Hujan di luar jendela apartemen lant** tiga puluh ini tampak seperti tirai kelabu yang tak kunjung usai. Aku duduk meringkuk di sudut sofa beludru, memeluk lutut sembari menghirup aroma kopi yang sudah mendingin. Di depanku, sebuah kotak beludru kecil berisi kalung berlian—pemberian pertama Adrian—terbuka lebar, memantulkan cahaya lampu gantung yang redup. Dulu, kilau itu adalah simbol harapan. Sekarang, ia tampak seperti mata i**** yang mengawasiku.
Pikiranku terseret paksa ke dua tahun lalu. Malam itu di sebuah gala amal untuk pendidikan, udara dipenuhi wangi parfum mahal dan denting gelas sampanye. Aku, seorang mahasiswi tingkat dua yang baru saja memenangkan kompetisi debat nasional, berdiri dengan gaun sewaan yang terasa sedikit terlalu ketat di bagian dada. Aku merasa kecil di ruangan itu, sampai dia datang.
"Kamu memiliki tatapan yang sangat tajam untuk seseorang yang baru berusia dua puluh tahun," suara bariton itu terdengar tepat di belakang bahuku.
Aku berbalik dan menemukan Adrian berdiri di sana. Dia tidak mengenakan dasi, kancing teratas kemejanya terbuka, memberikan kesan ka**al namun tetap berwibawa di tengah lautan pria-pria kaku berjas lengkap. Senyumnya tidak simetris, sedikit miring ke kanan, memberikan kesan seolah dia menyimpan rahasia paling lucu di dunia ini sendirian.
"Pak Adrian? Maksud saya... Pak Anggota Dewan?" aku terbata, pipiku memanas seketika.
Dia tertawa kecil, suara yang saat itu terdengar seperti musik merdu di telingaku. "Hanya Adrian jika kita tidak sedang berada di depan kamera. Dan jangan panggil 'Pak', itu membuatku merasa seperti kakekmu."
Malam itu, dia tidak membicarakan politik atau pencitraannya. Dia bertanya tentang tesisku, tentang impianku membangun yayasan untuk anak-anak jalanan, dan tentang warna favoritku. Dia mendengarkan dengan intensitas yang membuatku merasa seolah-olah akulah satu-satunya orang di ruangan itu yang memiliki arti.
"Maya," katanya saat itu, jarinya menyentuh pergelangan tanganku dengan lembut—sebuah sentuhan yang sangat sopan namun membakar kulitku. "Dunia ini sangat keras bagi perempuan secerdas kamu. Kamu butuh pelindung. Seseorang yang bisa memastikan potensimu tidak terbuang sia-sia."
Bodohnya, saat itu aku mengira dia menawarkan sayap agar aku bisa terbang. Aku tidak menyadari bahwa dia sebenarnya sedang mengukur ukuran sangkar yang akan dia buat untukku.
Aku memejamkan mata, namun bayangan itu justru semakin jelas. Aku teringat enam bulan setelah pertemuan itu, saat dia membawaku ke apartemen ini untuk pertama kalinya. Dia menyerahkan sebuah map cokelat berisi dokumen kepemilikan unit.
"Ini atas namamu, Maya. Aku ingin kamu punya tempat yang aman untuk belajar, untuk istirahat. Kamu adalah investasiku untuk masa depan yang lebih baik," bisiknya di telingaku sembari memelukku dari belakang.
"Tapi Adrian, ini terlalu banyak. Aku tidak bisa menerimanya," protesku yang setengah hati.
"Jangan keras kepala," dia memutar tubuhku, menangkup wajahku dengan kedua tangannya yang hangat. "Aku melakukan ini karena aku memercayaimu lebih dari siapa pun. Di dunia politik yang kotor ini, kamu adalah satu-satunya hal yang murni bagiku. Anggap saja ini bentuk proteksi. Jika terjadi sesuatu padaku karena lawan politikku, setidaknya aset-aset ini ada di tangan orang yang paling kucint**."
Kata-kata 'paling kucint**' bekerja seperti sihir. Kalimat itu menumpulkan logika dan insting bertahan hidupku. Aku melihat air mata di sudut matanya—yang sekarang kuyakin hanyalah teknik akting yang telah ia latih di depan cermin berkali-kali.
Kini, duduk di apartemen yang sama, aku mulai melihat benang-benang merah yang terjalin rapi. Setiap kali dia memintaku menandatangani dokumen—alih-alih asistennya—dia selalu melakukannya di saat aku sedang merasa paling emosional atau paling lelah. Dia akan membawakan bunga, memanjakanku dengan makan malam mewah, lalu di akhir malam berkata, "Oh, sayang, ada beberapa berkas yayasan yang butuh tanda tanganmu. Hanya formalitas administratif."
Dan aku, dengan kepala yang masih pening karena anggur dan hati yang penuh dengan rasa syukur, akan menandatangani apa saja tanpa membaca satu paragraf pun. Aku memberikan namaku, identitasku, dan seluruh masa depanku untuk dicemari oleh uang-uang gelap yang ia rampok dari rakyat.
Aku meraih ponselku yang terletak di meja kaca. Jariku gemetar saat menggeser layar, membuka galeri foto yang tersembunyi di balik folder terenkripsi. Di sana, terdapat rekaman video yang secara iseng aku ambil setahun lalu—sebuah video kemesraan kami di tempat tidur. Saat itu, aku merekamnya karena aku takut dia akan meninggalkanku, aku ingin punya sesuatu untuk dikenang.
Namun, saat aku memutar video itu sekarang, tatapanku bukan lagi pada diriku yang tampak memuja, melainkan pada meja rias di latar belakang. Di sana, nampak sekilas tas kerja Adrian yang terbuka, memperlihatkan tumpukan dokumen dengan stempel perusahaan cangkang yang belakangan ini sering disebut-sebut dalam berita investigasi korupsi di televisi.
Logika pahit mulai menghantamku. Dia tidak pernah bermaksud melindungiku. Dia sedang membangun benteng dari tubuhku. Jika benteng itu runtuh, dialah yang akan tetap berdiri di balik reruntuhan, sementara aku terkubur di bawahnya.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang keras mengejutkanku. Jantungku berpacu dua kali lipat lebih cepat. Tidak ada yang pernah datang ke sini kecuali Adrian, dan dia selalu menggunakan kode akses sidik jari.
Aku berjalan perlahan menuju pintu, mengintip melalui lubang intip kecil. Di luar, berdiri dua orang pria berpakaian safari gelap dengan raut wajah kaku. Salah satu dari mereka memegang lencana yang sangat kukenali dari berita-berita kriminal.
KPK.
Tanganku membeku di atas gagang pintu. Di dalam kepalaku, suara Adrian kembali terngiang: *Aku melakukan ini karena aku memercayaimu lebih dari siapa pun.*
Kepercayaan. Itulah senjata paling mematikan yang ia gunakan untuk menghancurkanku. Dan sekarang, monster yang ia pelihara di bawah namaku telah sampai di depan pintu, siap untuk menyeretku ke dalam kegelapan yang tak berujung. Aku harus memilih: membukakan pintu dan menjadi korban yang patuh, atau menggunakan sisa-sisa keberanianku untuk membakar habis sandiwara ini sebelum aku habis dilalap api.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!