Cangkir porselen di tangan Bianca bergetar halus, menciptakan riak kecil di permukaan teh Earl Grey yang sudah mendingin. Ia benci perasaan ini—perasaan di mana kendali yang selama bertahun-tahun ia genggam dengan jemari besi mulai terasa licin dan goyah. Di hadapannya, melalui jendela kaca besar di suite pribadi hotel bintang lima ini, Jakarta tampak seperti hamparan sirkuit elektronik yang rumit dan dingin. Sama seperti pernikahannya dengan Adrian Baskara.
Ketukan di pintu terdengar—tiga kali, pendek dan tajam.
"Ma**k," suara Bianca keluar dengan nada datar yang terlatih, menyembunyikan badai yang berkecamuk di balik dadanya yang terbalut blus sutra Chanel.
Seorang pria paruh baya dengan jaket angin yang tidak mencolok dan topi baseball melangkah ma**k. Namanya adalah Handoko, seorang mantan intelijen kepolisian yang kini menjual keahliannya kepada mereka yang memiliki rahasia untuk dijaga—atau dihancurkan. Ia tidak memberikan salam basa-basi. Handoko langsung meletakkan sebuah amplop cokelat tebal di atas meja marmer, tepat di samping cangkir teh Bianca.
"Anda membayar saya untuk ketelitian, Nyonya Baskara," ujar Handoko dengan suara parau. "Dan saya rasa, nilai informasi ini jauh melampaui deposit awal yang Anda kirimkan."
Bianca tidak langsung menyentuh amplop itu. Ia menyesap tehnya yang pahit, membiarkan keheningan menekan suasana ruangan. "Aku tidak membayar untuk drama, Handoko. Aku membayar untuk bukti. Berikan intinya."
Handoko mengangguk kecil, lalu mendorong amplop itu lebih dekat ke arah Bianca. "Target tidak sedemikian berhati-hati seperti yang Anda kira. Atau mungkin, sang CEO merasa terlalu berkuasa untuk merasa perlu bersembunyi."
Dengan gerakan anggun namun pasti, Bianca membuka segel amplop tersebut. Ia mengeluarkan setumpuk foto glossy berukuran besar. Foto pertama diambil dari jarak jauh, menggunakan lensa tele. Di sana terlihat mobil Bentley hitam milik Adrian terparkir di sebuah area remang-remang di belakang sebuah restoran privat yang hanya melayani pelanggan kelas atas melalui pintu belakang.
Jantung Bianca berdenyut nyeri saat ia menggeser ke foto berikutnya.
Di sana, Adrian sedang membukakan pintu mobil untuk seorang gadis. Selly. Mahasiswi magang yang belakangan ini selalu muncul dalam laporan-laporan bawahannya di kantor. Gadis itu tampak kecil di samping sosok Adrian yang dominan. Namun, yang membuat napas Bianca tercekat bukanlah keberadaan mereka di sana, melainkan cara Adrian menatapnya.
Ada binar protektif di mata suaminya—binar yang sudah bertahun-tahun tidak pernah diarahkan kepada Bianca.
"Foto ini diambil tiga malam yang lalu," Handoko menjelaskan, seolah bisa membaca pikiran Bianca. "Mereka berada di sana selama hampir tiga jam. Dan ini..." Handoko menunjuk foto ketiga.
Di foto itu, mereka berada di luar sebuah gedung apartemen kelas menengah ke atas di daerah Jakarta Selatan—bukan apartemen tempat Selly tinggal yang terdaftar di berkas SDM perusahaan. Adrian berdiri sangat dekat di belakang Selly. Tangan besar pria itu melingkar di pinggang Selly, sementara kepalanya menunduk, berbisik tepat di telinga gadis itu. Selly tidak tampak takut. Ia justru terlihat... pasrah, dengan leher yang sedikit tertekuk, memberikan akses lebih luas bagi Adrian.
Wajah Bianca memucat. Ia bisa merasakan kukunya yang terawat sempurna menusuk telapak tangannya sendiri. "Apartemen siapa itu?"
"Atas nama sebuah perusahaan cangkang, Nyonya. Tapi setelah saya telusuri, aliran dananya bermuara pada rekening pribadi Tuan Adrian," jawab Handoko tanpa emosi. "Gadis itu tidak hanya sekadar 'saksi' atas apa pun yang terjadi di kantor. Dia disimpan."
Bianca membalik foto selanjutnya. Kali ini, mereka tertangkap kamera di dalam mobil melalui kaca depan yang tidak sepenuhnya gelap. Adrian sedang menggenggam dagu Selly, memaksanya untuk menatap pria itu. Ekspresi Adrian bukan lagi ekspresi CEO yang dingin dan terkendali; itu adalah ekspresi seorang pria yang terobsesi, seorang pemburu yang telah menemukan mangsa yang paling berharga.
"C**up," desis Bianca. Ia melempar tumpukan foto itu kembali ke meja seolah-olah kertas-kertas itu baru saja membakar jarinya.
"Ada juga rekaman audio pendek dari restoran, jika Anda berminat," tawar Handoko.
"Simpan itu untuk sekarang," Bianca berdiri, berjalan menuju jendela, memunggungi sang detektif agar pria itu tidak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca karena amarah yang murni. "Aku ingin kau terus mengawasi mereka. Setiap gerak-gerik, setiap pertemuan di luar jam kantor, setiap transaksi yang melibatkan gadis itu. Jangan sampai mereka sadar mereka sedang dibuntuti."
"Tentu, Nyonya. Tapi, apa rencana Anda selanjutnya? Jika Anda ingin membawa ini ke pengadilan perceraian, bukti ini sudah lebih dari c**up untuk memenangkan hak a**h harta gono-gini."
Bianca tertawa, sebuah tawa kering tanpa humor yang menggema di ruangan yang sunyi itu. Ia berbalik, wajahnya kini kembali menjadi topeng porselen yang sempurna, dingin dan tak tersentuh.
"Cerai? Kau pikir aku akan membiarkan Adrian pergi semudah itu setelah dia mempermalukanku dengan seorang pe***** kecil?" Bianca melangkah mendekati meja, mengambil salah satu foto yang memperlihatkan wajah Selly dengan jelas. "Adrian mengira dia sedang bermain kucing dan tikus dengan gadis ini. Dia tidak sadar bahwa akulah yang memegang kandangnya."
Ia mengambil pemantik api dari atas meja, menyalakan apinya, dan membakar sudut foto wajah Selly. Ia memperhatikan api itu menjalar, melahap fitur wajah gadis muda itu hingga menjadi abu hitam yang jatuh ke lant** marmer.
"Aku tidak ingin menghancurkan Adrian, Handoko. Aku ingin menghancurkan dunianya yang dia bangun di sekeliling gadis ini. Aku ingin dia merasakan apa artinya kehilangan kendali."
Handoko menundukkan kepala, memahami bahwa instruksi selanjutnya akan jauh lebih gelap. "Saya mengerti. Saya akan menunggu perintah Anda berikutnya."
Setelah detektif itu pergi, Bianca kembali menatap foto-foto yang tersisa. Ia membelai permukaan foto di mana tangan Adrian berada di pinggang Selly. Rasa jijik dan dendam menyatu menjadi racun yang mendidih di pembuluhnya. Selly mungkin berpikir dia telah menemukan pelindung dalam diri Adrian, atau mungkin dia merasa terjerat. Bianca tidak peduli.
Baginya, Selly hanyalah sebuah variabel yang harus dihilangkan untuk mengembalikan keseimbangan.
Ponsel Bianca berdenting. Sebuah pesan singkat ma**k dari sekretaris pribadinya di kantor.
*Nyonya, Tuan Adrian baru saja membatalkan rapat malam ini dengan alasan 'urusan mendesak'. Beliau terlihat meninggalkan gedung bersama Nona Selly melalui lift basement.*
Bianca meremas ponselnya hingga buku jarinya memutih. Matanya berkilat dengan intensitas yang mengerikan. "Urusan mendesak, ya, Adrian?" gumamnya pada ruangan yang kosong.
Ia mengambil tas tangannya, memakai kacamata hitam besar yang menutupi separuh wajahnya, dan melangkah keluar. Permainan baru saja dimulai, dan Bianca tidak berniat menjadi penonton di barisan belakang. Jika Adrian ingin bermain di luar aturan, maka Bianca akan memastikan bahwa akhir dari permainan ini adalah kehancuran yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan.
Langkah kakinya yang menggunakan stiletto terdengar tajam dan berirama di koridor hotel, seperti detak jam yang menghitung mundur waktu kebebasan Selly. Bianca akan menunggu saat yang tepat, saat di mana ia bisa menyeret mereka berdua keluar dari bayang-bayang dan memaksa mereka menghadapi cahaya yang menghanguskan.
Satu hal yang pasti: tidak ada seorang pun yang boleh mengambil apa yang menjadi milik Bianca Baskara tanpa membayar harga yang setimpal. Dan harga Selly, pikir Bianca dengan senyum tipis yang mematikan, akan jauh lebih mahal daripada yang bisa dibayangkan oleh gadis itu.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!