Udara di lobi utama Baskara Group yang biasanya terasa sejuk oleh pendingin ruangan sentral, mendadak berubah menjadi menyesakkan. Aku bisa merasakan keringat dingin mulai merembes di balik blus kerja yang kupakai. Langkah kakiku terpaku di atas lant** marmer yang meng***t, tepat beberapa meter sebelum pintu keluar kaca otomatis. Di sana, berdiri sesosok wanita yang kehadirannya selalu mampu membuat nyaliku menciut: Bianca Baskara.
Ia berdiri dengan keanggunan yang mematikan. Gaun sutra merah marunnya membalut tubuh rampingnya dengan sempurna, kontras dengan wajahnya yang sepucat porselen namun menyimpan bara api di sepasang matanya. Ketika tatapan kami bertemu, aku tahu pelarian bukanlah pilihan.
"Jadi, ini tikus kecil yang sedang sibuk menggerogoti rumah tanggaku?" suara Bianca memecah keheningan lobi, tenang namun tajam seperti sembilu.
Beberapa karyawan yang sedang melintas mendadak melambatkan langkah. Satpam di dekat meja resepsionis berpura-pura sibuk dengan walkie-talkie mereka, namun telinga mereka jelas tertuju pada kami. Aku menelan ludah, mencoba mencari sisa-sisa keberanian dalam diriku.
"Nyonya Baskara, saya hanya ingin pulang. Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan," suaraku bergetar, jauh dari kesan tegas yang kuinginkan.
Bianca melangkah mendekat. Aroma parfum mawar hitamnya yang pekat mulai mengepung indra penciumanku. Setiap ketukan sepatu hak tingginya di atas lant** marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi karierku. Tanpa peringatan, ia merenggut tas bahuku, membuat isinyaβbeberapa dokumen dan ponselkuβnyaris berhamburan.
"Jangan berlagak lugu, Selly. Aku tahu tipe perempuan sepertimu. Menggunakan wajah polos dan kepintaran akademis untuk merangkak naik ke tempat tidur bosmu," desisnya c**up keras untuk didengar oleh staf resepsionis yang kini menatapku dengan pandangan menghina.
"Itu tidak benar," bisikku, air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Rasa malu yang luar biasa menghantamku. Aku bisa merasakan bisik-bisik mulai menjalar di sudut-sudut lobi. *Lihat itu, si anak magang kesayangan Pak Adrian.* *Ternyata benar dia simpanan.*
"Benarkah? Lalu bagaimana kau menjelaskan jam lembur yang selalu kau habiskan berdua dengannya di ruangan tertutup? Atau perjanjian rahasia yang kalian simpan?" Bianca mencengkeram lenganku, kuku-kukunya yang dipoles rapi menusuk kulitku. "Kau hanyalah sampah ambisius yang mencoba mencuri apa yang menjadi milikku!"
Tepat saat Bianca mengangkat tangannya, seolah hendak melayangkan tamparan yang akan menghancurkan sisa-sisa harga diriku di depan publik, sebuah suara berat dan otoriter menggelegar dari arah lift eksekutif.
"Hentikan, Bianca!"
Adrian Baskara berjalan menghampiri kami dengan langkah panjang dan ekspresi yang sulit dibaca. Matanya yang gelap berkilat marah, namun anehnya, kemarahan itu tidak ditujukan padaku. Ia berdiri di antara kami, secara fisik memisahkan aku dari istrinya.
"Adrian, kau membela jalang ini di depan umum?" suara Bianca meninggi, mulai kehilangan kendali atas ketenangannya.
Adrian tidak menanggapi Bianca. Sebaliknya, ia berbalik menghadapku. Tangannya yang besar dan hangat mendarat di pundakku, sebuah gerakan yang seharusnya terasa melindungi, namun justru terasa seperti segel kepemilikan yang semakin menjeratku.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan nada yang terlampau lembut, terlalu intim untuk didengar oleh puluhan pasang mata yang kini menonton drama ini.
Aku terpaku. Adrian tidak seharusnya melakukan ini. Jika ia ingin menyelamatkanku, ia seharusnya memarahiku atau memintaku pergi agar spekulasi tidak berkembang. Namun, dengan menyentuhku seperti ini, ia seolah baru saja menuangkan bensin ke dalam api skandal yang sudah menyala.
"Lepaskan dia, Adrian!" teriak Bianca, wajahnya kini merah padam karena penghinaan. "Kau mempermalukan dirimu sendiri demi seorang intern rendahan!"
Adrian mengeratkan pegangannya di bahuku, menarikku sedikit lebih dekat ke sisinya. "C**up, Bianca. Pulanglah. Jangan membuat keributan di kantorku. Selly adalah tanggung jawabku, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, terma**k kau, menyentuhnya."
Kata-kata itu jatuh seperti bom di tengah lobi. Keheningan yang mengikuti begitu pekat hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang mengg***. Adrian baru saja mengonfirmasi kecurigaan semua orang. Ia tidak menyangkal tuduhan selingkuh; ia justru memvalidasinya dengan sikap protektif yang berlebihan.
Aku melirik ke sekeliling. Orang-orang kini tidak lagi menatapku dengan kasihan, melainkan dengan tatapan jijik dan kebencian yang murni. Dalam satu langkah ceroboh, Adrian telah menghancurkan reputasi yang kubangun dengan susah payah selama masa kuliahku.
"Adrian... apa yang kau lakukan?" bisikku lirih, nyaris tak terdengar.
Adrian menunduk, menatap langsung ke mataku. Ada kilat manipulatif yang melintas cepat di balik sorot matanya yang dalam. "Aku sedang menjagamu, Selly. Ingat perjanjian kita? Kau milikku untuk dilindungi."
Bianca tertawa sumbang, suara tawanya mengandung racun yang mematikan. "Bagus. Sangat bagus. Kau ingin memilikinya, Adrian? Silakan. Tapi jangan harap kau bisa menutupi kotoran ini dari dewan komisaris."
Bianca berbalik dan melangkah pergi dengan dagu terangkat, meninggalkan badai yang baru saja ia ciptakan. Adrian masih memegang bahuku, mengabaikan tatapan menghakimi dari seluruh penghuni gedung. Aku merasa seolah seluruh dunia sedang runtuh di bawah kakiku. Di satu sisi, aku merasa terlindungi dari amukan Bianca, namun di sisi lain, aku sadar bahwa perlindungan Adrian adalah penjara yang lebih gelap.
Kini, aku bukan lagi Selly sang mahasiswa berprestasi. Di mata dunia, aku hanyalah pion dalam permainan kekuasaan seorang CEO yang tak punya hati. Dan saat Adrian membisikkan kata "ikut ke ruanganku" di telingaku, aku tahu bahwa babak baru dari mimpi buruk ini baru saja dimulai. Seluruh kantor kini tahu rahasia kami, tapi mereka tidak tahu bahwa aku hanyalah mangsa yang terperangkap dalam jebakan yang tak mungkin bisa kupatahkan.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!