Udara di dalam ruang rapat lant** empat puluh Baskara Group terasa seperti ditarik paksa keluar oleh mesin vakum. Dingin, steril, dan menyesakkan. Aku meremas tali tas selempangku hingga buku-buku jariku memutih, merasakan logam dingin dari *flash drive* di dalam saku rokku yang seolah membakar kulit pahaku.
Di hadapanku, duduk tujuh orang pria dan wanita paruh baya dengan setelan jas seharga ribuan dolar. Mereka adalah Dewan Komisaris, para dewa di puncak Olympus korporasi ini. Di ujung meja, kursi kebesaran itu masih kosong, menanti sang tiran yang sebentar lagi akan datang untuk mengukuhkan kekuasaannya.
"Saudari Selly, Anda yakin dengan apa yang ingin Anda sampaikan?" suara Pak Handoko, komisaris utama yang paling senior, memecah kesunyian. Matanya yang tajam menatapku dari balik kacamata minusnya. "Ini adalah tuduhan serius yang bisa menghancurkan reputasi perusahaan."
Aku menarik napas panjang, membiarkan oksigen yang tipis itu mengisi paru-paruku. "Saya bukan hanya membawa tuduhan, Pak. Saya membawa fakta."
Pintu kayu jati besar itu terayun terbuka. Adrian Baskara melangkah ma**k dengan keanggunan seorang predator yang baru saja memenangkan perburuan. Jas abu-abu gelapnya licin tanpa cela, senyum tipisnya meremehkan seisi ruangan. Saat matanya bertumbukan dengan mataku, ada kilat kejutan yang hanya berlangsung sepersekian detik sebelum digantikan oleh binar kepemilikan yang memuakkan.
"Selly? Sedang apa kau di sini?" tanya Adrian, suaranya rendah dan berwibawa, seolah-olah dia sedang menyapa seorang kekasih di meja makan pribadi. Dia duduk di kursinya, menyandarkan punggung dengan sant**. "Saya rasa agenda hari ini adalah pembahasan ekspansi, bukan presentasi magang."
"Agenda hari ini berubah, Adrian," sela Pak Handoko dengan nada datar.
Aku tidak menunggu aba-aba lagi. Dengan tangan yang sedikit bergetar, aku melangkah maju dan meletakkan *flash drive* itu di tengah meja yang mengkilap. "Di dalam sini terdapat rekaman percakapan, salinan kontrak ilegal yang memaksa saya melakukan pekerjaan di luar deskripsi kerja profesional, bukti penyalahgunaan dana operasional untuk kepentingan pribadi, serta rekaman CCTV dari ruang kerja CEO pada tanggal lima belas bulan lalu."
Wajah Adrian yang tadinya tenang mendadak mengeras. Otot di rahangnya berdenyut hebat. Dia mencoba tertawa, suara yang keluar terdengar kering dan dipaksakan. "Selly, lelucon macam apa ini? Kau sedang mencoba memeras saya karena kontrak magangmu akan berakhir?"
"Ini bukan lelucon, Adrian," kataku, suaraku kini stabil, bahkan lebih dingin dari AC di ruangan ini. "Ini adalah akhir dari permainanmu. Kontrak kerahasiaan yang kau paksakan padaku? Aku sudah mempelajarinya dengan bantuan kuasa hukum independen. Kontrak itu batal demi hukum karena isinya mengandung unsur eksploitasi dan paksaan."
Adrian bangkit berdiri, tangannya mencengkeram tepi meja hingga sendi-sendinya memutih. Matanya berkilat penuh amarah, memancarkan kegelapan yang selama ini menghantuiku di setiap mimpi buruk. "Kau tidak tahu apa yang kau lakukan, Selly. Kau menghancurkan dirimu sendiri."
"Tidak," sahutku, menatap tepat ke dalam manik matanya yang kelam. "Aku sedang menyelamatkan diriku."
Layar proyektor di belakangnya menyala. Foto-foto dokumen yang kucuri dari b**nkas pribadinya, bukti transfer ke rekening gelap, hingga video singkat yang menunjukkan sisi lain Adrian yang selama ini disembunyikan dari publik, terpampang nyata. Ruangan itu seketika menjadi riuh dengan bisik-bisik ngeri para komisaris.
Bianca, istri Adrian, tiba-tiba muncul di ambang pintu. Wajahnya yang biasanya kaku dan dingin kini tampak pucat pasi. Dia melihat ke layar, lalu ke suaminya, dan akhirnya ke arahku. Tidak ada kebencian di matanya, hanya kekosongan yang dalam. Dia tahu. Selama ini dia tahu, tapi dia memilih bungkam dalam sangkar emasnya.
"Adrian Baskara," suara Pak Handoko menggelegar, meredam segala kebisingan. "Atas dasar bukti-bukti ini, dewan memutuskan untuk menonaktifkan Anda dari jabatan CEO efektif segera, hingga penyelidikan internal dan kepolisian selesai dilakukan."
Dunia seolah melambat. Aku melihat Adrian yang perkasa itu luruh. Dia tidak jatuh tersungkur, tapi auranya yang mengintimidasi lenyap, menyisakan seorang pria yang kalah dan terpojok. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikanβantara benci, obsesi yang tak kunjung padam, dan mungkin, sebuah pengakuan kalah.
Aku tidak menunggu lebih lama lagi. Aku mengambil tas sandangku, berbalik, dan melangkah keluar dari ruangan itu. Setiap langkah yang kuambil terasa seperti beban ribuan ton yang terangkat dari bahuku. Sepatu hak tinggiku berbunyi ritmis di atas lant** marmer lobi, sebuah melodi kebebasan yang sudah lama kurindukan.
Di luar gedung, udara Jakarta yang panas dan penuh polusi justru terasa begitu segar saat menyentuh wajahku. Matahari menyengat kulitku, tapi aku tidak peduli. Aku mengeluarkan ponsel dari saku, melepas kartu SIM-nya, dan mematahkannya menjadi dua sebelum membuangnya ke tempat sampah di pinggir jalan.
Aku berjalan menuju halte bus, bergabung dengan kerumunan orang-orang biasa. Aku bukan lagi 'properti' milik Adrian Baskara. Aku bukan lagi mahasiswi magang yang ketakutan. Aku hanyalah Selly, seorang wanita yang baru saja membakar jembatan di belakangnya agar tidak ada lagi jalan untuk kembali ke neraka itu.
Saat bus datang dan aku melangkah ma**k, aku merasakan getaran aneh di dadaku. Sebuah ketakutan baru muncul, namun kali ini berbeda. Ini bukan ketakutan pada Adrian, melainkan ketakutan pada ketidakpastian masa depan yang kini sepenuhnya berada di tanganku.
Aku duduk di dekat jendela, melihat gedung pencakar langit Baskara Group menjauh dan mengecil di cakrawala. Namun, di tengah rasa lega itu, sebuah bayangan melintas di benakku. Wajah Adrian yang terakhir kali kulihat di ruang rapat tadi tidak tampak seperti pria yang akan menyerah begitu saja. Dia adalah predator, dan predator tidak akan pernah membiarkan mangsanya pergi tanpa meninggalkan bekas luka yang permanen.
Bus terus melaju, membawaku menuju terminal keberangkatan luar kota. Aku sudah memesan tiket kereta api dengan nama samaran. Namun, tepat saat bus berhenti di lampu merah, sebuah mobil hitam dengan kaca gelap berhenti tepat di samping jendela tempatku duduk. Jantungku mencelos. Kaca mobil itu perlahan turun, dan meski aku tidak bisa melihat siapa yang ada di dalamnya, aku merasakan sepasang mata yang sangat kukenal sedang mengawasiku dari kegelapan kabin mobil tersebut.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!