliskan 'Surat Perintah Penggeledahan'. "Kami memiliki izin untuk menggeledah unit ini terkait penyelidikan ka**s suap proyek infrastruktur yang melibatkan Saudara Adrian Baskoro."

"Apa? Tapi... ini apartemen pribadi saya," suaraku mencicit, nyaris tak terdengar. "Pasti ada kesalahan. Mas Adrian tidak mungkin..."

"Kami hanya menjalankan tugas, Mbak," potong pria itu dingin. "Silakan duduk di sana dan jangan menyentuh ponsel Anda."

Aku terjerembap di sofa beludru, memeluk bantal kecil seolah itu adalah pelampung di tengah badai. Aku menyaksikan mereka mengacak-acak kehidupanku yang sempurna. Mereka membuka lemari pakaianku, mengeluarkan tas-tas *b**nded* yang biasanya kupamerkan dengan bangga, dan memeriksa saku-saku mantel buluku. Sepatu-sepatu hak tinggi yang dihadiahkan Adrian dilemparkan begitu saja ke lant**.

"Pak, temukan ini di laci meja rias," seru seorang petugas muda.

Dia membawa sebuah kotak kayu jati berukir yang sangat kukenal. Itu adalah kotak tempatku menyimpan dokumen-dokumen penting yang Adrian berikan sebagai "jaminan masa depan". Pria paruh baya tadi, yang namanya terbaca 'Baskoro' di emblem dadanya, membukanya dengan sarung tangan lateks.

Dia mengeluarkan map biru tua. "Mari kita lihat. Sertifikat Hak Milik apartemen ini... atas nama Maya Safira?"

Aku mengangguk ragu. "Iya. Itu hadiah ulang tahun saya yang ke-20 dari Adrian. Dia bilang dia ingin saya punya tempat tinggal tetap."

Baskoro tidak tersenyum. Dia terus membalik lembaran di dalam map itu. "Lalu, BPKB Range Rover hitam di parkiran bawah? Juga atas nama Anda?"

"Iya."

"Dua bidang tanah di Sentul, sebuah vila di Uluwatu, dan... saham di PT. Maju Sejahtera?" Baskoro menatapku dengan tatapan yang sulit diartikanβ€”antara kasihan dan sinis. "Semuanya atas nama Maya Safira. Anda seorang mahasiswi, bukan? Dari mana Anda mendapatkan uang puluhan miliar untuk aset-aset ini?"

Rasa dingin merayap dari ujung kakiku hingga ke tengkuk. "Itu... itu pemberian Adrian. Dia bilang itu semua investasi atas nama saya agar lebih aman. Dia bilang dia mencint** saya."

Baskoro mendengus pelan, lalu melemparkan satu dokumen lagi ke atas meja. Sebuah akta notaris yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Investasi? Di sini tertulis Anda adalah Direktur Utama dari perusahaan cangkang yang menerima aliran dana dari kontraktor proyek pemerintah. Anda bukan sekadar pacar, Mbak Maya. Di atas kertas, Anda adalah otak dari pencucian uang ini."

Kepalaku pening. Oksigen seolah menghilang dari ruangan ini. "Direktur Utama? Saya bahkan tidak tahu apa itu perusahaan cangkang! Adrian hanya menyuruh saya menandatangani beberapa kertas. Dia bilang itu prosedur administrasi untuk a**ransi saya!"

"Prosedur administrasi yang akan menyeret Anda ke penjara selama dua puluh tahun," sahut Baskoro datar.

Aku meraih ponselku yang tergeletak di meja, mengabaikan larangan mereka. Tanganku bergetar hebat saat mencari nama Adrian di kontak. Aku perlu mendengar suaranya. Aku perlu dia menjelaskan bahwa ini semua hanya sandiwara, bahwa dia akan datang menyelamatkanku dengan pengaruh politiknya.

*Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.*

Aku mencoba lagi. Sekali, dua kali, sepuluh kali. Hasilnya tetap sama. Pria yang semalam membisikkan janji manis di telingaku, yang mencium keningku dan berjanji akan menjagaku selamanya, kini menghilang seperti asap.

"Dia tidak akan menjawab, Mbak," kata Baskoro sambil memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menyita ponselku. "Rumahnya di Menteng juga sedang digeledah. Tapi bedanya, di sana tidak ditemukan satu pun dokumen aset atas namanya. Semuanya bersih. Dia melempar semua kotorannya ke apartemen ini. Ke arah Anda."

Aku menatap tumpukan dokumen di atas meja marmer itu. Kertas-kertas yang tadinya kupikir adalah bukti cinta, kini tampak seperti jeruji besi yang mulai merapat di sekelilingku. Adrian tidak memberiku kemewahan karena dia mencint**ku. Dia memberiku semua ini karena dia butuh tempat sampah yang cantik untuk menyembunyikan dosanya.

Aku hanyalah pion. Sebuah tameng hidup yang ia siapkan untuk hancur saat peluru hukum mulai ditembakkan.

"Ikut kami ke kantor, Mbak Maya. Ada banyak hal yang harus Anda jelaskan," ujar Baskoro sambil berdiri.

Saat aku berdiri dengan kaki yang lemas, mataku tak sengaja melirik ke arah laci rahasia di bawah meja rias yang terlewat dari pemeriksaan mereka. Di sana, tersembunyi di balik tumpukan kain syal, ada sebuah *hard disk* kecil yang berisi rekaman-rekaman kamera tersembunyi yang sengaja kupasang di kamar iniβ€”awalnya hanya untuk dokumen pribadiku karena rasa tidak amanku pada Adrian.

Jika aku harus tenggelam di lumpur ini, aku bersumpah tidak akan tenggelam sendirian. Aku harus memastikan bahwa jika duniaku terbakar, Adrian-lah yang menyulut apinya, dan dia harus ikut hangus bersamaku. Namun, pertanyaannya, apakah aku punya c**up keberanian untuk menarik pelatuk itu?

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca