Ujung jemariku bergetar pelan saat aku merapikan kerah kemeja putih yang baru saja kusetrika hingga licin sempurna. Di pantulan cermin lobi Baskara Group yang setinggi langit-langit, aku melihat seorang gadis berusia dua puluh satu tahun yang tampak asing. Rambutku yang biasanya dibiarkan tergerai berantakan, kini tersanggul rapi. Rok pensil hitam itu memeluk pinggangku sedikit terlalu ketat, tapi setidaknya aku terlihat seperti seseorang yang pantas berada di gedung pencakar langit ini, bukan sekadar mahasiswi yang pusing memikirkan tagihan rumah sakit ibunya yang menumpuk.
"Kau bisa melakukan ini, Selly," bisikku pada diri sendiri. Suaraku tenggelam di antara langkah kaki terburu-buru para karyawan yang mengenakan sepatu bermerek dan aroma kopi mahal yang menguar di udara.
Bagi orang lain, ini mungkin hanya magang biasa. Namun bagiku, rekomendasi dari Baskara Group adalah tiket emas menuju stabilitas finansial. Ini adalah satu-satunya cara untuk menyeret keluargaku keluar dari lubang utang yang ditinggalkan ayah sebelum ia menghilang.
"Selly Putri?" Seorang wanita dengan kacamata berbingkai tegas menatapku dari balik meja resepsionis yang terbuat dari marmer hitam.
"Ya, saya," jawabku, berusaha memasang senyum paling profesional.
"Lant** 42. Divisi Perencanaan Strategis. Jangan terlambat, Pak Baskara tidak menyukai ketidakefisienan."
Aku mengangguk cepat, meremas tali tas bahuku. Lift membawaku naik dengan kecepatan yang membuat telingaku berdenging. Jantungku berdegup seirama dengan angka digital yang terus bertambah di atas pintu lift. Ketika pintu terbuka, suasana di lant** 42 terasa lebih sunyi, lebih dingin, dan jauh lebih mengintimidasi.
Setelah diperkenalkan secara singkat kepada manajer lapangan yang tampak terlalu sibuk untuk sekadar menanyakan nama belakangku, aku langsung diberi tugas pertama: mengantarkan dokumen revisi kontrak ke ruangan eksekutif di ujung koridor.
"Pastikan ini sampai di meja Pak Adrian sebelum pukul sepuluh," ujar Bu Widya tanpa menoleh dari layar monitornya. "Dan Selly, jangan banyak bertanya. Taruh dan langsung keluar."
Aku menerima map kulit tebal itu dengan tangan yang mulai lembap karena keringat dingin. Aku menyusuri koridor panjang berlant** karpet tebal yang meredam setiap langkah kakiku. Di ujung koridor, terdapat sebuah pintu ganda besar dari kayu m***ni gelap tanpa papan nama, namun aura kekuasaan yang memancar darinya sudah c**up menjelaskan siapa penghuninya.
Aku mengetuk pelan. Tidak ada jawaban.
Aku mengetuk sekali lagi, sedikit lebih keras. Tetap hening.
Mungkin beliau sedang di kamar mandi atau di ruang rapat kecil di dalam, pikirku. Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 09.58. Rasa takut akan kegagalan di hari pertama lebih besar daripada keraguanku. Dengan perlahan, aku memutar knop pintu yang terasa dingin di telapak tanganku.
Pintu itu terbuka tanpa suara.
Udara di dalam ruangan itu terasa berat, dipenuhi aroma maskulin yang tajamβcampuran kayu cendana dan tembakau mahal. Ruangan itu sangat luas dengan dinding kaca besar yang memperlihatkan cakrawala Jakarta yang berkabut. Namun, perhatianku tidak tertuju pada pemandangan itu.
Di balik meja kerja besar yang berantakan, aku melihatnya.
Adrian Baskara. Pria yang wajahnya sering muncul di sampul majalah bisnis sebagai "The Golden Boy of Corporate I****esia". Dia tidak sendirian. Seorang wanita dengan gaun merah ketat duduk di atas meja kerjanya, kakinya yang jenjang melingkari pinggang Adrian. Tangan Adrianβtangan yang biasanya terlihat memegang pena emas saat menandatangani kesepakatan miliaran rupiahβkini tersembunyi di balik rok wanita itu, sementara wajahnya terkubur di leher sang wanita.
Suara napas yang berat dan erangan tertahan memenuhi kesunyian ruangan yang kedap suara itu.
Duniaku seolah berhenti berputar. Map di tanganku mendadak terasa seberat beton. Aku seharusnya berbalik. Aku seharusnya lari. Tapi tubuhku mengkhianatiku; aku berdiri di sana, terpaku, menyaksikan pemandangan intim yang sangat tidak pantas di tengah jam kantor yang sibuk.
Wanita itu adalah Bianca, istrinya yang sering dipuji media karena kecantikannya yang elegan. Namun, cara mereka berinteraksi saat ini jauh dari kata elegan. Itu adalah gairah yang mentah, gelap, dan... memalukan.
Tiba-tiba, Adrian mengangkat kepalanya. Gerakannya lambat, hampir predator. Matanya yang tajam seperti elang langsung mengunci mataku. Tidak ada keterkejutan di sana. Tidak ada rasa malu. Yang ada hanyalah kilatan kegelapan yang membuat bulu kudukku berdiri.
Wanita itu, Bianca, segera merapikan gaunnya dengan wajah memerah karena amarah, namun Adrian tetap tenang. Ia melepaskan tangannya dari pinggang istrinya dan bersandar pada kursi kulitnya yang megah, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan rapat rutin, bukan baru saja tertangkap basah dalam posisi kompromitans.
"Begitukah cara mereka mengajarimu etika di universitas, Nona...?" Adrian menggantung kalimatnya, suaranya rendah dan serak, namun membawa otoritas yang mencekik.
"S-Selly," suaraku keluar seperti cicitan. "Maaf, Pak. Saya... pintunya tidak terkunci, dan saya harus mengantarkan dokumen ini..."
Aku mundur selangkah, namun kakiku tersandung ujung karpet, membuat map di tanganku terjatuh dan isinya berhamburan ke lant**. Aku segera berlutut, berusaha memunguti kertas-kertas itu dengan tangan yang gemetar hebat. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku karena rasa malu yang luar biasa.
Adrian bangkit dari kursinya. Langkah sepatunya yang mahal terdengar lambat dan berirama di atas lant** kayu yang tidak tertutup karpet di dekat meja. Ia berjalan mengitari meja, mengabaikan istrinya yang kini berdiri dengan tangan bersedekap dan tatapan menghina padaku.
Adrian berhenti tepat di depanku. Aku bisa melihat ujung sepatu kulitnya yang mengkilap.
"Angkat kepalamu, Selly," perintahnya.
Aku perlahan mendongak. Jarak kami begitu dekat sehingga aku bisa mencium aroma tubuhnya yang memabukkan sekaligus mengerikan. Ia membungkuk, mengambil satu lembar kertas yang terjatuh tepat di bawah kakinya, lalu menyodorkannya padaku.
Ujung jarinya sengaja menyentuh kulit tanganku saat aku mengambil kertas itu. Sentuhannya dingin, namun seolah mengirimkan sengatan listrik yang membuat jantungku berpacu tidak karuan.
"Kau melihat sesuatu yang tidak seharusnya kau lihat di hari pertamamu," bisiknya, c**up pelan hingga hanya aku yang bisa mendengarnya. Senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibirnyaβsenyum yang tidak mencapai matanya yang dingin.
"Kau tahu apa artinya itu bagi kariermu yang bahkan belum dimulai ini, bukan?"
Aku menelan ludah dengan susah payah. Di dalam ruangan yang mewah ini, aku tiba-tiba menyadari bahwa aku bukan lagi seorang mahasiswi magang yang sedang mengejar mimpi. Aku baru saja ma**k ke dalam kandang singa, dan pintu di belakangku baru saja tertutup rapat.
"Silakan keluar, Bianca," ujar Adrian tanpa melepaskan tatapannya dariku. "Aku perlu bicara secara pribadi dengan... asisten baru kita ini tentang kerahasiaan perusahaan."
Bianca mendengus, menyambar tas tangannya, dan keluar sambil membanting pintu. Keheningan yang menyusul setelahnya terasa jauh lebih menakutkan daripada suara apa pun.
"Duduklah, Selly," kata Adrian sambil menunjuk kursi di depan mejanya. "Mari kita bicarakan harga dari apa yang baru saja kau saksikan."
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!