Debur ombak yang menghantam karang di bawah tebing ini terdengar seperti tepuk tangan sarkasme dari masa lalu. Aku menghirup napas dalam-dalam, membiarkan udara pant** yang asin dan lembap mengisi paru-paruku. Di sini, di sebuah desa kecil di pesisir Timur jauh dari hiruk-pikuk Jakarta, namaku bukan lagi Maya Safira sang kekasih gelap politikus naik daun. Di sini, aku hanyalah seorang perempuan yang menyewa pondok kayu kecil dan menghabiskan sorenya dengan menatap cakrawala.
Aku mengeratkan lilitan kain tenun di bahuku. Jemariku yang dulu selalu dihiasi manikur mahal dan cincin berlian pemberian Adrian, kini terlihat polos, bahkan sedikit kasar karena sering kupakai untuk mencuci pakaian sendiri. Tidak ada lagi pelayan yang membungkuk hormat, tidak ada lagi pengemudi pribadi yang membukakan pintu mobil mewah.
Ponsel di genggamanku bergetar. Sebuah notifikasi berita muncul di layar yang retak.
*“Vonis 15 Tahun Penjara untuk Adrian Perkasa: Akhir dari Dinasti Politik yang Korup.”*
Aku menatap foto yang terpampang di artikel itu. Adrian tampak kuyu. Jas mahalnya terlihat kebesaran di tubuhnya yang menyusut. Tidak ada lagi binar ambisi di matanya, hanya ada kekosongan yang dingin. Aku teringat malam terakhir kami bertemu di ruang interogasi KPK—ruangan sempit dengan lampu neon yang berkedip menyebalkan.
Saat itu, dia menatapku dengan kebencian murni, seolah-olah akulah pengkhianatnya. Padahal, dia yang pertama kali memasang jerat itu di leherku. Dia yang menuliskan namaku di atas tumpukan dokumen perusahaan cangkang dan aset-aset hasil pencucian uang. Dia yang ingin menjadikanku tumbal agar tangannya tetap bersih.
“Kau menghancurkan segalanya, Maya,” desisnya saat itu, suaranya parau.
Aku hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kupelajari darinya. “Aku hanya melakukan apa yang kau ajarkan, Adrian. Bertahan hidup dengan cara apa pun.”
Rekaman video yang kusimpan selama ini memang tidak pernah benar-benar kupublikasikan ke media sosial secara luas. Aku bukan orang bodoh yang ingin menghancurkan martabatku sendiri secara cuma-cuma. Aku menjadikannya alat negosiasi dengan jaksa penuntut umum dan tim penyidik. Sebuah pertukaran: bukti keterlibatan langsung Adrian dalam aliran dana suap, beserta rekaman pengakuannya saat sedang mabuk kekuasaan di ranjang kami, ditukar dengan status *justice collaborator* dan pembersihan namaku dari jeratan utama tindak pidana pencucian uang.
Aku bebas secara hukum, tapi aku tahu, aku tidak akan pernah benar-benar bebas dari bayang-bayangnya.
“Ibu Safi?” suara serak seorang wanita tua memecah lamunanku.
Ibu Ratna, pemilik warung kecil di dekat pondokku, berjalan mendekat membawa sepiring pisang goreng hangat. Dia mengenalku sebagai Safi, seorang penulis yang mencari inspirasi di kesunyian pant**.
“Terima kasih, Bu,” ujarku sambil menerima piring itu. Tanganku sedikit gemetar.
“Ibu lihat tadi di televisi, orang besar di Jakarta itu ma**k penjara ya? Kasihan ya, kelihatannya masih muda dan tampan,” komentar Ibu Ratna tanpa dosa, sambil menyeka keringat di dahinya dengan ujung daster.
Aku memaksakan sebuah tawa kecil. “Dunia politik memang keras, Bu. Kadang apa yang terlihat indah di luar, sebenarnya busuk di dalam.”
Ibu Ratna mengangguk-angguk setuju sebelum berpamitan kembali ke warungnya. Aku kembali menatap layar ponsel. Komentar netizen di bawah berita Adrian sangat kejam. Mereka mencaci-makinya, dan beberapa masih menyinggung tentang 'perempuan simpanannya yang misterius'. Mereka mencariku. Mereka ingin tahu siapa sosok yang memegang semua kunci rahasia Adrian. Mereka ingin melihat wajahku untuk dijadikan bahan gunjingan di meja makan.
Untungnya, mereka tidak akan menemukanku di sini.
Aku meletakkan ponsel itu di atas meja kayu yang mulai lapuk. Aku meraih secangkir teh tawar yang sudah dingin. Saat aku hendak meminumnya, sudut mataku menangkap pantulan diriku di kaca jendela yang buram.
Aku tertegun. Sosok di cermin itu tampak asing. Matanya terlihat lebih tua dari usianya yang baru dua puluh tahun. Ada garis keletihan yang permanen di sana. Kemewahan yang dulu kupuja ternyata hanyalah lapisan emas tipis di atas besi yang berkarat. Ketika lapisan itu dikelupas paksa, yang tersisa hanyalah luka dan kehampaan.
Tiba-tiba, rasa mual menghantam ulu hatiku. Bukan karena makanan, melainkan karena kesadaran bahwa separuh dari diriku—bagian yang ambisius, yang haus akan pengakuan, yang mencint** bau uang—masih merindukan kehidupan itu. Aku benci pada diriku sendiri karena di saat seperti ini, aku masih merindukan kelembutan sprei sutra di apartemen *penthouse* itu, meskipun aku tahu di bawah sprei itu ada lubang pembuangan yang siap menelanku hidup-hidup.
Aku berdiri, berjalan ke arah bibir tebing, dan menatap laut yang kian menggelap seiring matahari terbenam. Aku merogoh saku kain tenunku, mengeluarkan sebuah *flashdisk* kecil yang terbungkus plastik kedap air. Di dalamnya masih tersimpan salinan rekaman asli itu—kartu as terakhirku jika suatu saat orang-orang Adrian atau pihak-pihak yang tidak puas mencoba mencariku ke lubang tikus ini.
Aku menimbangnya di telapak tangan. Haruskah aku membuangnya ke laut dan benar-benar memulai hidup baru tanpa beban? Atau haruskah aku menyimpannya sebagai pengingat bahwa di dunia ini, cinta hanyalah transaksi dan kesetiaan hanyalah ilusi?
Angin kencang tiba-tiba berhembus, menerbangkan beberapa helai rambutku yang kini kubiarkan tumbuh panjang dan alami tanpa sentuhan salon. Aku tidak melemparkan *flashdisk* itu. Aku menyimpannya kembali ke dalam saku. Aku belum siap untuk benar-benar melepaskan senjataku. Luka ini terlalu dalam untuk sembuh hanya dengan udara laut.
Saat aku berbalik untuk ma**k ke dalam pondok, aku melihat sebuah mobil jip hitam asing terparkir di ujung jalan setapak, jauh dari pemukiman warga. Jantungku berdegup kencang. Cahaya lampunya mati, tapi aku bisa melihat siluet seseorang duduk di kursi pengemudi, menatap lurus ke arah pondokku.
Seketika, ketenangan yang baru saja kurasakan runtuh menjadi kepingan ketakutan yang akrab. Apakah mereka sudah menemukanku? Apakah hukuman Adrian hanyalah awal dari perang yang lebih besar?
Aku ma**k ke dalam pondok, mengunci pintu kayu yang rapuh itu dengan tangan gemetar, dan mematikan lampu. Dalam kegelapan, aku menyadari satu hal: pelarian ini mungkin baru saja dimulai, dan kali ini, tidak ada Adrian yang bisa kubuat bertekuk lutut. Aku harus menghadapi bayanganku sendiri yang kini datang menagih janji.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!