Lampu gantung kristal di ruang tengah apartemenku biasanya membiaskan cahaya hangat yang menenangkan, tetapi malam ini, kilaunya terasa seperti ribuan mata yang menatapku dengan dingin. Aku meringkuk di sofa beludru abu-abu, memeluk lututku erat-erat. Di layar televisi yang sengaja kupasang tanpa suara, wajah Adrian muncul dalam balutan kemeja putih bersih dengan lengan digulungβcitra politikus muda yang bekerja keras untuk rakyat. Senyumnya begitu meyakinkan, begitu tulus, hingga aku hampir lupa bahwa pria yang sama baru saja mengabaikan pesanku selama tiga hari terakhir.
Berita berjalan di bagian bawah layar menyebutkan inisial "MS" sebagai salah satu pemilik perusahaan cangkang yang diduga menampung aliran dana suap proyek infrastruktur. MS. Maya Safira. Jantungku berdegup kencang, menghantam rusukku dengan ritme yang menyakitkan.
"Hanya prosedur formal, Maya. Kamu hanya perlu menandatangani ini agar aset kita aman dari lawan politikku," bisiknya beberapa bulan lalu di tempat tidur ini, sambil mengecup keningku. Suaranya waktu itu terdengar seperti janji suci, bukan vonis mati.
Rasa mual tiba-tiba meluap. Aku butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiran, atau mungkin, aku butuh kepastian. Aku bangkit dengan kaki gemetar menuju lemari pajangan di sudut kamar. Di balik tumpukan tas bermerek yang dulu membuatku merasa begitu berkuasa, terselip sebuah laptop lamaβperangkat yang kugunakan saat awal kuliah sebelum Adrian membelikanku MacBook terbaru.
Aku ingat Adrian pernah meminjam laptop ini selama seminggu ketika komputernya sedang diperbaiki oleh staf IT kantornya. Katanya, dia hanya butuh akses internet cepat dan mengetik beberapa draf pidato.
Debu tipis menempel di permukaannya. Saat aku menyalakannya, bunyi kipas yang berderit nyaring terasa seperti alarm peringatan. Setelah beberapa kali mencoba mengingat kata sandi lama, layar beranda akhirnya terbuka. Wallpaper-nya masih foto selfie kami berdua di Bali, saat dunia masih terasa seperti taman bermain pribadi kami.
Aku mulai menelusuri folder demi folder dengan tangan yang berkeringat dingin. Awalnya hanya ada draf tugas kuliah dan foto-foto lama. Namun, instingku menuntunku pada sebuah folder tersembunyi dengan nama yang sangat membosankan: "Restorasi Data 2023".
Klik.
Di dalamnya terdapat puluhan berkas PDF. Mataku membelalak saat membaca judul-judulnya: *Surat Kuasa Penunjukan Direktur Utama*, *Akta Jual Beli Tanah Sentul*, *Perjanjian Penempatan Dana Luar Negeri*. Dan semua dokumen itu mencantumkan namaku sebagai pihak pertama.
"Tidak mungkin..." bisikku, suaraku tercekat di tenggorokan yang kering.
Aku membuka salah satu berkasβsebuah surat pernyataan pengalihan saham senilai miliaran rupiah. Di bagian bawah, tepat di atas namaku, tertera tanda tangan. Aku mendekatkan wajah ke layar, memerhatikannya dengan saksama. Sekilas, itu memang tanda tanganku. Lengkungannya, tarikan garis di huruf 'y', bahkan titik kecil di akhir coretan itu.
Namun, ada sesuatu yang salah. Aku selalu menekan pulpen sedikit lebih kuat di awal huruf 'M'. Tanda tangan di layar ini terlalu sempurna, terlalu simetris, seolah-olah diproduksi oleh mesinβatau seseorang yang telah berlatih ribuan kali untuk menirunya.
Aku membuka folder lain yang berisi file gambar berformat PNG. Napas duniaku seakan berhenti. Di sana terdapat pindaian tanda tanganku yang asli, dikelilingi oleh coretan-coretan digital. Ada sebuah perangkat lunak pengolah gambar yang masih terbuka dalam riwayat aplikasi, menunjukkan bagaimana tanda tanganku dipotong, dibersihkan, dan kemudian ditempelkan secara digital ke dokumen-dokumen korporasi yang bahkan tidak pernah kulihat sebelumnya.
Adrian tidak hanya memintaku menandatangani beberapa dokumen sebagai formalitas. Dia telah mencuri identitasku. Dia memanipulasi tanda tanganku untuk transaksi yang terjadi saat aku bahkan sedang bersamanya di luar negeri, seolah-olah aku yang melakukan semua perundingan kotor itu di Jakarta.
Tanganku gemetar hebat hingga tetikus di genggamanku terlepas dan jatuh ke lant**. Suara benturannya bergema di kesunyian apartemen.
Selama ini, aku mengira aku adalah ratu di istana kecil ini. Aku pikir kemewahan ini adalah upah dari cintaku yang tulus pada pria yang paling berkuasa di generasinya. Ternyata, aku hanyalah sebuah bunker. Aku adalah tempat sampah di mana dia membuang semua limbah kejahatannya, memastikan bahwa jika suatu saat badai datang, dialah yang akan tetap berdiri tegak di bawah payung hukum, sementara aku akan tersapu ba**** air mata di balik jeruji besi.
Dia tidak mencint**ku. Dia sedang membangun peti mati untukku sejak hari pertama kami bertemu.
Tiba-tiba, suara kunci pintu apartemen berputar. Jantungku mencelos. Hanya ada dua orang yang memiliki akses ma**k: aku dan Adrian.
Aku terkesiap, memandang laptop yang masih menyala terang di depanku, menampilkan bukti pengkhianatan yang paling nyata. Langkah kaki terdengar di koridor marmer, tenang dan berwibawa. Itu langkah kakinya. Langkah kaki pria yang baru saja kusadari adalah musuh terbesarku.
"Maya? Kamu belum tidur, Sayang?" Suara baritonnya terdengar dari balik pintu kamar, sedingin es namun semanis madu yang beracun.
Aku terpaku. Jika aku menutup laptop sekarang, dia akan curiga. Jika aku membiarkannya terbuka, permainanku berakhir malam ini. Dengan gerakan cepat yang dipicu oleh kepanikan murni, aku menyambar kabel pengisi daya, mencoba mematikan paksa perangkat itu, namun layar justru membeku pada gambar tanda tangan palsu yang bersandingan dengan wajahku di kartu identitas yang dipindai.
Gagang pintu mulai bergerak turun. Dalam hitungan detik, dunia penuh kepalsuan yang kami bangun akan runtuh, dan aku tidak tahu apakah aku akan keluar dari ruangan ini sebagai pemenang atau sebagai mayat yang didepak dari puncak kemewahan.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!