Skandal Sang Ambisius: Jerat di Balik Kemewahan

Bab 3: Bab 3 - Menghubungi Adrian untuk meminta penjelasan

Pengaturan Membaca

Jari-jemari Maya gemetar hebat saat ia menatap layar ponselnya yang berpendar di tengah keremangan apartemen. Ruangan mewah di lant** tiga puluh ini biasanya terasa seperti istana impiannyaβ€”lant** marmer Italia yang dingin, sofa beludru seharga ratusan juta, dan pemandangan cakrawala Jakarta yang gemerlap. Namun malam ini, segala kemewahan itu terasa seperti jeruji besi yang mulai menyempit, mencekik napasnya pelan-pelan.

Di atas meja kopi, tumpukan berkas yang ia terima dari seorang informan anonim sore tadi berserakan. Namanya, Maya Safira, tertera jelas sebagai pemilik tunggal dari tiga perusahaan cangkang dan lima properti mewah yang kini tengah dibidik oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Maya menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti disumpal kerikil tajam. Ia bukan pengusaha. Ia hanya seorang mahasiswi yang jatuh cinta pada janji manis seorang pria berkuasa.

Dengan napas tersengal, ia menekan nomor kontak yang tersimpan dengan nama "A".

Nada sambung pertama terasa seperti keabadian. Kedua, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Pada nada kelima, barulah suara bariton yang biasanya terdengar lembut dan memabukkan itu menyapa. Namun kali ini, tidak ada sapaan "Sayang" atau nada manja yang biasa ia dengar.

"Kenapa menelepon di jam begini? Sudah kukatakan jangan hubungi aku kalau tidak mendesak," suara Adrian terdengar tajam, kering, dan sangat jauh.

"Mas..." Maya mencoba mengeluarkan suara, namun suaranya pecah. "Aku lihat berita. Namaku, Mas... Kenapa semua aset itu atas namaku? Orang-orang mulai bertanya, dan tadi sore ada mobil hitam yang mengikutiku dari kampus."

Hening sejenak di seberang sana. Maya bisa membayangkan Adrian sedang mengusap keningnya, mungkin sambil menyesap wiski mahal di ruang kerjanya yang elegan, sementara istrinya yang terhormat tertidur di kamar sebelah.

"Maya, dengarkan aku," suara Adrian kini merendah, namun bukan nada menenangkan yang ia tangkap, melainkan otoritas yang dingin. "Dunia politik itu keras. Ada ombak yang sedang kuseberangi, dan aku butuh tempat yang aman untuk menyimpan sebagian beban. Kamu mencint**ku, kan?"

"Tentu saja aku mencint**mu, tapi ini bukan soal cinta!" suara Maya naik satu oktav, air mata mulai membasahi pipinya. "Ini soal penjara, Mas! Mereka bilang itu pencucian uang. Aku tidak tahu apa-apa tentang perusahaan-perusahaan itu!"

"Jangan histeris," potong Adrian cepat, suaranya sedingin es. "Sikapmu yang seperti ini justru akan mencurigakan. Yang perlu kamu lakukan sekarang hanyalah diam. Jangan bicara pada media, jangan bicara pada teman-temanmu, dan jangan berani-berani datang ke kantorku."

Maya tertegun. Ia merasa seolah-olah baru saja disiram air es di tengah malam yang buta. "Lalu bagaimana jika mereka memanggilku? Bagaimana jika KPK datang ke sini?"

"Pengacaraku, B**m, akan menghubungimu besok pagi. Dia sudah menyiapkan draf pernyataan. Kamu hanya perlu menandatanganinya dan mengikuti semua arahannya. Ingat, Maya, ikuti skenario. Katakan semua itu adalah hasil bisnismu sendiri yang aku bantu modalnya secara pribadi. Jangan sekali-kali menyeret nama part** atau jabatanku."

"Bisnis apa, Mas? Aku bahkan tidak bisa menjelaskan bagaimana cara kerja perusahaan itu!" Maya mulai mondar-mandir di atas karpet Persia-nya yang mahal, kakinya terasa lemas. "Kamu menjadikanku tumbal? Begitu?"

Terdengar helaan napas panjang yang terdengar sangat tidak sabar dari ujung telepon. "Jangan menjadi naif sekarang. Kamu menikmati semua kemewahan itu, bukan? Tas-tas itu, apartemen ini, mobil yang kamu kendarai... tidak ada yang gratis di dunia ini, Maya. Sekarang adalah waktunya kamu membayar kenyamanan yang sudah kunikmati selama setahun terakhir. Tenanglah, ikuti skenario, dan semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak akan membiarkanmu membusuk di penjara selama kamu bisa menjaga lidahmu."

*Klik.*

Sambungan terputus.

Maya menatap layar ponselnya yang menghitam dengan tatapan kosong. Dunia yang selama ini ia anggap sebagai dongeng Cinderella seketika berubah menjadi mimpi buruk yang sangat nyata. Ia bukan lagi sang putri; ia adalah perisai manusia yang dipasang Adrian untuk menahan peluru-peluru hukum yang mengarah padanya.

Ia melempar ponselnya ke sofa, lalu berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan. Di sana, ia melihat bayangan dirinya sendiriβ€”seorang wanita muda berusia dua puluh tahun yang tampak cantik dengan kalung berlian pemberian Adrian melingkar di lehernya. Namun, di balik binar berlian itu, Maya melihat ketakutan yang murni. Ia melihat seorang gadis yang hampir kehilangan masa depannya karena terbuai oleh janji-janji stabilitas.

"Ikuti skenario," gumamnya menirukan suara Adrian. Getaran di suaranya kini menghilang, berganti dengan percikan kemarahan yang mulai menyulut di dadanya.

Ia teringat sesuatu. Sesuatu yang ia simpan jauh di dalam laci terkunci di meja riasnya. Sebuah ponsel lama yang pernah ia gunakan untuk merekam momen-momen "kenang-kenangan" mereka di awal hubungan merekaβ€”saat-saat Adrian merasa sangat aman hingga ia menceritakan banyak hal yang seharusnya tidak ia ucapkan.

Maya melangkah menuju meja rias tersebut. Tangannya masih gemetar, namun kali ini bukan karena takut. Ia membuka laci, merogoh bagian paling dalam, dan menarik keluar ponsel kecil berwarna hitam itu.

Jika Adrian ingin ia mengikuti skenario, maka Maya harus memastikan bahwa dialah yang memegang kendali atas naskahnya. Karena jika ia harus jatuh, ia tidak akan membiarkan Adrian tetap berdiri tegak di panggung kekuasaannya.

Tiba-tiba, suara bel pintu apartemennya berbunyi. Pendek, namun menuntut.

Maya membeku. Jantungnya mencelos. Belum ada pengacara yang berjanji datang malam ini. Dengan langkah perlahan, ia mendekati *intercom* di dekat pintu dan mengintip ke layar monitor. Di sana, berdiri dua orang pria berpakaian safari gelap dengan raut wajah kaku. Salah satunya memegang sebuah map berlogo resmi yang sangat ia kenali dari berita di televisi.

Ketukan pintu kembali terdengar, kali ini lebih keras. "Nona Maya Safira? Kami dari Komisi Pemberantasan Korupsi. Kami punya surat penggeledahan."

Dunia Maya seolah runtuh seketika, dan ia menyadari bahwa waktu untuk sekadar "tenang" sudah habis. Nyawanya baru saja dimulai dalam sebuah permainan yang taruhannya adalah kebebasan atau kehancuran total.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca