Gelas kristal di tanganku terasa dingin, sebanding dengan hawa AC yang berembus pelan di ruangan VIP restoran *fine dining* ini. Aku memutar-mutar sisa Pinot Noir yang berwarna merah pekat, memperhatikannya membasahi dinding kaca sebelum kembali menggenang. Di seberang meja, kursi kosong itu seolah sedang mengejekku, menanti sosok yang sebentar lagi akan kuhancurkan perlahan-lahan.
Pintu geser kayu ek itu terbuka. Seorang pelayan membungkuk hormat, diikuti oleh gadis itu.
Selly.
Dia tampak seperti anak kucing yang tersesat di sarang serigala. Kemeja putihnya rapi, tapi aku bisa melihat kerutan halus di ujung lengannya—tanda bahwa dia terus-menerus meremas tangannya sepanjang perjalanan ke sini. Wajahnya pucat, matanya yang besar menyapu ruangan dengan kegelisahan yang coba ia sembunyikan di balik topeng profesionalisme yang rapuh.
"Duduklah, Selly. Kau membuat ruangan ini terasa sempit jika hanya berdiri di sana," ucapku tenang, tanpa mengalihkan pandangan dari gelas wine-ku.
Selly menarik kursi dengan gerakan kaku. Suara gesekan kaki kursi di atas lant** marmer terdengar begitu nyaring di telingaku. "Terima kasih, Ibu Bianca. Saya... saya merasa terhormat atas undangan makan siang ini."
Aku meletakkan gelas dengan denting halus. Aku menatapnya lurus-lurus, memindai setiap jengkal ekspresinya. Dia cantik, aku harus mengakuinya. Kecantikan yang murni, tipe yang disukai pria seperti Adrian untuk dikotori. Ada aroma ketakutan yang menguar darinya, bercampur dengan parfum murah yang menusuk hidungku yang terbiasa dengan aroma *niche*.
"Jangan terlalu formal," kataku sambil tersenyum—senyum yang sering kugunakan di sampul majalah bisnis, yang orang-orang kira sebagai keramahan, padahal itu hanyalah barisan pagar besi. "Kita hanya dua wanita yang berbagi waktu. Lagipula, Adrian sangat memujimu. Katanya, kau magang yang paling... berdedikasi."
Selly tersedak udara, lalu berdehem cepat. "Pak Adrian terlalu baik. Saya hanya melakukan tugas saya."
"Tugasmu," ulangku, membiarkan kata itu menggantung di udara. Makanan pembuka datang—*carpaccio* daging sapi dengan taburan *truffle*. Aku memotong daging tipis itu dengan gerakan presisi. "Katakan padaku, Selly. Apa tugas seorang mahasiswi tingkat akhir melibatkan pertemuan pribadi di ruang CEO hingga larut malam? Atau mungkin, menemani bosnya di saat-saat yang seharusnya tidak disaksikan oleh siapa pun?"
Warna di wajah Selly seketika lenyap. Dia meraih gelas air putihnya dengan tangan yang sedikit gemetar. "Saya tidak mengerti maksud Ibu. Semua pekerjaan saya selalu dalam koridor profesional."
"Berhenti bersikap bodoh," suaraku merendah, dingin dan tajam seperti mata pisau yang baru diasah. Aku meletakkan garpuku. "Aku mengenal suamiku lebih baik daripada dia mengenal dirinya sendiri. Adrian itu seperti api; dia menarik, tapi dia akan membakar siapa pun yang terlalu dekat. Dan kau... kau terlihat seperti seseorang yang baru saja hangus."
"Ibu Bianca, jika ini mengenai rumor di kantor—"
"Ini bukan tentang rumor!" aku memotong kalimatnya dengan satu hentakan tangan di meja. Aku mencondongkan tubuh, aroma parfum mahalku kini menyerang ruang pribadinya. "Ini tentang posisi. Kau hanyalah seorang gadis kecil dari keluarga kelas menengah yang sedang berjuang, bukan? Ayahmu yang sakit-sakitan, hutang pinjaman pendidikan yang menumpuk... Aku tahu segalanya, Selly."
Mata Selly membelalak. Pupilnya melebar, dan aku tahu aku telah mengenai saraf yang tepat. Ketakutan adalah bahasa yang paling mudah kupahami.
"Kau pikir Adrian akan melindungimu jika skandal ini meledak?" tanyaku retoris. Aku mengambil ponselku, menggeser layar untuk menunjukkan foto-foto buram yang diambil oleh mata-mataku—foto Selly yang keluar dari ruangan Adrian dengan wajah kacau beberapa malam lalu. "Reputasi adalah segalanya di dunia ini. Jika aku menjentikkan jari, namamu akan ma**k dalam daftar hitam di setiap perusahaan di negara ini. Kau tidak akan lulus, kau tidak akan mendapat pekerjaan, dan keluargamu... bayangkan malu yang harus mereka tanggung saat tahu putri kebanggaan mereka hanyalah pemuas nafsu di balik meja kantor."
Selly menelan ludah dengan susah payah. Aku bisa melihat air mata mulai menggenang di sudut matanya, tapi dia menahannya. Dia punya nyali, aku harus memberikan pujian untuk itu.
"Apa yang Ibu inginkan?" suaranya bergetar, nyaris berupa bisikan.
Aku bersandar kembali ke kursiku, merasa menang. "Aku ingin kejujuran. Aku ingin kau mengakui setiap detil menjijikkan dari perjanjianmu dengan Adrian. Aku ingin tahu apa yang dia janjikan padamu sebagai imbalan atas diammu. Jika kau bekerja sama denganku, aku bisa memastikan keluargamu tetap aman. Aku bahkan bisa melunasi semua beban finansialmu."
Selly menunduk, bahunya gemetar. "Pak Adrian... dia tidak seperti yang Ibu pikirkan."
"Oh, jangan coba-coba membelanya di depanku!" bentakku, kesabaranku mulai menipis. "Katakan yang sebenarnya! Apakah dia menyentuhmu? Apakah dia memaksamu? Ataukah kau yang dengan sengaja menjual dirimu demi karier yang cepat?"
Selly mengangkat wajahnya. Air matanya kini luruh, membasahi pipinya yang mulus. "Ibu tidak tahu apa yang saya alami. Ada... ada dokumen yang saya tandatangani. Saya tidak bisa bicara."
Aku tertawa sinis. "Perjanjian Kerahasiaan? Adrian memang selalu rapi. Tapi ingat, Selly, perjanjian itu hanya selembar kertas di hadapan kekuasaan keluarga Baskara yang sesungguhnya. Aku adalah seorang Baskara lewat pernikahan, dan aku punya lebih banyak cara untuk menghancurkanmu daripada dia bisa menyelamatkanmu."
Aku merogoh tas tanganku, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dan melemparkannya ke atas meja, tepat di depan piringnya yang masih utuh.
"Di dalam sana ada det**l aset keluargamu yang diagunkan di bank. Salah satu bank itu berada di bawah kontrol yayasan keluargaku," aku tersenyum manis, senyum yang paling beracun yang kupunya. "Satu telepon dariku, dan ibumu akan kehilangan atap di atas kepalanya besok pagi. Jadi, kuperingatkan sekali lagi. Akui semuanya sekarang, atau kau akan menyaksikan duniamu runtuh sebelum makanan penutup disajikan."
Selly menatap amplop itu seolah-olah itu adalah bom yang siap meledak. Tangannya terulur, menyentuh pinggiran amplop dengan jari yang bergetar hebat. Dia membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu, namun tiba-tiba ponselnya di atas meja bergetar.
Layar ponsel itu menyala. Sebuah pesan singkat muncul di sana, c**up jelas untuk kubaca dari posisiku.
*Pesan dari: Adrian.*
*"Jangan katakan sepatah kata pun padanya. Aku sedang menuju ke sana."*
Aku menatap layar itu, lalu kembali menatap mata Selly yang kini dipenuhi ketakutan baru. Amarah membakar dadaku. Jadi, suamiku bahkan berani memasang mata-mata untuk melindungi 'properti' kecilnya ini dariku?
Aku meraih ponsel Selly sebelum dia sempat menyentuhnya, lalu membantingnya ke dalam gelas wine-ku. Cairan merah itu menyiram perangkat elektronik tersebut, mematikan layarnya seketika.
"Sepertinya," kataku dengan suara yang sangat tenang namun mematikan, "permainan ini baru saja menjadi jauh lebih menarik. Kau punya sepuluh detik sebelum aku menghubungi pihak bank, Selly. Pilih sekarang: Adrian, atau ibumu?"
Selly terisak, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, sementara aku menunggu dengan jari yang sudah siap menekan tombol panggil di ponselku sendiri. Keheningan di ruangan itu terasa begitu mencekik, hanya dipecah oleh suara langkah kaki yang terburu-buru di lorong luar menuju kamar VIP kami.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!