Cangkir kopi porselen di tanganku sudah mendingin, menyisakan cairan hitam pekat yang memantulkan bayangan wajahku sendiri. Aku memutar kursi eksekutifku, menghadap jendela kaca raksasa yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta dari lant** lima puluh. Di luar sana, orang-orang merayap seperti semut, tidak sadar bahwa satu keputusan dariku bisa mengubah hidup mereka dalam semalam.
Namun, pikiranku tidak tertuju pada saham yang fluktuatif atau laporan keuangan kuartal ini. Pikiranku tertuju pada satu nama: Selly.
Suara ketukan pintu yang ragu-ragu memecah keheningan ruang kerjaku. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Ritme ketukannya, jeda napas yang tertahan di balik pintu kayu m***ni itu—semuanya sudah mulai terekam dalam ingatanku.
"Ma**k," kataku pendek. Suaraku terdengar lebih berat dari biasanya.
Pintu terbuka pelan. Selly melangkah ma**k dengan bahu yang sedikit merosot, seolah-olah berat beban dunia sedang menekan punggungnya. Ia mengenakan kemeja putih yang disetrika rapi dan rok pensil hitam—seragam magang yang membuatnya tampak seperti domba kecil yang tersesat di kandang serigala. Matanya, yang biasanya tajam dan penuh observasi, kini menunduk, menghindari tatapanku.
"Anda memanggil saya, Pak Adrian?" suaranya lirih, hampir berupa bisikan.
Aku memutar kursiku perlahan. Aku membiarkan keheningan menggantung di antara kami selama beberapa detik, menikmati ketidaknyamanannya. Aku bisa melihat detak jantungnya yang cepat dari balik urat nadi di lehernya yang jenjang.
"Duduk, Selly," perintahku sambil menunjuk kursi di depanku.
Ia duduk, namun hanya di ujung kursi, siap untuk lari kapan saja. Aku mencondongkan tubuh ke depan, meletakkan kedua lenganku di atas meja kaca yang dingin. "Kau sudah membaca dokumen tambahan yang dikirimkan pengacaraku pagi ini?"
Selly mengangguk pelan. "Mengenai klausul eksklusivitas waktu... Pak, saya masih punya kuliah dan—"
"Dan aku punya reputasi yang harus dijaga," potongku tajam. Aku bangkit dari kursi, melangkah memutari meja hingga berdiri tepat di sampingnya. Aroma parfum lembutnya—campuran sabun murah dan sesuatu yang manis seperti vanila—mulai memenuhi indra penciumanku. Itu adalah aroma yang mengganggu, terlalu polos untuk ruangan yang penuh dengan dosa ini. "Perjanjian itu bukan sekadar formalitas. Itu adalah a**ransiku. Kau menyaksikan sesuatu yang tidak seharusnya kau lihat. Dalam duniaku, saksi yang tidak bisa dikendalikan adalah liabilitas."
Aku menyentuh sandaran kursinya, membuat Selly tersentak kecil. "Aku tahu tentang cicilan rumah ibumu yang menunggak tiga bulan. Aku juga tahu tentang biaya pengobatan adikmu."
Selly mendongak tiba-tiba. Matanya berkaca-kaca, namun ada api kemarahan di sana. "Anda memata-mat** saya? Itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya di sini!"
Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai mataku. Aku menikmati percikan perlawanan itu. "Segala sesuatu tentangmu adalah urusanku sekarang, Selly. Kau ingin menjadi wanita karier yang sukses, bukan? Baskara Group bisa memberimu segalanya. Jabatan, uang, keamanan. Harganya hanya satu: kepatuhanmu."
Aku mengulurkan tangan, jemariku menyisir sehelai rambut yang jatuh menutupi wajahnya. Ia membeku. Kulitnya terasa sangat halus, kontras dengan hatiku yang sudah lama mengeras. Seharusnya aku hanya merasa lega karena telah mengamankan rahasia intimku—kejadian memalukan yang ia lihat minggu lalu—namun ada sesuatu yang lain. Ada dorongan gelap di bawah permukaan kesadaranku yang ingin melihat sejauh mana gadis ini akan membungkuk sebelum ia benar-benar patah.
Ketertarikan ini salah. Ia adalah ancaman, sebuah kerikil dalam sepatuku yang seharusnya kubuang. Namun, melihatnya gemetar di bawah kendaliku memberikan sensasi yang lebih candu daripada kesepakatan bisnis bernilai miliaran.
"Jangan pernah berpikir untuk menghindar dariku, atau menceritakan apa yang kau lihat pada siapa pun. Terutama pada istriku, Bianca," bisikku tepat di telinganya. Aku bisa merasakan bulu kuduknya berdiri. "Bianca tidak selembut penampilannya. Jika dia tahu kau terlibat dalam 'rahasiaku', dia tidak akan menghancurkan kariermu. Dia akan menghancurkan hidupmu."
Selly menelan ludah dengan susah payah. "Saya mengerti, Pak."
"Bagus." Aku menarik diri, namun mataku tetap terpaku pada bibirnya yang bergetar. "Sekarang, ambil berkas ini. Antarkan ke unit apartemenku di District 8 malam ini pukul sembilan. Ada dokumen yang harus kau verifikasi secara pribadi di sana."
"Malam ini? Tapi, Pak, itu di luar jam kantor..."
Aku mengangkat alis, memberinya tatapan dingin yang langsung membungkam protesnya. "Klausul nomor empat, Selly. Waktumu adalah milikku. Ingat?"
Selly mengambil berkas itu dengan tangan gemetar. Ia berdiri, bergegas menuju pintu seolah-olah oksigen di ruangan ini sudah habis. Saat tangannya menyentuh gagang pintu, aku memanggilnya sekali lagi.
"Selly?"
Ia menoleh, wajahnya pucat pasi.
"Pakai gaun yang kukirimkan ke lokermu sore ini. Aku tidak suka melihat asistenku terlihat... biasa saja di tempat pribadiku."
Ia tidak menjawab, hanya mengangguk singkat lalu menghilang di balik pintu.
Aku kembali ke kursi kerjaku, menyandarkan kepala sambil memejamkan mata. Bayangan ketakutan di mata Selly bercampur dengan aroma vanilanya terus menghantuiku. Aku tahu aku sedang bermain api. Melibatkan emosi—atau lebih buruk lagi, obsesi—pada seseorang seperti Selly adalah tindakan bodoh. Namun, saat ini, aku tidak peduli pada logika.
Ponselku bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat dari Bianca: *'Aku akan pulang terlambat, ada jamuan makan malam dengan yayasan. Jangan lupa minum obatmu, Adrian.'*
Aku melempar ponsel itu ke sofa. Istriku yang dingin dan penuh rahasia, dan mahasiswi magang yang kini menjadi tawanan rahasiaku. Permainan ini baru saja dimulai, dan aku tidak berencana untuk kalah. Namun, saat aku membayangkan Selly berdiri di apartemenku malam ini, ada getaran aneh yang tidak bisa kujelaskan—sebuah rasa lapar yang melampaui sekadar kebutuhan untuk membungkam seorang saksi.
Aku menginginkannya lebih dari sekadar kontrak kerahasiaan ini, dan itu adalah masalah yang jauh lebih berbahaya daripada rahasia apa pun yang aku sembunyikan.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!