Ruang apartemen yang biasanya terasa seperti istana mini itu kini menyerupai sel penjara yang menyesakkan. Cahaya bulan menyusup tipis melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat, membentuk garis-garis pucat di atas lant** marmer yang dingin. Aku duduk bersimpuh di depan lemari pakaian, dikelilingi oleh tumpukan tas desainer dan gaun-gaun mahal yang kini terasa seperti kain kafan.
Napas menyentak di tenggorokan saat jemariku meraba-raba bagian bawah kotak perhiasan beludru merah tua—hadiah ulang tahun dari Adrian tahun lalu. Tanganku gemetar hebat. Bukan karena dinginnya pendingin ruangan, melainkan karena kengerian yang merayap di bawah kulitku. Pengacara Adrian tadi sore mengunjungiku, membawakan setumpuk dokumen yang harus kutandatangani. "Hanya prosedur rutin, Maya. Untuk melindungimu," ucapnya dengan senyum yang tidak pernah mencapai mata. Tapi aku tahu itu bohong. Dokumen itu adalah surat pengakuan bahwa aset-aset pencucian uang itu milikku sendiri.
"Ba******," desisku. Suaraku parau, pecah di udara yang sunyi.
Aku membalikkan kotak perhiasan itu, mencari celah kecil yang kubuat sendiri dengan pisau dapur beberapa bulan lalu. Kuku jempolku mencungkil pinggiran alas beludru yang mulai longgar. Jantungku berdentum keras, seolah-olah ia ingin melompat keluar dari rusukku. Dan di sana, tersembunyi di balik lapisan tipis kayu dan kain, benda kecil berwarna perak itu berkilat tertimpa cahaya lampu meja yang temaram.
Sebuah *flash drive*.
Benda itu terasa dingin saat kusentuh, namun rasanya seolah membakar telapak tanganku. Di dalam sana tersimpan bukti-bukti yang pernah kuanggap sebagai monumen cinta kami. Rekaman-rekaman rahasia yang kuambil secara sembunyi-sembunyi melalui kamera kecil yang kuselipkan di antara hiasan dinding kamar hotel, saat-saat di mana Adrian melepaskan topeng politikus santunnya dan menjadi pria yang penuh gairah—dan terkadang, pria yang terlalu jujur saat mabuk setelah memenangkan lobi politik yang kotor.
Aku menggenggam benda itu erat-erat hingga sudut tajamnya menusuk kulitku. Pikiranku berkecamuk. Jika aku menyerahkan ini pada pihak berwenang, atau lebih buruk lagi, membocorkannya ke publik, karier Adrian akan hancur berkeping-keping dalam semalam. Sosok pahlawan rakyat, calon pemimpin masa depan yang bersih, akan terungkap sebagai predator dan koruptor yang menjijikkan.
Tapi ada harga yang harus kubayar.
Aku memejamkan mata, dan seketika bayangan wajah ibuku di kampung halaman melintas. Bagaimana reaksinya jika melihat putri kebanggaannya—yang katanya sukses bekerja di Jakarta—muncul di situs-situs berita dalam video a**sila? Aku bisa membayangkan judul beritanya: *Skandal Video Panas Simpanan Politikus Muda*.
Duniaku akan runtuh bersama dunianya. Aku tidak hanya akan kehilangan kemewahan ini; aku akan kehilangan martabatku, namaku, dan sisa masa depanku. Aku akan selamanya diingat sebagai "wanita itu", bukan sebagai Maya Safira yang ambisius dan cerdas.
"Apa yang harus kulakukan?" bisikku pada bayanganku di cermin lemari yang retak di sudutnya. Mata di cermin itu terlihat cekung, penuh ketakutan yang tak tertahankan.
Aku bangkit dengan kaki lemas, berjalan menuju laptop yang tergeletak di atas meja kerja. Tanganku ragu-ragu di atas *keyboard*. Suara sirene polisi sayup-sayup terdengar dari kejauhan, membuat bulu kudukku berdiri. Apakah mereka datang untukku? Apakah Adrian sudah memutuskan untuk mengumpankanku malam ini juga?
Kuma**kkan *flash drive* itu ke dalam *port* USB. Bunyi klik kecilnya terdengar seperti suara pelatuk pistol yang ditarik. Layar laptop menyala, memancarkan cahaya biru yang menyakitkan mata. Sebuah folder muncul tanpa nama. Klik ganda. Puluhan file video berderet di sana.
Aku memilih satu file secara acak. Gambar itu muncul—gelap dan goyang, tapi c**up jelas. Di sana ada Adrian, mengenakan kemeja putih yang separuh terbuka, sedang tertawa sambil menenggak wiski mahal. Dia merangkul bahuku, mencium pelipisku, lalu mulai meracau tentang bagaimana dia mengelabui komisi pengawas untuk proyek pembangunan di Jawa Barat.
"Kamu adalah b**nkas terbaikku, Maya," ucap Adrian dalam video itu, suaranya terdengar begitu mesra namun kini terasa seperti racun yang merembes ke telingaku. "Semua yang atas namamu adalah harta yang takkan tersentuh. Mereka terlalu bodoh untuk mencurigai gadis cantik sepertimu."
Air mata mulai mengalir di pipiku. Bukan karena sedih, tapi karena amarah yang mendidih. Dia tidak pernah mencint**ku. Setiap ciuman, setiap janji tentang masa depan bersama, hanyalah lapisan gula untuk menutupi rencana busuknya menjadikanku tameng hidup.
Jempolku melayang di atas tombol *upload*. Jariku bergetar hebat. Satu tekanan ringan, dan video ini akan terkirim ke seorang jurnalis investigasi yang secara anonim terus menghubungiku selama seminggu terakhir.
"Jika aku hancur, kamu juga harus hancur, Adrian," gumamku, gigiku gemeletuk.
Namun, tepat sebelum aku menekan tombol itu, ponselku yang tergeletak di samping laptop bergetar hebat. Sebuah pesan singkat ma**k dari nomor yang tidak kukenal.
*Jangan bodoh, Maya. Lihat keluar jendela sebelum kamu membuat keputusan yang akan kamu sesali seumur hidup.*
Darahku mendesir dingin. Dengan gerakan kaku, aku berjalan menuju jendela dan menyibakkan gorden. Di bawah sana, di seberang jalan apartemenku, sebuah mobil SUV hitam terparkir dengan mesin menyala. Dua pria berjas gelap berdiri di sampingnya, menatap lurus ke arah unit apartemenku. Salah satu dari mereka memegang ponsel, seolah sedang menunggu aba-aba.
Mereka bukan polisi. Mereka adalah orang-orang Adrian.
Aku mundur selangkah, jantungku berpacu seperti kuda pacuan. *Flash drive* itu masih menancap di laptop, menyimpan rahasia yang bisa membakar dunia, atau justru membakarku di tempat aku berdiri. Dilema itu mencekikku—tetap diam dan membusuk di penjara sebagai kambing hitam, atau melawan dan menjadi abu dalam ledakan skandal ini.
Layar laptop masih menyala, kursor masih berkedip di atas tombol kirim. Di luar, salah satu pria itu mulai berjalan menuju lobi gedung.
Pilihannya hanya satu: menjadi korban yang terlupakan, atau menjadi monster yang menghancurkan segalanya. Dan waktu hanya tersisa beberapa menit sebelum pintu unitku didob**k paksa.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!