Gelas kristal di tanganku terasa dingin, berbanding terbalik dengan panas yang menjalar di dadaku saat menatap deretan angka di layar monitor. Aku baru saja memenangkan tender pengembangan kawasan komersial di jantung Jakarta, sebuah proyek yang telah lama menjadi ambisi pribadiku. Kemenangan ini bukan hanya soal profit, melainkan tentang pengukuhan kekuasaanku di Baskara Group. Dan semua ini, sebagian besar berkat ketelitian Selly dalam menyisir celah di draf kontrak lawan.
Aku memutar kursi, menatap gadis yang berdiri kaku di sudut ruangan itu. Selly tampak letih. Rambutnya sedikit berantakan, dan lingkaran hitam tipis di bawah matanya adalah bukti dari malam-malam tanpa tidur yang aku paksakan padanya. Namun, di mataku, dia tidak pernah terlihat lebih memikat daripada saat iniβsaat dia hancur sekaligus bersinar di bawah kendaliku.
"Kemarilah, Selly," ucapku, suaraku rendah dan serak, membelah kesunyian ruang kerja yang hanya diterangi lampu meja yang redup.
Selly ragu sejenak sebelum melangkah mendekat. Setiap langkahnya terdengar pelan di atas karpet tebal, seolah dia takut membangunkan monster yang sedang beristirahat. "Ya, Pak Adrian?"
Aku menuangkan cairan amber dari botol Macallan ke gelas kedua. "Minumlah. Kita merayakan kemenangan malam ini."
"Saya tidak minum alkohol, Pak. Dan ini sudah hampir tengah malam. Saya pikir tugas saya sudah selesai," jawabnya dengan nada formal yang selalu ia gunakan untuk membentengi dirinya.
Aku berdiri, perlahan berjalan mengitari meja besarku hingga jarak di antara kami menguap. Aku bisa mencium aroma samar vanila dari parfum murahnya, aroma yang entah bagaimana mulai mengganggu konsentrasiku setiap harinya. Aku menyodorkan gelas itu tepat di depan bibirnya.
"Tugasmu selesai saat aku mengatakannya selesai," bisikku, menikmati cara pupil matanya melebar karena terkejut. "Satu tegukan saja. Anggap ini perintah atasan, atau... anggap ini apresiasi untuk kerja kerasmu yang luar biasa."
Selly menatap gelas itu, lalu menatapku. Tangannya gemetar saat ia mengambil gelas itu dari tanganku. Kulit kami bersentuhan, dan aku bisa merasakan sengatan listrik yang sudah lazim terjadi belakangan ini. Dia menyesap sedikit, wajahnya mengernyit saat rasa pahit dan panas menyentuh tenggorokannya.
"Pintar," pujiku, tanganku tanpa sadar merayap ke pinggangnya, menariknya lebih dekat hingga tidak ada celah tersisa.
"Pak Adrian, tolong..." Suaranya bergetar, tapi dia tidak mendorongku. Itulah yang menarik. Dia benci posisinya, tapi dia terpikat oleh kekuatan yang aku tawarkanβatau mungkin, dia terlalu takut untuk melawan.
Aku menyapukan jempolku di sepanjang garis rahangnya. "Kau tahu, Selly? Tanpa analisis tajammu soal celah pajak itu, dewan direksi mungkin akan tetap ragu. Kau baru saja menyelamatkan jutaan dolar perusahaan. Kau ingin bonus? Apartemen baru? Atau mungkin... aku bisa menghapus semua hutang keluargamu malam ini juga."
Wajahnya mendongak, matanya berkaca-kaca karena perpaduan antara harapan dan keputusasaan. "Apa yang Anda inginkan sebagai gantinya?"
Aku tersenyum tipis, sebuah senyum yang biasanya membuat lawan bisnisku gemetar. "Aku ingin kau menyadari bahwa tempatmu adalah di sini. Di sisiku. Bukan sebagai magang, tapi sebagai milikku."
Saat aku menundukkan kepala, membiarkan napasku membelai kulit lehernya, sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan.
*Klik.*
Suara itu berasal dari luar pintu jati yang kokoh. Itu adalah suara kunci yang diputar pelan. Jantungku berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena adrenalin murni. Aku tahu jadwal patroli gedung ini, dan seharusnya jam satu pagi adalah waktu bagi staf keamanan untuk memeriksa lant** eksekutif.
"Ada orang di sana?" Sebuah suara berat terdengar dari balik pintu, diikuti oleh cahaya senter yang menembus celah bawah pintu, menyapu lant** gelap ruangan ini.
Selly terkesiap, tubuhnya menegang hebat. "Pak, itu keamanan. Kalau mereka melihat saya di sini jam segini, dalam posisi seperti ini..." Suaranya nyaris hilang karena panik. Jika mereka ditemukan, reputasiku mungkin bisa kutangani, tapi Selly? Dia akan hancur. Bianca, istriku yang penuh curiga, pasti akan mencium bau skandal ini dalam hitungan jam.
Aku segera membekap mulutnya dengan telapak tanganku, sementara tangan lainnya memeluk pinggangnya dengan erat, menariknya ma**k ke dalam ruang istirahat pribadiku yang tersembunyi di balik panel dinding kayu.
Kami berdiri di kegelapan total, napas kami beradu. Aku bisa merasakan jantung Selly berdegup kencang di balik kemeja tipisnya, seperti burung yang terperangkap dalam sangkar.
Di luar, langkah kaki sepatu bot yang berat bergema di atas lant** marmer. *Tap. Tap. Tap.*
Senter itu menyinari meja kerjaku, melewati gelas-gelas kristal yang masih berisi minuman. Aku menahan napas, menempelkan tubuhku sepenuhnya pada tubuh Selly untuk memastikan dia tidak bergerak seinci pun. Dalam kegelapan yang menyesakkan itu, ketakutan Selly terasa begitu nyata, begitu juga dengan gairah yang meledak di dalam diriku. Bahaya ini adalah candu.
"Aneh," gumam petugas keamanan itu. "Lampu meja masih nyala."
Gagang pintu ruang kerja sempat berputar, namun karena aku telah menguncinya dari dalam sebelum Selly ma**k, pintu itu tetap tertutup. Beberapa detik terasa seperti berjam-jam. Akhirnya, langkah kaki itu menjauh, dan suara pintu luar yang tertutup menandakan dia sudah pergi.
Aku tidak segera melepaskan Selly. Sebaliknya, aku mempererat dekapanku. Di dalam ruangan sempit itu, hanya ada kami berdua dan sisa-sisa adrenalin yang belum surut.
"Dia sudah pergi," bisik Selly, suaranya parau, berusaha melepaskan diri.
Aku memutar tubuhnya dalam kegelapan, menyudutkannya ke dinding lemari yang dingin. "Kau benar-benar takut tertangkap, bukan? Memikirkan apa yang akan dilakukan Bianca jika dia tahu kau ada di sini bersamaku di jam seperti ini?"
Selly tidak menjawab, tapi aku bisa merasakan tubuhnya gemetar.
"Ketakutan itu yang membuatmu tetap hidup, Selly. Itu yang membuat permainan ini menarik," kataku sambil mendekatkan wajahku ke telinganya. "Tapi kau harus tahu satu hal. Rahasia ini bukan lagi hanya soal apa yang kau lihat di hari pertama magangmu. Sekarang, kau adalah bagian dari rahasia itu sendiri."
Aku melepaskannya dengan kasar saat lampu otomatis di ruang istirahat menyala karena sensor gerak. Selly tampak pucat, matanya liar mencari jalan keluar.
"Pulanglah. Sopirku sudah menunggumu di lobi bawah," titahku dengan nada dingin yang tiba-tiba kembali.
Tanpa sepatah kata pun, dia menyambar tasnya dan berlari keluar dari ruangan itu seolah-olah i**** sedang mengejarnya. Aku kembali ke kursiku, menyesap sisa Macallan-ku yang kini terasa hambar.
Ponselku di atas meja bergetar. Sebuah pesan ma**k dari nomor yang tidak kukenal, berisi sebuah foto buram yang diambil dari kejauhan. Foto itu menunjukkan mobil Selly yang terparkir di basement gedung kantor ini tengah malam, dengan bayangan seseorang yang memperhatikannya dari balik pilar.
Senyumku menghilang. Permainan ini baru saja menjadi jauh lebih rumit daripada yang kubayangkan. Seseorang sedang mengawasi kami, dan orang itu mungkin bukan hanya ingin menghancurkan karier Selly, tapi juga ingin meruntuhkan takhta yang baru saja kuperkuat.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!