Jantungku berdegup kencang, iramanya tidak beraturan, seperti mesin tua yang dipaksa bekerja melampaui batas. Setiap kali pintu lift berdenting, bahuku berjengit. Aku menunduk sedalam mungkin, membenamkan wajah di balik layar monitor yang menampilkan barisan angka-angka laporan keuangan yang mulai mengabur di mataku.
Peringatan Bianca kemarin masih terngiang jelas, sedingin es yang merambat di punggungku. *βJangan pernah berpikir kau bisa memiliki apa yang menjadi milikku, Selly. Gadis sepertimu mudah sekali dilenyapkan.β*
Kata-kata itu bukan sekadar gertakan. Aku melihat kilat keg***an di mata wanita itu. Maka hari ini, rencanaku sederhana: menjadi bayangan. Aku datang lebih pagi, tidak pergi ke kantin saat makan siang, dan kini, saat jarum jam merangkak menuju angka lima, aku sudah merapikan tas. Aku harus pergi sebelum Adrian menyadari kehadiranku. Aku harus menghilang sebelum pria itu memanggilku ke ruangannya yang pengap oleh aroma kekuasaan dan obsesi.
"Selly."
Suara bariton itu rendah, namun sanggup menghentikan gerakan tanganku yang baru saja akan meraih tas selempang. Aku memejamkan mata sejenak, merutuki nasib. Aroma *sandalwood* dan tembakau mahal yang khas itu mulai merayap ma**k ke indra penciumanku, menandakan pemiliknya sudah berdiri tepat di belakang kursiku.
Aku berbalik perlahan, memaksakan sebuah senyum tipis yang terasa kaku di wajahku. "Ya, Pak Adrian? Saya baru saja hendak pulang karena jam kantor sudah berakhir."
Adrian Baskara berdiri di sana dengan angkuh. Kemeja putihnya yang mahal digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan kronograf yang berkilau di bawah lampu flouresens. Matanya yang tajam mengunci tatapanku, seolah dia bisa membaca setiap rencana pelarian yang baru saja kususun di kepala.
"Pulang?" Adrian mengulang kata itu dengan nada mengejek. Ia melangkah maju, memaksaku mundur hingga pinggiran mejaku menekan pinggang. "Aku tidak ingat memberikan izin bagimu untuk pergi."
"Tapi pekerjaan saya sudah selesai, Pak. Semua laporan yang Anda minta tadi pagi sudah saya kirim ke email sekretaris Anda," suaraku sedikit bergetar, meski aku berusaha keras untuk terdengar profesional.
Adrian mengulurkan tangan, bukan untuk mengambil sesuatu di mejaku, melainkan untuk menyisir helai rambut yang jatuh di pipiku. Jarinya yang dingin menyentuh kulitku, mengirimkan sensasi listrik yang membuatku merinding ketakutanβdan sesuatu yang lain yang enggan kuakui. Aku segera memalingkan wajah.
"Kau menghindariku seharian ini, Selly," bisiknya, kini selangkah lebih dekat. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang kontras dengan hawa dingin AC kantor. "Kenapa? Apa karena istriku menemuimu?"
Napas rimbas di leherku. Aku menelan ludah dengan susah payah. "Saya tidak tahu apa maksud Anda. Saya hanya ingin fokus bekerja."
"Bohong," potongnya cepat. Adrian meletakkan kedua tangannya di atas meja, mengurungku di antara tubuhnya dan kayu jati meja kantor. "Wajahmu pucat setiap kali melihatku. Kau ketakutan. Tapi sayangnya, ketakutanmu justru membuatku ingin menahanmu di sini lebih lama."
"Tolong, Pak Adrian... Bianca..."
"Jangan sebut nama itu," geramnya. Matanya menggelap, memancarkan aura posesif yang menyesakkan. "Di gedung ini, kaulah yang harus mematuhiku. Perjanjian kerahasiaan kita masih berlaku, dan aku memutuskan bahwa malam ini, kau harus lembur. Ada berkas pengakuisisian proyek di Surabaya yang harus kau tinjau ulang bersamaku. Di ruanganku. Sekarang."
"Tapi ini sudah di luar jam kerja magang saya!" protesku, mencoba mencari celah untuk lari.
Adrian terkekeh, suara yang terdengar berbahaya di telingaku. Ia menegakkan tubuh, lalu merapikan dasinya seolah-olah percakapan ini hanyalah obrolan sant** tentang cuaca. "Kau lupa poin ketujuh dalam kontrak yang kau tanda tangani, Selly? 'Pihak kedua wajib bersedia memenuhi kebutuhan profesional pihak pertama kapan pun diperlukan'. Dan saat ini, aku sangat membutuhkanmu."
Ia berbalik dan berjalan menuju lift pribadinya tanpa menoleh lagi, seolah yakin seratus persen bahwa aku tidak punya pilihan selain mengikuti. "Sepuluh menit, Selly. Jika kau tidak ada di ruanganku, aku akan memastikan beasiswamu dicabut besok pagi karena pelanggaran etika magang."
Aku berdiri terpaku di samping mejaku yang kosong. Kantor mulai sepi; satu per satu rekan kerjaku pergi dengan tawa ringan, tidak tahu bahwa di sudut ini, aku sedang dijerat oleh rant** tak kasatmata.
Dengan tangan gemetar, aku mengambil tasku dan berjalan menuju ruangan Adrian. Koridor lant** eksekutif itu terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Lampu-lampu mulai meredup otomatis, meninggalkan cahaya temaram yang menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding.
Saat aku mendorong pintu kaca besar ruangannya, aku mendapati Adrian sedang duduk di sofa kulitnya yang lebar, bukan di balik meja kerja. Sebuah botol wiski terbuka di atas meja kaca, dan hanya ada satu lampu meja yang menyala, memberikan kesan intim yang sangat tidak kuinginkan.
"Duduk, Selly," perintahnya tanpa menatapku.
Aku duduk di kursi kayu yang paling jauh darinya, namun ia mendengus tidak suka. "Di sini. Di sampingku."
"Pak, saya bisa membaca berkasnya dari siniβ"
"Jangan membuatku mengulang perintah," suaranya merendah, peringatan yang jelas.
Aku bangkit dengan kaki terasa seberat timah dan duduk di ujung sofa, menyisakan jarak sejauh mungkin. Adrian meletakkan sebuah map tebal di pangkuanku, tapi saat aku hendak membukanya, tangannya yang besar mendarat di atas tanganku, menahannya.
"Bianca tidak akan menyentuhmu selama kau berada di bawah perlindunganku," ucapnya tiba-tiba, matanya menatap lurus ke mataku. "Tapi sebagai gantinya, kau tidak boleh lari dariku lagi. Mengerti?"
Aku merasakan cengkeramannya menguat, tidak menyakitkan, tapi menunjukkan dominasi yang mutlak. Aku terjepit di antara ancaman Bianca yang mematikan dan obsesi Adrian yang mencekik.
Tiba-tiba, ponsel di atas meja bergetar. Sebuah nama muncul di layar: *Bianca Calling*.
Adrian melirik ponsel itu, lalu menatapku dengan senyum miring yang mengerikan. Alih-alih mengangkatnya, ia mematikan ponsel itu dan melemparnya ke sisi lain sofa.
"Biarkan dia mencariku," bisiknya sambil mulai mendekatkan wajahnya ke ceruk leherku. "Malam ini, kau tidak akan pergi ke mana-mana."
Aku mematung saat merasakan bibirnya menyentuh kulitku, menyadari bahwa pelarianku hari ini justru membawaku ma**k lebih dalam ke dalam perangkap yang sengaja ia pasang. Di luar sana, malam semakin gelap, dan aku tahu, pintu ruang kerja ini telah terkunci secara otomatis.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!