Lampu-lampu kota Jakarta yang berkilauan di bawah sana terlihat seperti hamparan berlian yang berserakan, namun bagiku, pemandangan dari lant** empat puluh apartemen *The Penthouse* ini lebih terasa seperti jeruji besi yang berlapis emas. Aku meremas tali tas selempangku hingga buku-buku jariku memutih. Udara di lorong ini begitu sunyi, hanya deru halus pendingin ruangan pusat yang menyapa telingaku.
Kartu akses di tanganku terasa berat, seolah benda plastik itu memiliki beban moral yang sanggup meremukkan tulangku. Dengan tangan gemetar, aku menempelkan kartu itu ke sensor pintu. Bunyi *klik* pelan bergema, diikuti oleh pintu berat yang terbuka dengan mulus.
Aku melangkah ma**k, dan seketika aroma maskulin yang khas—campuran kayu cendana dan aroma *espresso* yang mahal—menyerbu indra penciumanku. Apartemen ini adalah definisi dari kemewahan yang dingin. Minimalis, didominasi warna abu-abu arang dan marmer hitam, mencerminkan sisi gelap pemiliknya yang tak pernah ia tunjukkan di depan media.
"Kau terlambat tujuh menit, Selly."
Suara bariton itu berasal dari balkon yang terbuka. Adrian Baskara berdiri di sana, hanya mengenakan kemeja putih dengan dua kancing teratas terbuka dan lengan yang digulung hingga siku. Ia tidak menoleh, tetap menatap cakrawala malam dengan segelas cairan amber di tangannya.
"Maaf, Pak. Jalanan macet dan saya harus memastikan Ibu sudah meminum obatnya sebelum saya pergi," jawabku dengan suara yang sebisa mungkin kutahan agar tidak bergetar.
Adrian berbalik perlahan. Cahaya remang dari lampu gantung kristal di ruang tamu menyinari separuh wajahnya, menciptakan bayangan tajam pada rahangnya yang kokoh. Ia berjalan mendekat, langkah kakinya tidak bersuara di atas karpet tebal. Setiap langkahnya membuat dadaku semakin sesak.
"Alasan yang mulia," ucapnya pelan, kini ia berdiri tepat di depanku. Ia jauh lebih tinggi dariku, memaksaku untuk mendongak jika ingin menatap matanya. "Tapi di dunia saya, alasan adalah bentuk lain dari kegagalan. Kau ingat perjanjian kita, bukan? Kau adalah asisten pribadiku. Kapan pun. Di mana pun."
"Saya ingat," bisikku, mengalihkan pandangan ke simpul dasinya yang longgar di atas meja.
"Bagus. Sekarang, laksanakan tugas pertamamu." Ia mengulurkan gelasnya yang kosong padaku. "Tuangkan lagi. Dan setelah itu, rapikan dokumen-dokumen di meja kerja di dalam. Ada beberapa berkas yang harus ditandatangani malam ini, dan aku ingin kau membacakannya untukku selagi aku bersant**."
Aku menerima gelas itu, ujung jariku tak sengaja bersentuhan dengan kulit tangannya yang hangat. Sengatan listrik aneh menjalar ke lengan atas, membuatku tersentak kecil. Adrian menyadarinya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang tampak meremehkan.
Aku bergerak menuju bar kecil di sudut ruangan, mencoba fokus pada tugas sederhana itu. Tanganku masih gemetar saat menuangkan wiski ke dalam gelas kristal. Aku benci betapa dominannya pria ini. Aku benci bagaimana ia menggunakan masalah finansial keluargaku sebagai tali untuk menjerat leherku. Namun, di saat yang sama, ada bagian dari diriku—bagian yang paling gelap dan paling kupendam—yang merasa terhipnotis oleh kehadirannya.
Setelah menyerahkan minumannya, aku melangkah menuju ruang kerja yang berada di balik pintu kaca buram. Ruangan itu penuh dengan tumpukan map yang tampak asing. Aku mulai menyusunnya, mengategorikan berkas berdasarkan prioritas sesuai instruksinya tadi.
Tiba-tiba, aku merasakan kehadiran seseorang di belakangku. Hawa panas terpancar dari tubuhnya sebelum ia sempat menyentuhku.
"Apa kau sudah menemukan berkas tentang akuisisi proyek di Surabaya?" bisiknya tepat di telingaku.
Aku tersentak dan berbalik dengan cepat, hanya untuk menyadari bahwa gerakanku justru membuat jarak di antara kami menghilang. Punggungku terbentur tepian meja kerja yang keras, sementara Adrian mengurungku dengan kedua tangannya yang bertumpu di sisi meja.
"P-Pak Adrian... berkasnya ada di bawah map hijau ini," kataku terbata-bata. Napasku mulai pendek. Jantungku berdegup sangat kencang hingga aku takut ia bisa mendengarnya.
Adrian tidak melihat ke arah berkas. Matanya yang tajam seperti elang terkunci pada bibirku, lalu perlahan naik ke mataku. "Kau tampak ketakutan, Selly. Padahal aku belum melakukan apa pun padamu."
"Ini bukan bagian dari pekerjaan asisten," protesku, meski suaraku terdengar lebih seperti rintihan daripada keberatan.
"Benarkah?" Ia memajukan wajahnya, hanya menyisakan jarak beberapa sentimeter. Aku bisa mencium aroma alkohol dan mint dari napasnya. "Bukankah kau setuju untuk melakukan apa pun demi menjaga rahasiamu? Demi beasiswamu? Demi ibumu?"
Satu tangannya bergerak naik, jemarinya yang panjang mengelus garis rahangku dengan lembut, namun terasa seperti ancaman yang nyata. Aku seharusnya mendorongnya. Aku seharusnya berteriak dan lari dari tempat terkutuk ini. Tapi tubuhku terasa lumpuh. Ada sebuah tarikan magnetis yang mengerikan, sebuah gairah terlarang yang mulai mengaburkan logika sehatku.
Saat jemarinya menyentuh leherku dan menetap di sana, merasakan denyut nadiku yang liar, Adrian berbisik lagi, suaranya kini lebih rendah dan serak.
"Kau membenciku, Selly. Aku bisa melihatnya di matamu. Tapi tubuhmu... tubuhmu tidak bisa berbohong."
Ia semakin mendekat, bibirnya hampir menyentuh telingaku ketika tiba-tiba ponselnya yang berada di atas meja bergetar hebat. Nama yang muncul di layar membuat seluruh atmosfer panas di ruangan itu seketika membeku.
*Bianca.*
Istrinya.
Adrian menjauh dariku seolah tidak terjadi apa-apa, wajahnya kembali menjadi topeng dingin yang tak terbaca. Ia mengambil ponselnya, menatap layar itu sejenak sebelum melirikku dengan tatapan yang penuh peringatan.
"Selesaikan pekerjaanmu. Jangan pergi sebelum aku selesai bicara dengan istriku," perintahnya dingin sebelum melangkah keluar dari ruang kerja, meninggalkanku yang masih gemetar dengan lutut lemas.
Aku mencengkeram pinggiran meja, berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin. Aku baru saja menyadari bahwa aku bukan hanya terjebak dalam sebuah perjanjian hukum. Aku sedang ma**k ke dalam sebuah permainan yang jauh lebih berbahaya, di mana satu kesalahan kecil bukan hanya akan menghancurkan karierku, tapi juga seluruh hidupku. Dan yang paling menakutkan adalah, aku mulai meragukan apakah aku benar-benar ingin melarikan diri atau justru ingin tersesat lebih dalam di dalamnya.
Pintu ruang kerja tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan aku dalam kegelapan pikiran yang mulai meracuni kewarasanku. Di luar, aku bisa mendengar suara Adrian yang tenang dan penuh kasih saat menjawab telepon istrinya—sebuah kontras yang mengerikan dengan pria yang baru saja menyudutkanku di meja ini.
Aku tahu, mulai malam ini, tidak ada jalan kembali.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!