Lampu-lampu neon di langit-langit kantor Baskara Group telah meredup, menyisakan pencahayaan minimal yang memberikan bayangan panjang dan tajam di atas karpet abu-abu tua. Selly duduk mematung di meja kerjanya yang terletak tepat di depan pintu ganda m***ni ruangan Adrian. Detak jam dinding di lobi terdengar seperti dentuman palu di telinganya—ritmis, menuntut, dan seolah menghitung mundur waktu yang ia miliki sebelum keberaniannya menguap.
Jantungnya berdegup kencang hingga ia bisa merasakan denyutnya di ujung jari. Di hadapannya, layar komputer masih menyala, memancarkan cahaya biru yang membuat wajahnya tampak pucat dan lelah. Adrian sedang menghadiri jamuan makan malam formal dengan dewan direksi, sebuah acara yang ia tahu akan berlangsung hingga larut malam. Ini adalah satu-satunya kesempatan Selly.
"Hanya sekali ini," bisiknya pada keheningan yang menyesakkan. "Cari sesuatu, Selly. Apapun yang bisa menghentikan keg***an ini."
Tangannya gemetar saat ia mema**kkan kode akses cadangan yang sempat ia intip beberapa hari lalu saat Adrian sedang lengah. Selly benci betapa mudahnya ia menjadi seorang pengamat—sebuah bakat yang dulu ia banggakan, namun kini terasa seperti kutukan. *Klik.* Folder sistem internal perusahaan terbuka.
Ia tahu mencari bukti di folder utama adalah tindakan bunuh diri. Adrian terlalu cerdik untuk menyimpan noda di tempat terbuka. Selly mulai menelusuri direktori yang lebih dalam, melewati ratusan dokumen kontrak, laporan audit tahunan yang membosankan, dan memo internal yang tampak wajar.
Napasnya tertahan saat ia menemukan sebuah folder tersembunyi yang terkubur di dalam arsip proyek "Baskara Land 2021" yang seharusnya sudah ditutup. Folder itu tidak memiliki nama, hanya sebuah simbol titik kecil yang hampir tak terlihat.
Dengan sisa keberaniannya, Selly membukanya.
Deretan angka dan tabel Excel muncul di layar. Awalnya, semuanya tampak seperti laporan keuangan biasa. Namun, sebagai mahasiswi akuntansi tingkat akhir dengan ketajaman analisis yang di atas rata-rata, Selly segera menyadari ada sesuatu yang ganjil. Aliran dana dari proyek pembangunan infrastruktur tidak mengarah ke vendor yang terdaftar. Sebaliknya, miliaran rupiah mengalir ke sebuah perusahaan cangkang bernama *Luminous Holdings*.
"Apa ini?" gumamnya, matanya bergerak cepat memindai setiap baris transaksi.
Selly membuka dokumen PDF pendukung di folder yang sama. Itu adalah pindaian kuitansi dan instruksi transfer manual yang ditandatangani secara digital. Napasnya tercekat. Nama yang tertera di sana bukan hanya Adrian, tapi ada serangkaian transaksi yang sengaja dibuat tumpang tindih untuk menyamarkan penggelapan dana pajak dan pencucian uang dari dana investasi publik.
Ini bukan sekadar skandal asmara atau penyalahgunaan wewenang terhadap pemagang. Ini adalah kejahatan korporasi skala besar.
"Kau sedang bermain dengan api yang jauh lebih besar, Adrian," desis Selly. Rasa takut yang sedari tadi menghantuinya perlahan berganti dengan sensasi dingin yang mematikan. Jika ia memiliki bukti ini, perjanjian kerahasiaan yang menjeratnya akan menjadi tak berarti. Ia bisa menghancurkan Adrian dalam satu malam.
Tangannya bergerak cepat, meraih *flashdisk* dari tasnya. Ia mema**kkannya ke *port* USB dan mulai menyalin data tersebut. Bilah kemajuan di layar tampak bergerak sangat lambat. *10%... 20%...*
Tiba-tiba, suara langkah kaki bergema di lorong sunyi di luar. Langkah itu berat, berwibawa, dan sangat ia kenal.
*Tap. Tap. Tap.*
Darah Selly terasa membeku. Ia segera mematikan monitor, namun proses penyalinan data tidak boleh terputus. Cahaya kecil di *flashdisk*-nya berkedip-kedip merah di balik kegelapan di bawah meja, seolah mengejek kepanikannya.
Pintu kaca di ujung lorong berdecit terbuka. Selly segera merosot ke bawah meja, bersembunyi di ruang sempit di antara kakinya sendiri, memeluk lututnya erat-erat. Ia bisa mendengar pintu ruangan Adrian terbuka. Aroma parfum maskulin yang tajam dan mahal—campuran *sandalwood* dan *black pepper*—langsung menyeruak ma**k, memenuhi indra penciumannya.
Adrian sudah kembali.
Selly menutup mulut dengan kedua tangannya, berusaha meredam suara napasnya yang memburu. Dari celah sempit di bawah meja, ia bisa melihat sepatu pantofel hitam mengkilap milik Adrian melangkah perlahan menuju meja kerja.
Pria itu berhenti tepat di depan kursinya. Selly bisa mendengar suara gesekan kain saat Adrian melepaskan jasnya. Kemudian, keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian.
"Aku tahu kau belum pulang, Selly," suara Adrian rendah, tenang, namun mengandung getaran dominasi yang membuat bulu kuduk Selly berdiri. "Komputermu masih hangat."
Selly memejamkan mata rapat-rapat. Jantungnya berdentum begitu keras hingga ia takut Adrian bisa mendengarnya. Di atas sana, di balik monitor yang mati, lampu *flashdisk* itu masih berkedip. *95%... 98%...*
Suara kursi berderit saat Adrian duduk. "Sangat rajin untuk seorang pemagang. Atau mungkin... kau sedang mencari sesuatu yang bukan milikmu?"
Selly merasakan getaran di atas meja tepat di atas kepalanya. Adrian meletakkan sesuatu di sana—mungkin ponselnya, atau mungkin kunci ruangannya. Tepat saat itu, bunyi *bip* halus terdengar dari CPU komputer, menandakan proses penyalinan data telah selesai.
Di dalam kegelapan di bawah meja, Selly tahu ia hanya punya dua pilihan: keluar dan menyerahkan diri, atau terus bersembunyi sambil berdoa agar Adrian tidak menunduk. Namun, taruhannya kini bukan lagi sekadar kontrak magang. Ia memegang bom waktu di tangannya, dan Adrian baru saja menyalakan pemantiknya.
Langkah kaki Adrian kembali terdengar, kali ini bergerak mengitari meja, menuju tempat Selly meringkuk. Sepatu itu berhenti tepat di samping kakinya. Selly menahan napas, air mata keputusasaan mulai menggenang di sudut matanya saat ia melihat tangan Adrian perlahan turun, seolah hendak memungut sesuatu yang jatuh di lant**.
"Ketemu," bisik Adrian.
Dunia Selly seakan runtuh saat ia melihat wajah Adrian muncul di balik celah meja, menatap langsung ke matanya dengan seringai yang tidak menunjukkan keramahan sedikit pun. Di tangan pria itu, bukan kunci yang ia pegang, melainkan kabel *flashdisk* yang terjunt** dari komputernya.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!