Ujung jemariku terasa dingin, hampir mati rasa saat aku meremas map cokelat yang tersembunyi di balik blazer hitamku. Di dalam ruangan luas yang hanya diterangi lampu meja temaram ini, aroma kayu cendana dan parfum maskulin Adrian terasa mencekik, seolah-olah oksigen di sekitarku telah habis diserap oleh kehadirannya.
Adrian duduk di balik meja m***gani besarnya, menyandarkan punggung dengan sant** seakan ia adalah raja yang sedang mengamati pion yang sedang meronta. Ia menyesap wiski dari gelas kristal, denting es batunya terdengar nyaring di tengah kesunyian malam kantor pusat Baskara Group yang sudah sepi.
"Kau memintaku menemuimu jam segini hanya untuk diam membeku, Selly?" Suaranya rendah, serak, dan penuh dengan nada meremehkan yang membuat bulu kudukku berdiri. "Kukira kau sudah belajar bahwa waktuku adalah komoditas yang mahal."
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungku yang berpacu liar. "Aku ingin mengakhiri ini, Adrian. Perjanjian g*** ini, semua manipulasi ini. Aku ingin bebas."
Adrian terkekeh, suara itu dingin dan tanpa rasa humor. "Bebas? Kita sudah membahas ini berkali-kali. Kau milikku sampai aku mengatakan sebaliknya."
"Tidak lagi." Aku melangkah maju, meletakkan map itu di atas meja dengan tangan yang gemetar hebat. Aku membuka kancingnya dan menyebarkan beberapa lembar dokumen di hadapannya. "Proyek pembangunan *resort* di Labuan Bajo. Dana yang dialihkan ke perusahaan cangkang bernama 'Lighthouse Holdings'. Dua puluh miliar rupiah, Adrian. Dan itu baru permulaan dari apa yang kutemukan di arsip tersembunyi server keuanganmu."
Adrian melirik sekilas ke arah kertas-kertas itu. Ekspresinya tidak berubah, tetap datar dan angkuh, namun aku bisa melihat otot rahangnya yang mengeras.
"Penggelapan dana perusahaan," lanjutku, suaraku mulai stabil meski jiwaku meronta ketakutan. "Jika pemegang saham tahu, terutama Bianca dan keluarganya yang memegang kendali atas dewan komisaris, kau bukan hanya akan kehilangan jabatanmu. Kau akan berakhir di balik jeruji besi."
Keheningan yang mengikuti kata-kataku terasa begitu pekat hingga aku bisa mendengar detak jam dinding yang seirama dengan denyut nadi di leherku. Adrian perlahan meletakkan gelas wiskinya. Ia bangkit berdiri, tubuhnya yang tinggi tegap membayangi tubuhku, membuatku merasa kecil dan rentan.
Ia berjalan memutari meja, mendekatiku dengan langkah predator yang lambat. Aku ingin mundur, tapi harga diriku memaksaku untuk tetap berdiri tegak.
"Kau pikir kau sangat cerdas, bukan?" Adrian berhenti tepat di depanku. Ia merunduk, mendekatkan wajahnya hingga aku bisa mencium aroma alkohol dan mint dari napasnya. "Kau menggunakan akses magangmu untuk menyusup ke area yang bukan hakmu. Kau pikir itu adalah senjata?"
"Itu adalah kebenaran," desisku.
Tiba-tiba, Adrian tertawaβkali ini lebih keras, namun terdengar sangat berbahaya. Ia mengambil salah satu lembar dokumen itu dan merobeknya menjadi dua dengan gerakan lambat yang penuh penghinaan.
"Kebenaran adalah apa yang aku tulis, Selly," bisiknya tepat di telingaku, membuatku bergidik. "Apa kau tahu apa yang kulihat saat melihat kertas ini? Aku melihat bukti tindak pidana pencurian data rahasia perusahaan oleh seorang mahasiswi magang yang tidak tahu diri."
Aku tertegun. "Apa maksudmu?"
Adrian menegakkan tubuhnya, menatapku dengan mata gelap yang berkilat penuh kemenangan. "Log server menunjukkan akunmu mengakses file-file terenkripsi ini pukul dua pagi tadi. Aku sudah menyiapkan laporan untuk pihak kepolisian. Tuduhannya bukan hanya pencurian data, tapi juga upaya pemerasan terhadap CEO Baskara Group."
Duniaku serasa berputar. "Kau... kau menjebakku? Aku menemukan ini karena memang ada di sana!"
"Dan siapa yang akan percaya padamu?" Adrian melangkah lebih dekat, mengurungku di antara tubuhnya dan tepian meja m***gani. "Seorang mahasiswi miskin yang terlilit utang biaya rumah sakit ibunya, mencoba memeras bosnya dengan data palsu yang ia curi? Karirmu akan hancur sebelum sempat dimulai. Universitasmu akan mengeluarkanmu dengan tidak hormat. Dan ibumu... bayangkan apa yang terjadi padanya jika putrinya satu-satunya dipenjara."
Air mata kemarahan mulai menggenang di mataku. "Kau i****, Adrian."
"Aku adalah realitasmu, Selly," sahutnya dingin. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar membelai pipiku dengan gerakan yang hampir terlihat lembut, namun terasa seperti sayatan pisau. "Kau pikir kau bisa mengalahkanku dengan permainan angka ini? Kau hanya memberiku alasan lebih kuat untuk mengikatmu lebih kencang."
Ia menarik tengkukku, memaksaku menatap matanya yang tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. "Sekarang, kau punya dua pilihan. Kau bisa keluar dari ruangan ini, dan aku akan memastikan polisi sudah menunggumu di lobi. Atau, kau bakar semua dokumen asli yang kau simpan, dan kau berlutut memohon maaf atas kelancanganmu ini."
Aku mengepalkan tinju di sisi tubuhku, kuku-kukuku menancap ke telapak tangan hingga terasa perih. Rasa benci dan gairah yang menyakitkan berperang di dalam dadaku. Aku telah mempertaruhkan segalanya pada kartu ini, dan Adrian baru saja membakarnya di depan mataku.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu," bisikku parau.
Adrian tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Aku tidak butuh maafmu, Selly. Aku butuh kepatuhanmu."
Ia melepaskan cengkeramannya dan berjalan kembali ke kursinya, lalu mengambil ponsel di atas meja. Jemarinya menari di atas layar, siap menekan tombol panggil.
"Aku beri waktu sepuluh detik," katanya tanpa melihatku. "Sepuluh... sembilan... delapan..."
Jantungku terasa berhenti berdetak. Pintu keluar terasa begitu jauh, sementara bayangan jeruji besi dan kehancuran keluargaku tampak begitu nyata di depan mata. Saat ia menyebut angka 'tiga', aku menyadari bahwa aku tidak hanya terjebak dalam perjanjiannya, tapi aku baru saja ma**k ke dalam sangkar yang lebih gelap yang ia bangun khusus untukku.
"Tunggu," suaraku pecah, hampir tidak terdengar.
Adrian menghentikan jarinya di atas layar ponsel. Ia mendongak, menatapku dengan tatapan penuh kepuasan yang membuat perutku mual. "Ya, Selly?"
Aku memejamkan mata, merasakan martabatku runtuh berkeping-keping di bawah kakinya. "Apa yang harus kulakukan agar kau menghapus laporan itu?"
Adrian meletakkan ponselnya, lalu menyandarkan tubuh dengan ekspresi yang sangat tenang, seolah ia baru saja memenangkan lotre. "Lepaskan pakaianmu. Kita akan membuat 'perjanjian' baru yang jauh lebih mengikat malam ini."
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!