Suara ketikan keyboard yang monoton di lant** tiga puluh lima Baskara Group biasanya menjadi musik latar yang menenangkan bagi Selly. Namun pagi ini, bunyi itu terdengar seperti detak jam bom waktu yang siap meledak. Ia menatap layar monitornya dengan mata lelah, berusaha fokus pada tabel Excel berisi data inventaris logistik, meski pikirannya terus melayang pada map hitam yang ia tanda tangani kemarin di ruangan Adrian Baskara.
"Perjanjian Kerahasiaan." Selly membatin istilah itu berkali-kali, merasakannya seperti jerat tak kasatmata yang melilit lehernya.
Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan mengamati sekeliling. Kantor pusat ini adalah representasi sempurna dari kekuasaan: minimalis, didominasi warna abu-abu baja dan kaca, serta aroma kopi mahal yang bercampur dengan wangi pengharum ruangan maskulin. Para karyawan bergerak dengan ritme yang cepat dan efisien, seolah-olah setiap detik yang mereka lewatkan adalah kerugian jutaan rupiah bagi perusahaan.
"Selly, bisa bantu saya fotokopi dokumen ini?" Suara Mira, senior di departemen humas, membuyarkan lamunannya.
Selly tersenyum tipis, sebuah topeng yang ia latih sejak tadi malam di depan cermin. "Tentu, Mbak Mira. Sebanyak berapa rangkap?"
"Tiga saja. Setelah itu, tolong antarkan ke ruang rapat mawar di sayap kanan. Ada tamu penting hari ini."
Selly mengangguk patuh. Ia berjalan menuju mesin fotokopi yang terletak di sudut ruangan, dekat dengan koridor menuju lift eksekutif. Saat ia menunggu mesin itu bekerja, ia memperhatikan pantulan dirinya di dinding kaca. Kemeja putihnya yang disetrika rapi dan rok sepan hitamnya membuatnya tampak seperti mahasiswi magang yang teladan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik penampilan polos itu, ia menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan karir Adrianβatau nyawanya sendiri.
Pintu lift eksekutif berdenting terbuka.
Langkah kaki yang tegas dan berirama khas sepatu hak tinggi mahal bergema di lant** marmer. Selly secara otomatis menoleh, dan seketika itu juga, udara di paru-parunya seolah tersedot keluar.
Seorang wanita berjalan ma**k dengan keanggunan yang mengintimidasi. Ia mengenakan setelan blazer sutra berwarna merah marun yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Rambut hitamnya disanggul rapi tanpa cela, dan wajahnya memiliki kecantikan yang dingin, seperti patung pualam yang dipahat dengan presisi yang kejam.
Itu adalah Bianca Baskara. Sang ratu di istana ini.
Seluruh ruangan mendadak hening. Para karyawan yang tadinya sibuk berdiskusi kecil segera berdiri atau setidaknya memperbaiki posisi duduk mereka dengan sikap hormat yang kaku. Selly terpaku di depan mesin fotokopi, memegang tumpukan kertas yang masih hangat.
Bianca tidak langsung menuju ruang Adrian. Langkahnya melambat saat ia melewati deretan meja staf magang. Matanya yang tajam, dilapisi maskara yang sempurna, menyapu ruangan seolah sedang memeriksa debu di atas perabotan mahal. Lalu, sepasang mata itu berhenti tepat pada Selly.
Selly menundukkan kepala, mencoba bersikap tidak mencolok. Namun, langkah sepatu hak tinggi itu justru mendekat ke arahnya.
"Kamu," suara Bianca rendah, namun memiliki resonansi yang mampu membuat bulu kuduk berdiri. "Anak magang baru?"
Selly memberanikan diri untuk mendongak, berusaha menjaga agar tangannya tidak gemetar. "I-iya, Bu. Nama saya Selly."
Bianca tidak langsung menyahut. Ia berdiri hanya setengah meter dari Selly, aroma parfum *floral-woody* yang berat menyengat indra penciuman Selly. Bianca menatap Selly dari ujung rambut hingga ujung kaki, sebuah tatapan evaluatif yang membuat Selly merasa te******* dan tidak berarti.
"Selly," Bianca mengulang nama itu, merasakannya di lidahnya seolah sedang mencicipi anggur yang mungkin saja sudah basi. Tangan Bianca yang dihiasi cincin berlian besar terangkat, jemarinya yang lentik merapikan kerah kemeja Selly yang sebenarnya sudah sangat rapi. "Adrian bercerita bahwa dia menemukan 'potensi' besar dalam dirimu."
Jantung Selly berdegup kencang hingga ia takut Bianca bisa mendengarnya. Apa yang Adrian katakan pada istrinya? Apakah pria itu sengaja memancing kecurigaan?
"Saya hanya berusaha melakukan tugas saya sebaik mungkin, Bu," jawab Selly dengan suara yang ia usahakan tetap stabil.
Bianca tersenyum, tapi senyum itu tidak mencapai matanya yang tetap sedingin es. "Tentu saja. Semua orang di sini mengatakan hal yang sama. Tapi ingat satu hal, Selly... di perusahaan ini, batas antara 'potensi' dan 'ancaman' itu sangat tipis. Kamu terlihat cerdas. C**up cerdas untuk tahu posisi kamu, bukan?"
Selly merasakan intimidasi yang nyata. Tatapan Bianca bukan sekadar tatapan istri yang cemburu; itu adalah tatapan seorang penguasa yang sedang menandai wilayahnya. Bianca seolah bisa mencium bau ketakutan dan rahasia yang disembunyikan Selly di balik lapisan kulitnya.
"Saya tahu posisi saya, Bu," bisik Selly.
Bianca melepaskan tangannya dari kerah kemeja Selly, lalu menepuk bahu gadis itu dua kali dengan gerakan yang lebih mirip ancaman daripada dorongan semangat. "Bagus. Karena suamiku... dia terkadang suka mengoleksi hal-hal indah yang sebenarnya tidak dia butuhkan. Dan biasanya, hal-hal itu berakhir di tempat sampah saat dia bosan."
Tanpa menunggu jawaban, Bianca berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju ruangan Adrian. Kepergiannya meninggalkan keheningan yang mencekam di area kerja Selly. Beberapa karyawan lain mulai berbisik-bisik, melirik Selly dengan tatapan kasihan sekaligus penuh selidik.
Selly kembali menatap mesin fotokopi yang telah selesai bekerja. Kertas-kertas di tangannya kini terasa berat seperti timah. Ia menyadari satu hal yang jauh lebih berbahaya daripada kontrak yang ia tanda tangani kemarin: Adrian Baskara mungkin adalah i**** yang mengikatnya, tapi Bianca Baskara adalah pemangsa yang siap menerkamnya jika ia membuat satu kesalahan kecil saja.
Saat Selly hendak membawa dokumen ke ruang rapat, ponsel di saku roknya bergetar. Sebuah pesan singkat ma**k dari nomor yang tidak ia kenal, namun ia tahu siapa pengirimnya.
*Ke ruanganku sekarang. Bianca sudah pergi, dan kita punya urusan yang belum selesai.*
Selly menatap pintu ruangan Adrian di ujung lorong. Di sana, Bianca baru saja keluar dengan wajah datar, namun sebelum wanita itu menghilang di balik lift, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah Selly, memberikan sebuah tatapan yang seolah berkata: *Aku mengawasimu.*
Selly kini terjepit di antara dua kekuatan yang bisa menghancurkannya kapan saja. Ia menarik napas panjang, meremas jemarinya yang dingin, dan mulai melangkah menuju ruangan sang CEO. Namun, kali ini, ia melihat sesuatu yang tertinggal di lant**, tepat di tempat Bianca berdiri tadiβsebuah kartu akses berwarna emas yang terjatuh.
Selly memungut kartu itu. Di baliknya tertulis sebuah label kecil: *Lant** Basement 3 - Arsip Rahasia.*
Darah Selly berdesir. Apakah ini sebuah ketidaksengajaan, ataukah sebuah jebakan yang dipasang dengan sengaja oleh sang istri CEO?
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!