Cangkir kopi di tanganku terasa seberat beton. Uap panasnya menyentuh wajah, tetapi tidak mampu mengusir rasa dingin yang merayapi tengkukku sejak melangkah ma**k ke lobi Baskara Group pagi ini. Aku berusaha memfokuskan mata pada layar monitor, menatap deretan angka di lembar kerja Excel yang tampak seperti semut-semut hitam yang menari mengejekku.
*Tenang, Selly. Anggap saja kemarin tidak pernah terjadi,* bisikku dalam hati, sebuah mantra yang sudah kuulang ratusan kali sejak aku terbangun dengan keringat dingin pukul tiga dini hari tadi.
Di sekelilingku, hiruk-pikuk divisi pemasaran berjalan seperti biasa. Suara telepon yang berdering, gesekan kursi roda, dan obrolan ringan tentang kemacetan Jakarta seharusnya menjadi latar belakang yang menenangkan. Namun, setiap kali pintu lift berdenting, jantungku mencelos. Aku merasa seolah-olah ada lampu sorot raksasa di atas kepalaku, meneriakkan pada semua orang bahwa aku telah melihat sisi gelap sang dewa di gedung ini.
"Selly? Kamu melamun lagi?"
Aku tersentak, hampir menumpahkan kopi ke atas *keyboard*. Bu Amara, supervisor magangku, berdiri di samping meja dengan alis bertaut.
"Maaf, Bu. Saya hanya... kurang tidur semalam," jawabku cepat, berusaha memberikan senyum profesional yang paling meyakinkan yang bisa kuberikan.
"Pastikan laporan riset pasar itu selesai sebelum makan siang. Pak Hendra ingin meninjaunya," kata Bu Amara datar sebelum berlalu.
Aku mengembuskan napas panjang yang gemetar. Fokus, Selly. Tinggal dua bulan lagi. Hanya dua bulan sampai nilai magang ini keluar dan kamu bisa lulus dengan predikat terbaik. Beasiswa S2 yang kincar di London bergantung pada lembar penilaian dari perusahaan ini. Aku tidak boleh mengacaukannya hanya karena rasa trauma melihat sesuatu yang seharusnya tidak kulihat.
Namun, ketenangan rapuh itu hancur saat telepon di sudut mejaku berbunyi. Lampu merah kecil di gagang telepon itu berkedip-kedip, seolah-olah memberi peringatan bahaya.
"Halo, divisi pemasaran, dengan Selly di sini," ucapku, berusaha menjaga suaraku agar tidak bergetar.
"Ke lant** empat puluh. Sekarang."
Suara itu rendah, jernih, dan memiliki otoritas yang membuat otot-otot di kakiku mendadak lemas. Itu bukan suara Bu Amara. Bukan pula suara sekretaris departemen. Itu adalah suara yang menghantuiku sepanjang malam. Adrian Baskara.
"Maaf, Pak, tapi saya sedang menyelesaikan laporan untuk Bu Amaraβ"
"Aku tidak bertanya tentang laporanmu, Selly. Aku memberimu perintah."
*Klik.*
Sambungan terputus. Aku menatap gagang telepon itu seolah-olah baru saja berubah menjadi ular berbisa. Tanganku gemetar saat meletakkannya kembali ke tempatnya. Rekan-rekan di sekitarku tidak menyadari bahwa duniaku baru saja runtuh. Bagi mereka, dipanggil ke lant** empat puluhβlant** eksekutif tertinggiβadalah sebuah kehormatan atau mimpi buruk administratif. Bagiku, itu adalah vonis mati.
Lift menuju lant** empat puluh terasa bergerak terlalu cepat. Saat pintu denting terbuka, aku disambut oleh koridor sunyi dengan karpet tebal yang meredam suara langkah kakiku. Udara di sini terasa lebih dingin, beraroma kayu cendana dan kemewahan yang menyesakkan.
Sekretaris pribadinya, seorang wanita paruh baya dengan sanggul yang sangat rapi, hanya memberikan anggukan kecil tanpa ekspresi. "Pak Adrian sudah menunggu. Ma**klah."
Aku mendorong pintu kayu jati yang berat itu. Kantor Adrian Baskara sangat luas, dengan dinding kaca setinggi langit-langit yang memperlihatkan gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang tampak seperti mainan kecil di bawah sana. Adrian berdiri membelakangiku, menatap pemandangan kota. Jasnya tersampir di kursi kerja kulitnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku.
"Tutup pintunya," perintahnya tanpa menoleh.
Aku melakukannya dengan tangan yang berkeringat. Suara pintu yang tertutup rapat terasa seperti bunyi palu hakim.
"Pak Adrian, jika ini mengenai kejadian kemarin sore, saya ingin menegaskan kembali bahwa saya tidak akan mengatakan apa pun pada siapa pun. Saya hanya ingin menyelesaikan magang saya dengan tenang," ujarku, mencoba mengambil inisiatif sebelum dia menekanku.
Adrian berbalik perlahan. Ekspresinya tidak terbaca. Wajahnya yang simetris dan tajam terlihat seperti pahatan marmer yang dingin. Dia berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti predator yang mengunci mangsa. Dia berhenti tepat di depanku, menciptakan jarak yang sangat intim sekaligus mengintimidasi. Bau parfumnya yang maskulin dan mahal menyerang indramayuku.
"Magangmu," gumamnya, bibirnya membentuk senyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Kamu sangat peduli dengan nilai-nilaimu, bukan? Mahasiswi berprestasi, calon lulusan terbaik, harapan keluarga kecil yang sedang berjuang secara finansial di pinggiran kota."
Darahku mendesir dingin. Dia sudah menyelidikiku. "Bagaimana Bapakβ"
"Aku memiliki semua informasimu di meja ini, Selly," potongnya sambil menunjuk sebuah map biru di atas mejanya. "Terma**k fakta bahwa ibumu membutuhkan pengobatan rutin yang tidak murah. Magang ini adalah tiketmu menuju pekerjaan tetap dengan gaji tinggi. Benar?"
Aku mengepalkan tinju di samping tubuhku, kuku-kukuku menekan telapak tangan. "Apa maumu, Pak?"
Adrian meraih selembar kertas dari mejanya dan menyodorkannya padaku. Bukan, itu bukan surat pemecatan. Itu adalah evaluasi magangku yang masih kosong, namun sudah ditandatangani di bagian bawah olehnya sendiri.
"Aku bisa memastikan kamu lulus dengan nilai sempurna hari ini juga. Atau," dia menjeda, matanya menyipit dengan kilatan manipulatif, "aku bisa memastikan bahwa tidak ada satu pun perusahaan di negara ini yang akan menerima lamaran kerjamu setelah aku memberikan catatan negatif pada catatan akademismu atas tuduhan... katakanlah, pencurian dokumen rahasia perusahaan."
"Itu fitnah! Saya tidak melakukan itu!" seruku, suaraku meninggi karena panik.
Adrian melangkah maju lagi, membuatku terpojok ke arah pintu yang tertutup. Dia membungkuk sedikit, hingga napasnya terasa di telingaku, membuat bulu kudukku meremang bukan karena gairah, melainkan horor.
"Di gedung ini, kebenaran adalah apa yang aku katakan, Selly," bisiknya dengan suara yang serak dan rendah. "Kemarin kamu melihat sesuatu yang bukan hakmu. Kamu memiliki 'hutang' padaku karena aku membiarkanmu pergi dari ruangan ini hidup-hidup. Sekarang, pertanyaannya adalah: seberapa besar harga yang berani kamu bayar untuk masa depanmu?"
Dia menarik diri, matanya mengunci mataku dengan intensitas yang melumpuhkan. "Aku tidak butuh sekretaris baru. Aku butuh seseorang yang bisa kupastikan tutup mulut, seseorang yang berada di bawah kendaliku sepenuhnya. Tandatangani perjanjian kerahasiaan tambahan yang sudah kusiapkan, atau kemas barang-barangmu sekarang dan lupakan mimpimu."
Tangannya terulur, menyodorkan sebuah pulpen emas yang terasa seperti tawaran dari i****. Aku menatap pulpen itu, lalu menatap matanya yang gelap dan penuh rahasia. Aku tahu, jika aku mengambil pulpen itu, aku tidak hanya menandatangani dokumen kerahasiaan. Aku sedang menyerahkan kunci penjara jiwaku kepadanya.
Namun, bayangan wajah lelah ibuku dan tumpukan tagihan di meja makan rumah kami melintas di benakku.
"Apa isi perjanjian itu?" tanyaku dengan suara serak.
Adrian tersenyum, kali ini sebuah senyum kemenangan yang benar-benar mengerikan. "Sederhana. Kamu harus bersedia dipanggil kapan pun aku membutuhkanmu, melakukan apa pun yang kuperintahkan tanpa bertanya. Dan sebagai gantinya, aku akan menjadi pelindungmu... atau pemilikmu."
Aku mengulurkan tangan yang gemetar ke arah pulpen itu. Saat jari-jariku bersentuhan dengan miliknya, dia tidak langsung melepaskannya. Dia menggenggam jemariku, meremasnya c**up kuat hingga terasa sakit, seolah sedang menandai kepemilikannya.
Tepat saat itu, pintu kantornya terbuka tanpa ketukan.
"Adrian, Sayang, kenapa pintunya dikunci?"
Seorang wanita cantik dengan pakaian desainer mahal berdiri di ambang pintu, matanya yang dingin langsung tertuju pada tanganku yang masih bersentuhan dengan tangan suaminya. Itu Bianca, istri Adrian. Dan di balik tatapan elegannya, aku melihat kilat kecurigaan yang mematikan.
"Siapa dia, Adrian?" tanya Bianca, suaranya setajam silet yang siap mengiris apa pun yang menghalangi jalannya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!