Udara di dalam penthouse lant** 32 ini biasanya terasa seperti parfum mahal—elegan, tenang, dan eksklusif. Namun malam ini, oksigen seolah menipis, digantikan oleh aroma keputusasaan yang menyesakkan dada. Aku menatap pantulan diriku di cermin besar berlapis emas di ruang tengah. Mataku sembab, dan gaun sutra yang kukenakan terasa seperti beban ribuan ton yang menarikku ke dasar laut.
Aku harus pergi. Sekarang juga.
Tanganku gemetar saat mema**kkan paspor, beberapa perhiasan yang bisa kujual dengan cepat, dan yang paling penting—sebuah *flashdisk* kecil yang kusembunyikan di balik lapisan rahasia tas tanganku—ke dalam *tote bag* hitam sederhana. Aku melepaskan high heels-ku, memilih untuk berte******* kaki agar langkahku tidak memicu gema di atas lant** marmer yang dingin ini.
Pikiran tentang penjara terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak. Berita sore tadi memperlihatkan wajahku—meski disensor sebagian—sebagai pemilik perusahaan cangkang yang diduga menampung aliran dana suap proyek infrastruktur. Adrian menjadikanku tameng. Pria yang dulu memujaku dengan kata-kata manis itu ternyata sedang membangun tiang gantungan untukku.
Aku mendekati pintu utama dengan napas tertahan. Jantungku berdentum begitu keras hingga aku takut suaranya akan memicu alarm keamanan. Perlahan, aku memutar tuas pintu.
*Klik.*
Pintu terbuka sedikit. Lorong apartemen yang remang-remang tampak kosong. Aku melangkah keluar, merasakan bulu kudukku meremang saat embusan angin dari sistem pendingin sentral menerpa kulitku. Aku tidak menuju lift utama—itu terlalu berisiko. Aku berbelok menuju pintu darurat yang terletak di ujung koridor sebelah kiri.
Hanya lima meter lagi. Empat meter. Tiga...
"Mau ke mana malam-malam begini, Nona Maya?"
Suara berat itu memecah kesunyian seperti dentuman meriam. Aku tersentak, kakiku terpaku di lant**. Di depan pintu darurat, sesosok tubuh tegap keluar dari bayangan. Itu adalah Lukas, kepala pengawal pribadi Adrian yang memiliki wajah sedingin batu nisan.
Aku berusaha mengatur napas, mencoba memanggil kembali sisa-sisa keberanian yang kumiliki. "Aku... aku butuh udara segar, Lukas. Aku merasa mual."
Lukas tidak bergerak seinci pun. Matanya yang tajam mengamati tas hitam yang mendekap erat di ketiakku. "Perintah Bapak jelas, Nona. Anda tidak diizinkan meninggalkan unit ini sampai situasi di luar kondusif. Demi keamanan Anda sendiri."
"Keamananku atau keamanan rahasia Adrian?" suaraku meninggi, sedikit bergetar oleh amarah yang mulai mengalahkan rasa takut. "Minggir, Lukas. Aku bukan tahanan."
Aku mencoba menerobos lewat sampingnya, namun dengan gerakan secepat kilat, tangan Lukas mencengkeram lenganku. Cengkeramannya begitu kuat hingga aku merintih. Ia tidak sekadar menahanku; ia seolah ingin meremukkan tulang di balik kulitku.
"Lepaskan!" bentakku, meronta sekuat tenaga.
"Jangan mempersulit keadaan, Nona," desis Lukas. Ia menarikku menjauh dari pintu darurat, menyeret langkahku kembali menuju unit penthouse. "Bapak tidak suka kalau barang miliknya berpindah tempat tanpa izin."
"Barang milik?" Aku tertawa getir, meski air mata mulai menggenang. "Aku ini manusia, Lukas! Katakan pada Adrian, aku tidak akan tinggal diam dan membiarkan dia membusuk di dalam sel sambil menunjukku sebagai pelakunya!"
Lukas berhenti di depan pintu apartemenku, lalu memutar tubuhku dengan kasar hingga punggungku menghantam dinding dingin. Ia mendekatkan wajahnya, memancarkan aura ancaman yang membuat nyaliku menciut.
"Dengar baik-baik, Maya," ucapnya dengan nada rendah yang mengancam. "Di mata publik, kau adalah direktur utama perusahaan itu. Semua dokumen ditandatangani oleh tanganmu yang cantik ini. Jika kau keluar dari gedung ini sekarang, polisi mungkin akan menangkapmu, atau orang-orang yang uangnya dicuri oleh Adrian akan menemukanmu lebih dulu. Dan percayalah, mereka tidak akan seramah aku."
Tangan Lukas berpindah ke leherku, tidak mencekik, namun memberikan tekanan yang c**up untuk membuatku menyadari betapa mudahnya dia bisa mengakhiri hidupku di sini. "Ma**k ke dalam, duduk manis, dan tunggu instruksi selanjutnya. Jika kau mencoba melarikan diri lagi..." Ia menggantung kalimatnya, matanya melirik ke arah balkon yang sangat tinggi di belakang kami. "Kecelakaan bisa terjadi pada siapa saja, bahkan pada wanita secantik dirimu."
Ia melepaskan cengkeramannya dan mendorongku ma**k ke dalam apartemen. Pintu berat itu tertutup dengan bunyi *dentum* yang final, diikuti suara kunci elektrik yang berputar otomatis.
Aku merosot ke lant**, memeluk lututku yang gemetar hebat. Aku terperangkap. Di luar sana, aparat hukum sedang memburuku, dan di dalam sini, aku sedang menunggu giliran untuk dikorbankan.
Tiba-tiba, ponsel di dalam tasku bergetar. Sebuah pesan ma**k dari nomor yang tidak kukenal.
*Aku tahu apa yang Adrian lakukan padamu. Jika kau ingin selamat, lihat di bawah meja riasmu. Sekarang.*
Aku menatap layar ponsel dengan jantung yang kembali berpacu. Apakah ini jebakan lain, ataukah ada tangan yang terulur di tengah kobaran api yang siap melalapku? Aku menoleh ke arah kamar tidur, memikirkan apakah aku harus mempercayai orang asing ini atau tetap diam menunggu ajalku di tangan Adrian.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!