Detak jantungku terasa seperti tabuhan genderang yang bertalu-talu di rongga dada, bergema hingga ke ujung jemari yang gemetar. Dalam remang cahaya bulan yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit apartemen *penthouse* ini, sosok Adrian Baskara tampak seperti pahatan marmer yang sempurna namun mematikan. Ia tertidur lelap di sampingku, napasnya teratur dan dalam, kontras dengan nafasku yang pendek dan tersengal karena kepanikan yang tertahan.
Perlahan, aku menggeser lengannya yang kokoh dari pinggangku. Kulitnya terasa hangat, sebuah kehangatan yang selama beberapa jam terakhir telah membuatku lupa pada kenyataan pahit bahwa aku hanyalah pion dalam permainannya. Saat jemariku menyentuh permukaan bantal yang dingin, aku berhenti sejenak, menahan napas. Adrian bergumam pelan dalam tidurnya, alisnya sedikit bertaut, namun ia tidak terbangun.
Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap punggungnya yang lebar. Di sinilah letak kehancuranku. Pria ini telah merenggut martabatku, mengikatku dengan kontrak yang mencekik, dan memaksaku ma**k ke dalam dunianya yang gelap dan manipulatif. Seharusnya aku membencinya dengan setiap serat sel di tubuhku. Namun, saat aku melihat wajahnya yang tampak begitu tenangβbegitu rapuh tanpa topeng arogansi yang biasa ia kenakanβsebuah rasa sakit yang tajam menusuk ulu hatiku.
Aku mencint**nya.
Kesadaran itu menghantamku seperti godam, membuatku hampir kehilangan keseimbangan. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin aku jatuh cinta pada monster yang menghancurkan masa depanku? Aku mencint** caranya menatapku saat ia mengira aku tidak melihat. Aku mencint** otoritas yang menguar dari setiap kata-katanya, bahkan saat kata-kata itu menyakitiku. Ini adalah pengkhianatan terbesar terhadap diriku sendiri.
"Bodoh," bisikku nyaris tak terdengar, air mata panas mulai menggenang di pelupuk mata.
Aku harus pergi. Jika aku tetap di sini sampai fajar menyingsing, aku tidak akan pernah bisa lepas darinya. Aku akan terus terseret dalam pusaran obsesi ini sampai tidak ada lagi yang tersisa dari diriku.
Dengan gerakan setenang mungkin, aku memunguti pakaianku yang berserakan di lant** marmer yang dingin. Gaun hitamku terasa kasar di kulit, pengingat akan malam yang baru saja kami lalui. Aku mengenakannya dengan tangan yang masih gemetar hebat, mengancingkan resleting belakang dengan susah payah. Aku tidak berani menyalakan lampu. Cahaya kota Jakarta di bawah sana sudah c**up untuk memanduku menemukan tas dan sepatu hak tinggiku.
Setiap bunyi kecil terasa seperti ledakan di telingaku. Gesekan kain, bunyi klik tasku, hingga detak jarum jam dinding yang seolah-olah menghitung mundur waktu kebebasanku. Aku berjalan berjinjit menuju pintu kamar, sesekali menoleh ke belakang, memastikan sosok di tempat tidur itu tetap diam.
Di ruang tamu yang luas dan minimalis, suasananya terasa mencekam. Bayangan perabotan mewah tampak seperti monster yang siap menerkam. Aku ingat bagaimana Adrian berdiri di sini beberapa hari yang lalu, mengancam akan menghancurkan karierku jika aku berani melanggar perintahnya. Dan sekarang, di sinilah aku, melarikan diri darinya seperti pencuri di malam hari.
Aku meraih gagang pintu utama. Dinginnya logam itu merambat ke telapak tanganku, mengirimkan gelombang keberanian terakhir. Aku menekankan kode akses yang sempat kulihat saat ia membawaku ma**k tadi malam.
*Bip. Bip. Bip. Bip.*
Suara itu terdengar sangat nyaring di kesunyian malam. Jantungku berpacu g***-g***an. Pintu terbuka dengan bunyi klik lembut. Aku melangkah keluar ke lorong koridor yang terang benderang, segera menutup pintu di belakangku tanpa suara.
Aku tidak menunggu lift. Aku berlari menuju tangga darurat, merasa bahwa setiap detik yang kuhabiskan di depan pintu lift adalah peluang baginya untuk keluar dan menyeretku kembali ke dalam. Sepatu hak tinggiku aku lepas dan kugenggam di tangan kanan, sementara tangan kiriku mencengkeram pegangan tangga saat aku menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
Rasa dingin lant** menyentuh telapak kakiku, namun aku tidak peduli. Pikiranku berkecamuk. Bayangan wajah Adrian yang menatapku dengan tatapan intens dan penuh kuasa terus menghantui. Aku membayangkan kemarahannya saat ia bangun nanti dan mendapati sisi tempat tidurnya sudah kosong. Aku membayangkan bagaimana ia akan mencariku, bagaimana ia akan menggunakan segala kekuasaannya untuk menarikku kembali ke bawah kakinya.
Saat aku akhirnya mencapai lobi dan keluar menuju udara malam yang lembap, aku berhenti sejenak untuk menghirup napas dalam-dalam. Oksigen itu terasa asing, namun melegakan. Aku segera memanggil taksi daring dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
Di dalam taksi yang membawaku menjauh dari gedung pencakar langit itu, aku menyandarkan kepala ke kaca jendela. Lampu-lampu jalanan Jakarta berkelebat menjadi garis-garis cahaya yang buram karena air mata yang akhirnya jatuh. Aku telah berhasil melarikan diri secara fisik, tapi jiwaku tertinggal di lant** lima puluh unit *penthouse* itu.
Aku menyentuh bibirku yang masih terasa panas karena ciumannya. Pria itu adalah racun, dan aku adalah pecandu yang dengan sukarela meminumnya. Ponselku bergetar di dalam tas. Jantungku mencelos. Dengan ragu, aku merogoh tas dan mengeluarkan perangkat kecil itu.
Sebuah pesan singkat muncul di layar yang terang. Bukan dari Adrian.
*βSelly, Bianca tahu. Dia menuju apartemen Adrian sekarang. Pergi dari sana segera!β*
Pesan itu datang dari nomor yang tidak kukenal. Darahku terasa membeku. Aku menoleh ke belakang, menatap siluet gedung apartemen Adrian yang semakin menjauh di kegelapan malam. Jika aku terlambat semenit saja tadi, aku tidak hanya akan berhadapan dengan Adrian, tapi juga dengan amarah seorang istri yang selama ini selalu menghantuiku dalam bayang-bayang.
Permainan ini baru saja naik ke level yang lebih mematikan, dan aku baru saja menyadari bahwa lari darinya hanyalah awal dari bencana yang lebih besar. Siapa yang mengirim pesan itu? Dan sejauh mana Bianca telah mengendus keberadaanku? Aku memeluk diriku sendiri, merasakan kedinginan yang bukan berasal dari AC taksi, melainkan dari ketakutan akan apa yang menantiku esok pagi.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!