Aroma kopi mahal dan pembersih ruangan beraroma pinus menusuk hidungku, menciptakan sensasi mual yang tertahan di pangkal tenggorokan. Aku duduk di kursi kulit yang terlalu empuk di sebuah kantor hukum di lant** empat puluh dua, menghadap jendela kaca raksasa yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta. Kota ini biasanya terlihat cantik dari ketinggian, seperti hamparan permata yang menunggu untuk dipetik. Namun malam ini, lampu-lampu itu tampak seperti mata-mata predator yang sedang mengincarku.
Di hadapanku duduk seorang pria bernama Baskara. Setelannya licin tanpa cela, rambutnya klimis tersisir ke belakang, dan kacamatanya memantulkan cahaya lampu meja yang temaram. Ia tidak tersenyum. Sejak aku melangkah ma**k sepuluh menit yang lalu, ia hanya menatapku dengan tatapan yang biasa digunakan seorang kolektor barang antik saat memeriksa c**** pada sebuah vas porselen.
"Adrian sangat mengkhawatirkanmu, Maya," suara Baskara berat dan datar, seperti suara mesin yang terlumasi dengan baik.
Aku meremas tas tangan kulit buaya milikkuβhadiah ulang tahun dari Adrian bulan lalu. Tiba-tiba, tekstur kulitnya terasa kasar dan menjijikkan, seolah aku sedang memegang bangkai. "Kalau dia khawatir, kenapa dia tidak ada di sini? Kenapa dia tidak mengangkat teleponku sejak kemarin?"
Baskara mencondongkan tubuhnya ke depan, meletakkan sebuah map hitam tebal di atas meja kayu ek yang kokoh. "Beliau sedang berada dalam posisi yang sangat sulit. Penyelidikan KPK ini... ini adalah serangan politik yang kotor. Kehadirannya di sini hanya akan memperburuk keadaan bagimu dan baginya."
Ia membuka map itu, memperlihatkan tumpukan dokumen yang dipenuhi angka-angka yang membuat kepalaku pening. "Semua aset itu, Maya. Apartemen di Menteng, mobil Range Rover, saldo di tiga rekening atas namamu... semuanya sedang dipantau. Kau tahu dari mana uang itu berasal, bukan?"
"Itu pemberian Adrian," jawabku lirih. Suaraku gemetar, sesuatu yang sangat kubenci. "Dia bilang itu untuk masa depanku. Untuk investasi."
Baskara mendengus pelan, hampir tidak terdengar, tapi c**up untuk membuatku merasa seperti orang paling bodoh di dunia. "Di mata hukum, itu adalah pencucian uang. Kecuali," ia menjeda, menatap mataku dengan tajam, "kau mengakui bahwa uang itu adalah milikmu sepenuhnya. Hasil dari bisnismu sendiri, atau mungkin warisan keluarga yang tidak dilaporkan."
Aku tersentak. "Apa? Bisnis apa? Aku hanya mahasiswi, Baskara! Semua orang tahu itu!"
"Itulah gunanya dokumen-dokumen ini," Baskara menggeser sebuah pernyataan tertulis ke arahku. Sebuah pulpen emas diletakkan di sampingnya. "Kami sudah menyiapkan alibinya. Kau memiliki bisnis konsultasi gaya hidup yang sukses di luar negeri. Uang itu mengalir dari sana. Jika kau menandatangani ini, Adrian tetap aman, dan dia bisa menggunakan pengaruhnya untuk memastikan ka**smu tidak sampai ke meja hijau. Kau hanya akan dikenakan denda administratif yang akan dia bayar lunas."
Aku menatap lembaran kertas itu. Kata-katanya berenang di depan mataku. *Mengakui kepemilikan tunggal atas dana sebesar empat puluh miliar rupiah.* Ini bukan sekadar alibi; ini adalah surat penyerahan diri.
"Jika aku menandatangani ini," suaraku naik satu oktav, "artinya aku mengakui bahwa semua tuduhan korupsi itu tertuju padaku, bukan pada Adrian. Aku yang akan menjadi wajah dari skandal ini!"
"Kau akan menjadi pahlawan bagi kariernya, Maya," Baskara berkata dengan nada membujuk yang mengerikan. "Dan Adrian tidak pernah melupakan orang yang berjasa padanya. Tapi jika kau menolak... jika kau mencoba menyeret namanya..." Baskara menyandarkan punggungnya, matanya menyipit di balik kacamata. "Jaksa akan mencari celah untuk menjeratmu dengan hukuman maksimal. Dua puluh tahun penjara, Maya. Bayangkan dirimu keluar dari sana saat usiamu empat puluh tahun, tanpa kecantikan, tanpa uang, dan tanpa masa depan."
Tanganku yang berada di bawah meja mulai berkeringat dingin. Rasa takut itu nyata, mencekik paru-paruku hingga aku merasa kekurangan oksigen. Bayangan sel penjara yang lembap dan dingin mulai menari-nari di benakku, menggantikan bayangan gaun desainer dan liburan di Bali yang dijanjikan Adrian.
"Dia menyuruhmu melakukan ini padaku?" tanyaku dengan suara yang pecah. "Setelah semua yang kami lalui? Dia bilang dia mencint**ku."
Baskara memperbaiki letak dasinya, tampak bosan dengan dramaku. "Cinta adalah variabel yang tidak relevan dalam politik, Maya. Yang ada hanyalah kelangsungan hidup. Sekarang, tanda tangani. Jangan membuat ini menjadi lebih sulit dari yang seharusnya."
Aku melihat pulpen emas itu. Cahayanya berkilau, seolah memanggilku untuk mengakhiri mimpi buruk ini. Namun, di balik rasa takutku, insting bertahan hidup yang selama ini kupendam mulai berdenyut. Aku teringat pada sebuah benda kecil yang kusimpan di laci rahasia meja riasku. Sebuah *flashdisk* berisi rekaman malam-malam kami di apartemenβsaat Adrian dengan sombongnya menceritakan dari mana saja aliran dana proyek pembangunan dermaga itu berasal sambil menenggak wiski mahal.
Adrian pikir aku hanya boneka cantik yang bisa ia pamerkan dan buang saat sudah kotor. Ia lupa bahwa boneka ini punya mata dan telinga.
Aku menarik napas panjang, mencoba menstabilkan debar jantungku. Aku tidak boleh terlihat goyah sekarang. "Aku butuh waktu untuk membacanya secara det**l," kataku sambil mendorong kembali map itu sedikit. "Aku tidak akan menandatangani sesuatu yang bahkan belum kupahami istilah hukumnya."
Wajah Baskara berubah tegang. Rahangnya mengeras. "Waktumu tidak banyak, Maya. Petugas KPK bisa saja mengetuk pintu apartemenmu besok pagi."
"Kalau begitu, biarkan mereka mengetuk," balasku dengan keberanian yang dipaksakan, meski kakiku terasa seperti jeli. "Aku tidak akan menandatangani apa pun tanpa pengacaraku sendiri."
Baskara berdiri, auranya mendadak menjadi sangat mengancam. Ruangan yang luas itu tiba-tiba terasa sempit. "Kau sedang bermain api, Maya Safira. Dan api milik Adrian bisa menghanguskanmu hingga menjadi abu sebelum kau sempat berteriak."
Aku bangkit, menyampirkan tas tanganku ke bahu dengan gerakan yang dipaksakan tenang. "Terima kasih atas kopinya, Baskara. Sampaikan pada Adrian... aku bukan lagi gadis naif yang dia temui di perpustakaan kampus setahun lalu."
Aku berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah tegap, meskipun setiap sel di tubuhku berteriak untuk lari secepat mungkin. Saat lift membawaku turun, aku melihat pantulan diriku di dinding besi yang mengkilap. Wajahku pucat, tapi mataku terlihat berbedaβada kilat kemarahan yang mulai membakar ketakutanku.
Sesampainya di lobi yang sepi, aku merogoh ponselku. Sebuah pesan ma**k dari nomor tidak dikenal muncul di layar.
*Pilihanmu malam ini menentukan apakah kau akan tidur di ranjang empuk atau di lant** beton. Pikirkan baik-baik, Maya. Kami mengawasimu.*
Aku menoleh ke sekeliling. Di sudut lobi, seorang pria dengan jaket hitam tampak sedang memperhatikan ponselnya, namun posisinya terlalu sempurna untuk sekadar menunggu taksi. Aku mempercepat langkah menuju pintu keluar, menyadari satu hal yang mengerikan: perang ini baru saja dimulai, dan aku sendirian di tengah medan tempur. Namun, saat tanganku menyentuh kunci mobil di saku, aku teringat rekaman video itu.
Adrian ingin menjadikanku kambing hitam? Baik. Tapi jika aku harus jatuh ke jurang, aku pastikan dia adalah orang pertama yang akan kuseret bersamaku. Aku baru saja akan menyalakan mesin mobil ketika sebuah mobil SUV hitam berhenti tepat di belakang mobilku, menghalangi jalan keluar. Dua orang pria berbadan tegap keluar dari sana, berjalan perlahan menuju kacaku.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!