The CEO's Price: Bound by a Secret

Bab 3: Bab 3 - Membaca det**l kontrak yang disodorkan Adrian

Pengaturan Membaca

Udara di dalam ruangan luas ini terasa begitu tipis, seolah-olah Adrian Baskara baru saja menyedot seluruh oksigen keluar melalui ventilasi tersembunyi. Aku duduk di kursi kulit yang dingin, sementara sebuah map hitam elegan tergeletak di atas meja m***ni di depanku. Map itu tampak tidak berbahaya, namun aku tahu di dalamnya terdapat jaring laba-laba yang siap melilitku hingga mati lemas.

"Baca setiap barisnya, Selly. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman di kemudian hari," suara Adrian memecah keheningan. Ia berdiri di dekat jendela besar yang menghadap cakrawala kota, membelakangiku. Bayangannya yang tinggi dan tegap terpantul di kaca, menciptakan kesan sosok raksasa yang mendominasi duniaku yang kecil.

Tanganku gemetar saat membuka lembaran pertama. Bunyi gesekan kertas terasa nyaring di telingaku yang berdengung. Awalnya, semuanya tampak seperti dokumen hukum standar. Kerahasiaan ketat mengenai apa yang kulihat di ruangan ini kemarin, denda miliaran rupiah jika aku membocorkannya, dan komitmen untuk menjaga reputasi Baskara Group.

Namun, saat mataku mencapai halaman ketiga, jantungku seakan berhenti berdetak.

*Pasal 7: Layanan Khusus dan Kompensasi Tambahan.*

Aku mengerutkan kening, mencoba mencerna kalimat-kalimat yang disusun dengan bahasa hukum yang rapi namun mematikan. *Pihak Kedua bersedia memenuhi permintaan Pihak Pertama di luar jam kantor profesional... Pihak Kedua wajib hadir dalam setiap acara pribadi yang ditentukan oleh Pihak Pertama... Pihak Kedua dilarang menjalin hubungan romantis dengan pihak luar selama kontrak berlangsung...*

"Apa ini?" suaraku keluar sebagai bisikan yang serak. Aku menunjuk paragraf yang baru saja kubaca.

Adrian berbalik perlahan. Ia berjalan mendekat, setiap langkah sepatunya di atas lant** marmer terdengar seperti detak jam menuju eksekusi. Ia berhenti tepat di depan meja, menumpukan kedua tangannya di permukaan kayu, mencondongkan tubuh ke arahku hingga aku bisa mencium aroma *sandalwood* dan maskulin yang memabukkan sekaligus mengancam.

"Itu adalah harga untuk kebisuanmu, dan juga solusi untuk masalahmu," ucapnya pelan. Matanya yang gelap mengunci pandanganku, tajam dan tanpa ampun.

"Layanan khusus? Ini tidak terdengar seperti magang, Tuan Baskara. Ini terdengar seperti..." Kata itu tertahan di tenggorokanku. Aku tidak sanggup mengucapkannya.

"Seperti apa? Perbudakan? Jangan terlalu dramatis," Adrian menarik sudut bibirnya, sebuah senyum tipis yang sama sekali tidak mencapai matanya yang dingin. "Lihat lampiran terakhir. Bagian nilai kompensasi."

Aku membalik halaman itu dengan gerakan kaku. Mataku membelalak melihat angka yang tertera di sana. Sebuah nominal dengan deretan angka nol yang begitu banyak sehingga kepalaku terasa pening. Itu bukan sekadar uang saku magang. Itu adalah jumlah yang c**up untuk melunasi seluruh utang pengobatan ibuku di rumah sakit, membayar tunggakan kuliahku, dan menjamin kehidupan yang layak bagi keluargaku selama bertahun-tahun ke depan.

"Kau cerdas, Selly. Aku sudah melihat profilmu. Mahasiswi berprestasi, pekerja keras, tapi sayangnya... terjepit keadaan ekonomi," Adrian berbisik, suaranya kini terdengar hampir lembut, penuh empati palsu yang manipulatif. "Kau butuh uang itu. Dan aku butuh seseorang yang bisa kupercaya untuk berada di bawah kendaliku sepenuhnya. Seseorang yang tidak punya pilihan selain patuh."

"Anda ingin membeliku," tuduhku, suaraku sedikit lebih kuat sekarang karena amarah mulai membakar rasa takutku.

Adrian berdiri tegak kembali, merapikan jasnya yang tanpa cela. "Aku lebih suka menyebutnya sebagai investasi jangka panjang. Kau mendapatkan masa depanmu kembali, dan aku mendapatkan... kenyamanan yang aku inginkan."

Ia mengambil sebuah pulpen *fount**n* perak dari saku jasnya dan meletakkannya di atas kontrak itu. Pulpen itu berkilau tertimpa cahaya lampu ruangan, tampak seperti belati yang siap menghujam.

"Pikirkan ibumu, Selly. Bayangkan jika besok rumah sakit meneleponmu dan mengatakan mereka tidak bisa lagi melanjutkan perawatan karena tunggakan yang menumpuk. Bayangkan jika mimpimu menjadi sarjana hancur hanya karena kau terlalu idealis hari ini."

Kata-katanya menghujam tepat di ulu hati. Bayangan wajah lelah ibuku dan tagihan medis yang menumpuk di meja makan kontrakan kami menyerbu pikiranku. Adrian tahu persis di mana titik lemahku. Dia tidak hanya mengamati kinerjaku sebagai pemagang; dia telah menguliti seluruh hidupku.

"Apa yang sebenarnya Anda inginkan dariku dalam 'layanan khusus' ini?" tanyaku, jemariku meremas pinggiran kursi hingga buku-buku jarinya memucat.

Adrian berjalan memutar, berhenti tepat di belakang kursiku. Aku bisa merasakan napas hangatnya di dekat telingaku, membuat bulu kudukku berdiri.

"Segalanya," bisiknya rendah. "Aku ingin waktumu, perhatianmu, dan setiap jengkal kesetiaanmu. Kau akan menjadi bayanganku. Kau akan pergi ke mana pun aku pergi, melakukan apa pun yang kupinta, tanpa pertanyaan. Terma**k hal-hal yang mungkin tidak akan disukai oleh istriku jika dia tahu."

Tangannya perlahan turun, menyentuh pundakku dengan tekanan yang ringan namun posesif. Sentuhan itu membuatku ingin melompat lari, namun di saat yang sama, ada getaran aneh yang menjalar di tulang belakangkuβ€”sebuah rasa ngeri yang bercampur dengan ketertarikan yang mengerikan.

"Tanda tangani, Selly. Dan beban di pundakmu akan hilang dalam semalam," bujuknya lagi, suaranya bagaikan nyanyian sirene yang menyeretku ke dasar laut.

Aku menatap pulpen perak itu. Di satu sisi, ada kehormatan dan kebebasanku. Di sisi lain, ada keselamatan keluargaku dan masa depanku yang selama ini kuperjuangkan dengan berdarah-darah. Aku tahu, jika aku menandatangani ini, aku bukan lagi Selly sang mahasiswi ambisius. Aku akan menjadi milik Adrian Baskara.

Jemariku perlahan meraih pulpen itu. Dinginnya logam terasa membekukan kulitku. Aku menunduk, menatap garis kosong di bawah namanya yang sudah tertera dengan gagah di sana.

Baru saja ujung pulpenku menyentuh kertas, pintu ruangan tiba-tiba terbuka tanpa ketukan.

"Adrian, kau masih di dalam? Kita sudah terlambat untuk jamuan makan malam dengan keluarga besar," sebuah suara wanita yang dingin dan anggun terdengar dari ambang pintu.

Aku tersentak dan menjatuhkan pulpen itu. Bianca Baskara berdiri di sana, menatap kami dengan mata sipit yang penuh selidik. Atmosfer di ruangan itu berubah seketika, dari panas yang menyesakkan menjadi dingin yang menusuk tulang. Adrian tidak melepaskan tangannya dari bahuku dengan terburu-buru; ia melakukannya dengan sangat perlahan, seolah-olah sengaja ingin memamerkan posisinya di depanku.

Mata Bianca beralih dari suaminya ke arahku, lalu turun ke map hitam yang terbuka di atas meja. Keheningan yang terjadi selanjutnya jauh lebih berbahaya daripada ancaman Adrian sebelumnya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca