Udara di dalam ruang kerja pribadi Adrian malam ini terasa lebih berat dari biasanya. Aroma maskulin yang tajamβcampuran antara kayu cendana dan wiski mahalβseolah mengepung indra penciumanku, membuat oksigen di paru-paruku terasa menipis. Jam dinding digital di atas meja jati itu menunjukkan pukul sepuluh malam. Seharusnya aku sudah berada di kos, bergelung dengan buku-buku teori ekonomi, bukan berdiri di sini, menunggu perintah pria yang telah merenggut kendali atasku.
Adrian duduk di kursi kebesarannya, namun posturnya tidak setegang biasanya. Jasnya sudah tersampir di sofa, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka dan lengan yang digulung hingga siku. Ia menyesap cairannya yang berwarna ambar perlahan, matanya menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta.
"Selly, kemarilah," suaranya rendah, nyaris menyerupai bisikan namun tetap mengandung otoritas yang tak terbantahkan.
Aku melangkah maju, tumit sepatuku beradu pelan dengan lant** marmer, menciptakan gema yang membuatku semakin gugup. "Ada dokumen lain yang perlu saya tinjau, Pak?"
Adrian terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar kering dan tanpa humor. Ia berputar, menatapku dengan mata yang tampak sedikit lebih gelap, mungkin pengaruh alkohol atau kelelahan yang luar biasa. "Kau selalu bicara tentang kerja, kerja, dan kerja. Apakah itu satu-satunya hal yang kau pikirkan untuk membayar 'hutang' kerahasiaanmu?"
Aku mengepalkan tangan di samping tubuh. "Itu yang tertulis di perjanjian kita, bukan? Saya bekerja untuk Anda, dan Anda menjamin masa depan saya tetap utuh."
Adrian berdiri, langkahnya pelan namun penuh intimidasi saat ia memutari meja. Ia berhenti tepat di depanku, begitu dekat hingga aku bisa merasakan panas yang memancar dari tubuhnya. Jemarinya yang panjang tiba-tiba terangkat, bukan untuk menyentuhku secara kasar, melainkan untuk menyelipkan sehelai rambut yang jatuh ke wajahku ke belakang telinga. Gerakannya begitu lembut, dan itu justru membuatku lebih takut daripada bentakannya.
"Kadang aku bertanya-tanya," gumamnya, matanya menelusuri wajahku seolah sedang membaca peta yang rumit. "Apakah kau benar-benar membenciku, atau kau hanya takut pada apa yang kau rasakan saat berada di dekatku?"
"Saya membenci apa yang Anda lakukan pada saya," balasku dengan suara bergetar, berusaha keras mempertahankan sisa-sisa harga diriku.
Adrian terdiam. Ia menarik tangannya, lalu kembali berjalan menuju jendela. "Ayahku dulu sering mengatakan hal yang sama. Bahwa dunia ini hanya tentang siapa yang memegang kendali dan siapa yang dikendalikan. Tidak ada ruang di antaranya."
Aku tertegun. Ini pertama kalinya ia menyebut tentang keluarganya secara personal.
"Dia mendidikku untuk menjadi mesin," lanjut Adrian, suaranya terdengar jauh. "Setiap kali aku gagal mendapatkan peringkat pertama di sekolah, dia akan mengunciku di ruang bawah tanah tanpa lampu selama berjam-jam. Dia ingin aku terbiasa dengan kegelapan, agar aku tidak takut pada sisi gelap bisnis ini kelak."
Aku menelan ludah. Bayangan Adrian kecil yang ketakutan di ruang gelap entah mengapa menusuk sesuatu di dalam dadaku. "Itu... itu kejam."
Adrian berbalik, senyum miring tersungging di bibirnya yang tipis. "Kejam? Mungkin. Tapi lihat aku sekarang. Aku memiliki segalanya, Selly. Baskara Group, kekuasaan, dan kau." Ia melangkah mendekat lagi, kali ini tatapannya lebih intens, seolah sedang menelanjangi jiwaku. "Tapi ada satu hal yang tidak pernah ia ajarkan padaku. Bagaimana cara berhenti saat aku menemukan sesuatu yang... menarik."
Tangannya kini mendarat di bahuku, berat dan posesif. "Kau tidak seperti perempuan lain yang pernah kutemui. Mereka menginginkan uangku, namaku. Tapi kau? Kau menatapku seolah aku adalah monster yang ingin kau hancurkan, namun di saat yang sama, kau membutuhkan perlindunganku."
Logikaku berteriak agar aku menjauh, namun kakiku terasa seolah terpaku di lant**. Kerentanan yang baru saja ia tunjukkanβcerita tentang masa kecilnyaβterasa seperti umpan yang sangat manis sekaligus beracun. Aku melihat gurat kelelahan di bawah matanya, sebuah retakan kecil di topeng porselen sang CEO yang sempurna. Entah mengapa, dorongan untuk menyentuh lengannya, untuk mengatakan bahwa ia tidak perlu menjadi mesin, muncul di benakku.
Aku goyah. Pertahananku yang kubangun dengan kebencian selama berminggu-minggu mulai menunjukkan retakan.
"Adrian..." aku memanggil namanya tanpa sadar, bukan dengan sebutan formal seperti biasanya.
Mendengar namanya kusebut, tatapan Adrian berubah tajam. Ia menarikku lebih dekat hingga dadaku bersentuhan dengan kemejanya. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang, selaras dengan milikku. Untuk sesaat, suasana mencekam itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya: ketegangan seksual yang kental.
Wajahnya merunduk, napasnya yang beraroma wiski menerpa bibirku. "Katakan lagi, Selly. Sebut namaku sekali lagi tanpa rasa takut."
Aku baru saja akan membuka mulut, mungkin untuk menyerah pada tarikan magnetisnya, ketika tiba-tiba ponsel di atas meja bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama yang seketika menyiramku dengan air es.
*Bianca.*
Suara getaran itu seperti lonceng peringatan di tengah mimpi buruk. Aku tersentak mundur, melepaskan diri dari cengkeramannya dengan napas tersengal. Adrian menatap ponselnya dengan ekspresi yang berubah menjadi dingin dan datar dalam sekejap. Sisi manusiawi yang baru saja kulihat menguap, digantikan oleh dinding es yang tak tertembus.
"Pulanglah, Selly," ucapnya tanpa melihatku, suaranya kembali menjadi perintah yang kaku. "Sopir sudah menunggumu di bawah."
Aku berbalik dan nyaris berlari menuju pintu, jantungku masih berpacu liar. Saat tanganku memutar knop pintu, aku menoleh sedikit ke belakang. Adrian sedang mengangkat telepon itu, suaranya terdengar lembut saat menyapa istrinya, kontras dengan intensitas yang baru saja ia tumpahkan padaku.
Aku keluar dari ruangan itu dengan perasaan muak pada diriku sendiri. Aku hampir saja kasihan padanya. Aku hampir saja lupa bahwa pria itu adalah seorang pemangsa yang hanya sedang menunjukkan luka-lukanya agar mangsanya lengah.
Namun, saat aku melangkah di lobi kantor yang sepi, sebuah pesan ma**k ke ponselku dari nomor yang tidak kukenal.
*Aku tahu apa yang terjadi di ruangan itu malam ini, Selly. Jangan berpikir kau bisa bermain api dengan suamiku tanpa terbakar.*
Langkahku terhenti seketika. Aku menoleh ke sekeliling, namun hanya ada satpam di kejauhan yang sedang berjaga. Tanganku gemetar hebat saat menyadari bahwa perjanjian kerahasiaan ini bukan lagi sekadar antara aku dan Adrian. Seseorang sedang mengawasiku dari kegelapan, dan permainan ini baru saja menjadi jauh lebih mematikan.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!