Layar ponsel di atas nakas berpendar redup, namun getarannya yang tak kunjung berhenti terdengar seperti detak jantung yang terpacu abnormal. Aku mengerang, meraba permukaan kayu dingin itu dengan jemari yang masih gemetar. Begitu layarnya menyala, mataku perih dihantam rentetan notifikasi yang memba**** seperti air bah.
Satu pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal ma**k: *“Dasar pe***** koruptor! Makan uang rakyat enak, ya?”*
Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku terduduk kaku, memaksakan diri untuk membuka aplikasi media sosial. Di kolom pencarian yang sedang tren, namaku berada di urutan teratas. #MayaSafira #RatuKorupsiAdrian #SkandalSimpananMewah.
Aku menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Tanganku gemetar hebat saat menekan salah satu tautan berita dari situs berita nasional. Di sana, fotoku saat mengenakan gaun sutra merah di gala makan malam bulan lalu—gaun yang Adrian pilihkan secara khusus—terpampang jelas. Namun, mereka telah menyunting foto itu. Wajahku dibuat tampak lebih tajam, lebih gelap, dengan tajuk utama yang menghantam ulu hati: **"JEJAK RATU KORUPSI: Bagaimana Mahasiswi 20 Tahun Menjadi B**nkas Hidup Sang Politikus."**
Berita itu membedah segalanya. Apartemen di Menteng yang aku tempati, mobil Mercedes yang terparkir di bawah, hingga koleksi tas bermerek yang kuunggah di Instagram dengan penuh kebanggaan dulu. Semua itu kini bukan lagi simbol kesuksesan, melainkan bukti kejahatan. Penulis berita itu menyebutku sebagai 'arsitek pencucian uang' yang licik, yang menggunakan pesona masa muda untuk mengeruk kekayaan negara demi kepentingan Adrian.
"Tidak... bukan begitu kejadiannya," bisikku pada dinding kamar yang mendadak terasa menyempit.
Aku beralih ke kolom komentar. Di sanalah neraka yang sesungguhnya berada.
*“Wajah malaikat, hati i****. Pantas saja gaya hidupnya seperti putri raja, ternyata hasil mencuri,”* tulis seorang pengguna dengan akun anonim.
*“Kenapa hanya Adrian yang diperiksa? Perempuan ini harusnya dipenjara seumur hidup. Dia yang menikmati uangnya!”* timpal yang lain.
Setiap kata terasa seperti silet yang mengiris harga diriku. Mereka tidak mengenalku. Mereka tidak tahu bagaimana Adrian meyakinkanku bahwa semua aset itu adalah bentuk "investasi masa depan kita". Mereka tidak tahu betapa seringnya aku menangis karena merasa kesepian di tengah kemewahan ini. Bagiku, mereka hanyalah kerumunan orang asing yang kini memegang obor, siap membakarku di alun-alun digital.
Tiba-tiba, suara ketukan keras di pintu apartemen membuatku terlonjak hingga ponselku terjatuh ke lant**.
"Maya! Buka pintunya!" itu suara Hendra, pengacara yang dikirim Adrian untuk 'mengurusku'.
Aku merangkak turun dari tempat tidur, kaki-kakiku terasa lemas seperti jeli. Saat aku membuka pintu, Hendra ma**k dengan wajah kaku dan setelan jas yang tak rapi. Ia tidak menyapa. Ia langsung menyalakan televisi besar di ruang tengah.
"Lihat ini," perintahnya dingin.
Layar televisi menampilkan tayangan langsung di depan gedung KPK. Seorang pengamat politik sedang berbicara dengan nada berapi-api. *"Ka**s Adrian ini sangat rapi karena dia menggunakan pihak ketiga yang sangat dekat secara emosional. Maya Safira bukan sekadar korban, dia adalah kaki tangan. Dari data yang kami terima, semua tanda tangan di dokumen cangkang perusahaan itu adalah miliknya. Dia sadar sepenuhnya."*
"Itu bohong!" teriakku, menunjuk ke arah layar. "Dia yang menyuruhku tanda tangan! Katanya itu hanya dokumen a**ransi!"
Hendra menoleh, menatapku dengan tatapan kasihan yang menghina. "Di mata hukum, tanda tanganmu adalah harga mati, Maya. Publik sudah memutuskan siapa antagonis dalam cerita ini. Adrian adalah politikus yang 'khilaf', tapi kau? Kau adalah penggoda yang merusak karier aset bangsa."
"Adrian yang memberikan semuanya padaku!" suaraku meninggi, nyaris histeris.
"Dan sekarang, dia akan mengambil semuanya kembali untuk menyelamatkan dirinya sendiri," potong Hendra tajam. "Dengarkan aku baik-baik. Media sosial sudah menghancurkan karaktermu. Jika kau bicara sekarang, tidak akan ada yang percaya. Kau sudah dicap sebagai perempuan haus harta. Strategi terbaikmu adalah diam dan biarkan tim kami yang bekerja."
"Diam dan membiarkan diriku membusuk di penjara sementara dia tetap jadi pahlawan?" Aku tertawa getir, air mata mulai mengalir deras membasahi pipiku.
Hendra mendekat, suaranya merendah, penuh ancaman yang terselubung. "Jangan melakukan hal bodoh, Maya. Netizen di luar sana sedang mencarimu. Alamat apartemen ini sudah bocor. Kalau kau keluar sekarang, mereka akan menguliti kakimu hidup-hidup sebelum polisi sempat memborgolmu."
Setelah Hendra pergi dengan bantingan pintu yang keras, kesunyian di apartemen ini terasa lebih menakutkan daripada kebisingan di luar sana. Aku berjalan ke jendela, menyibak sedikit tirai mahal yang kini terasa seperti kain kafan. Di bawah sana, beberapa mobil dengan logo stasiun televisi sudah terparkir. Orang-orang dengan kamera lensa panjang mengint**, menunggu mangsa mereka keluar.
Aku terperangkap. Di luar ada massa yang haus darah, di dalam ada pengkhianatan yang mencekik.
Aku kembali ke meja rias, membuka laci rahasia di bawah tumpukan alat kosmetik mahalku. Jemariku meraba sebuah benda kecil yang dingin—sebuah *flash disk* hitam. Di dalamnya tersimpan rekaman yang aku ambil enam bulan lalu, sebuah video berdurasi sepuluh menit yang memperlihatkan sisi lain Adrian yang tidak pernah diketahui publik; saat dia dengan bangga memamerkan tumpukan uang tunai di atas tempat tidur ini sambil menertawakan betapa mudahnya membodohi rakyat.
Tanganku bergetar saat menggenggam benda itu. Ini adalah kartu as-ku. Jika aku mengunggahnya, karier Adrian akan berakhir dalam semalam. Tapi di saat yang sama, rekaman itu juga memperlihatkan diriku yang te*******, tanpa martabat, bersamanya.
Ponselku bergetar lagi. Sebuah notifikasi berita baru muncul di layar: **"Sumber Terpercaya: KPK Akan Menjemput Paksa MS Malam Ini."**
Aku menatap pantulan wajahku di cermin. Mata yang dulu penuh ambisi kini hanya menyisakan ketakutan yang murni. Aku harus memilih: hancur dalam diam sebagai martir bagi pria yang mengkhianatiku, atau membakar dunia kami berdua hingga menjadi abu, meskipun aku harus ikut terbakar di dalamnya.
Tanganku bergerak perlahan menuju laptop. Satu klik, dan hidupku takkan pernah sama lagi. Namun, keraguan itu kembali datang saat sebuah pesan singkat ma**k dari nomor Adrian yang biasanya ia gunakan untuk keadaan darurat.
*“Jangan lakukan hal bodoh, Maya. Ingat keluargamu di desa. Aku masih bisa menyelamatkanmu kalau kau tetap setia.”*
Napas daku tertahan. Dia mengancamku. Di tengah kepungan media dan kebencian publik, Adrian justru mengirimkan belati terakhirnya tepat ke arah jantungku. Aku menatap *flash disk* di tangan, lalu menatap layar laptop yang masih gelap. Waktu seolah berhenti berputar. Pilihanku bukan lagi tentang kebebasan, melainkan tentang siapa yang akan hancur lebih dulu.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!