Gelas kristal di tanganku terasa dingin, namun tidak sedingin atmosfer yang menyelimuti penthouse ini. Di luar sana, lampu-lampu Jakarta berpijar seperti jutaan mata yang menghakimi, sementara di dalam sini, keheningan terasa begitu pekat hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang tidak beraturan. Di layar televisi yang sengaja kusenyapkan, wajahku dan wajah Selly berkelebat dalam jepretan kamera paparazzi yang buramβskandal yang akhirnya meledak, menghancurkan fasad ketenangan yang selama ini kubangun dengan susah payah.
Aku melirik ke arah sofa panjang di sudut ruangan. Selly duduk di sana, meringkuk kecil, memeluk lututnya seolah dunia sedang mencoba meremukkannya. Gaun sutranya yang halus tampak kontras dengan kekacauan yang terpancar dari tatapan matanya yang kosong. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini jatuh berantakan di bahunya.
"Berhenti menatapku seolah aku adalah barang pecah belah, Adrian," suaranya serak, nyaris tenggelam oleh desau pendingin ruangan.
Aku meletakkan gelas di atas meja marmer dengan denting yang tajam. Aku berjalan mendekat, setiap langkahku terasa berat namun pasti. Aku berjongkok di depannya, mencoba meraih jemarinya yang gemetar, namun ia menariknya menjauh secepat kilat. Penolakan itu menyengat, lebih dari sekadar harga diri yang terluka.
"Dunia sedang membicarakanmu, Selly. Mereka menyebutmu dengan nama-nama yang tidak pantas. Reputasimu di universitas, masa depanmu... semuanya di ambang kehancuran," kataku dengan nada rendah, mencoba menanamkan gravitasi situasi ini ke dalam benaknya.
Selly tertawa hambar, sebuah suara yang penuh dengan kepahitan. "Dan siapa yang menyebabkan semua ini? Siapa yang menjebakku dalam perjanjian g*** itu sejak awal? Kau, Adrian. Kau yang membakar rumahku, dan sekarang kau bertanya mengapa aku kepanasan?"
Aku menghela napas, menekan ego yang mulai meronta. Aku tidak boleh kehilangan kendali sekarang. "Aku tidak memprediksi Bianca akan bertindak sejauh ini dengan membocorkan foto-foto itu ke pers. Tapi aku bisa memperbaikinya. Aku punya kekuatan untuk membungkam mereka semua."
"Bagaimana?" Ia menoleh, matanya yang sembap menatapku dengan kebencian yang murni. "Dengan uangmu? Dengan pengacaramu? Itu tidak akan mengubah fakta bahwa aku adalah 'simpanan' di mata mereka."
Inilah saatnya. Aku merogoh saku dalam jas hitamku, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru gelap. Aku membukanya, memperlihatkan sebentuk cincin dengan berlian tunggal yang memantulkan cahaya lampu penthouse, berkilau dingin namun menjanjikan kemewahan yang tak terbatas.
"Menikahlah denganku," ucapku tegas. Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa keraguan, seolah-olah ini adalah langkah strategis yang sudah kupikirkan selama berbulan-bulan.
Selly membeku. Matanya terbelalak menatap cincin itu, lalu beralih padaku, mencari tanda-tanda lelucon. Namun, ia tidak menemukan apa-apa selain kesungguhan yang gelap di mataku.
"Apa kau sudah g***?" bisiknya. "Kau masih suami Bianca. Kau..."
"Proses perceraian akan dipercepat. Pengacaraku sudah menyiapkan dokumennya. Jika kau menjadi istriku secara legal, skandal ini akan berubah menjadi berita romansa. Mahasiswi magang yang memenangkan hati sang CEO. Narasi itu jauh lebih baik daripada sekadar skandal perselingkuhan. Aku akan memberikanmu status, perlindungan, dan keamanan finansial yang tidak akan pernah bisa kau bayangkan."
Aku mencoba meraih tangannya lagi, dan kali ini, entah karena terkejut atau lelah, ia membiarkanku menggenggam jemarinya yang dingin. Aku bisa merasakan denyut nadinya di bawah kulitnya yang halus.
"Ini bukan pernikahan, Adrian," Selly berkata dengan suara yang mendadak tenang, sebuah ketenangan yang justru membuatku waspada. Ia menatap cincin itu seolah-olah itu adalah instrumen penyiksaan. "Ini hanya bentuk lain dari perjanjian kerahasiaanmu. Kau hanya ingin memilikiku sepenuhnya agar aku tidak bisa memberikan kesaksian melawanmu atau Bianca di kemudian hari. Kau ingin membeliku secara permanen."
Aku mempererat genggamanku, rasa posesif yang akrab mulai membakar dadaku. "Sebut itu apa pun yang kau mau. Tapi ini adalah satu-satunya jalan keluar bagimu. Kau ingin karier? Aku akan memberimu perusahaan. Kau ingin martabat? Gelar 'Nyonya Baskara' akan membungkam setiap mulut di kota ini."
Selly menarik tangannya dengan sentakan kuat. Ia berdiri, membuatku terpaksa ikut berdiri untuk menyamai tinggi badannya. Ia menatapku dengan keberanian yang membuatku kagum sekaligus murka.
"Kau tidak paham, ya?" Selly melangkah maju, memperpendek jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma parfumnya yang bercampur dengan aroma keputusasaan. "Kau menawarkan pernikahan seolah itu adalah penyelamatan, padahal itu hanyalah sangkar emas yang lebih besar. Kau ingin aku terikat secara hukum agar aku tidak pernah bisa melarikan diri darimu."
"Aku melindungimu, Selly!" suaraku meninggi, bergema di ruangan yang luas itu. "Tanpa aku, kau bukan apa-apa sekarang. Media akan menghancurkanmu sampai tidak ada yang tersisa."
"Aku lebih baik hancur karena kejujuran daripada hidup dalam kebohongan yang kau ciptakan," balasnya sengit. Namun, aku bisa melihat setitik air mata jatuh melewati pipinya. "Cincin ini... ini bukan tanda cinta. Ini adalah borgol yang kau lapisi berlian."
Aku melangkah mendekat, memojokkannya hingga punggungnya menab**k jendela kaca besar. Aku meletakkan kedua tanganku di sisi kepalanya, mengurungnya dalam ruang pribadiku. Aku bisa merasakan napasnya yang memburu di dadaku.
"Cinta atau bukan, itu tidak relevan sekarang," bisikku tepat di telinganya, suaraku berat dengan ancaman yang terselubung. "Faktanya adalah, kau sudah ma**k terlalu dalam. Jika kau menolak tawaran ini, aku tidak akan menjamin apa yang akan dilakukan Bianca atau dewan direksi padamu. Mereka butuh kambing hitam untuk menyelamatkan harga saham perusahaan, dan kau adalah target termudah."
Selly mendongak, matanya bertemu denganku dalam pertarungan kehendak yang sunyi. Ada kilat pemberontakan di sana, namun aku juga melihat pengakuan pahit akan kebenaran kata-kataku. Ia terjepit antara kehancuran total atau perbudakan yang sah.
"Kau adalah monster, Adrian," bisiknya pelan, hampir menyerupai sebuah pengakuan cinta yang tragis.
Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai mataku. Aku menyelipkan helaian rambut di balik telinganya dengan gerakan yang hampir lembut, namun penuh dominasi. "Dan kau adalah milik monster ini, Selly. Sekarang, ambil cincinnya dan pakailah. Atau biarkan dunia mencabik-cabikmu besok pagi."
Tepat saat itu, ponsel di saku jas kaku bergetar hebat. Aku mengeluarkannya dan melihat nama asisten pribadiku di layar. Ada sesuatu yang salah.
"Halo?"
"Tuan Adrian," suara asistenku terdengar panik di ujung telepon. "Ada kebocoran dokumen lain. Bukan tentang hubungan Anda dengan Selly, tapi tentang aliran dana gelap perusahaan yang selama ini Anda sembunyikan. Dan seseorang baru saja mengirimkan bukti-bukti itu ke kejaksaan atas nama Selly."
Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku menoleh perlahan ke arah Selly, yang kini menatapku dengan senyum tipis yang tak pernah kulihat sebelumnyaβsenyum seorang wanita yang baru saja membakar jembatan terakhirnya.
"Apa yang telah kau lakukan, Selly?" desis ku, sementara di luar sana, suara sirine polisi mulai terdengar mendekat ke arah gedung.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!